
"Maaf menggangu kenyamanannya Tuan Muda," ujar Ando.
Andira mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara itu,ia spontan berdiri dari duduknya saking terkejutnya melihat Ando.
"Kamu!" Tunjuknya Andira yang langsung ingin muntah saat itu juga karena tiba-tiba kepalanya pusing dalam sekejap.
Oek… owek…
Carlando Orlando Rolando hanya terdiam tanpa ada perubahan ekspresi dari raut wajahnya.
"Ke-na-pa ka-mu bi-sa a-da di si-ni?" Gagapnya Arinda Farhana Albert yang terkejut melihat pria itu.
Perasaan yang dirasakan yang begitu tiba-tiba datangnya dirasakan oleh Arinda begitu cepat. Kepalanya langsung pusing, puyeng dan rasanya ingin muntah saja.
Owek… oek…
Arinda segera berlari ke arah westafel yang tidak jauh dari ruangan meja makan tersebut. Arinda terus memuntahkan seluruh isi perutnya yang baru saja ia makan. Tatapan matanya Ando terus tertuju pada gadis one night standnya itu.
Bayangan kejadian beberapa minggu yang lalu menari-nari di ujung pelupuk matanya. Hingga air matanya menetes dengan tangannya mengepal kuat.
"Ya Allah… apa yang terjadi padaku? Semoga saja aku tidak hamil, jika aku hamil kedua orang tuaku dan kedua aunty dan uncle akan ikut terseret dalam pusara rasa malu yang timbul akibat dari kesalahan dan khilafku," bathinnya Arinda seraya diam-diam menyeka air matanya yang mewakili perasaannya saat itu.
Bu Liviana segera menyusul keponakannya itu lalu memerintahkan kepada para asisten rumah tangganya untuk mengambil botol minyak kayu putih aroma terapi untuk membantu meredakan rasa mual ditubuhnya Arinda adik dari kakaknya itu.
"Apa yang terjadi padamu Nak? Kamu baru makan beberapa suap sudah muntah, apa asam lambungmu naik lagi?" Bu Liviana memijit tengkuk lehernya Arinda.
"Iya aunty mungkin karena aku jarang makan tepat waktu saja sehingga sakit magku kambuh lagi," kilahnya Arinda yang tidak mungkin akan berbicara jujur pada semua orang.
"Semoga Aunty pijit seperti ini, tubuhmu agak baikan," imbuhnya Bu Livia.
"Sudah Aunty, tidak perlu memijitku lagi, saya sudah enakan kok," tukasnya Arinda Farhana.
__ADS_1
"Ando ayo kita keruangan pribadiku, maafkan sikap adik sepupuku mungkin karena kondisinya yang tidak stabil sehingga menunjuk kamu seperti itu," bujuknya Agam yang sebenarnya perhatian dengan kondisi adiknya itu.
Kedua pria dewasa itu berjalan ke arah ruangan khusus, tapi tatapan matanya terus tertuju pada Arinda.
"Saya harus segera mengecek langsung dengan alat khusus tespack, jika tidak saya tidak bisa ngambil keputusan dan juga sikap apa yang akan saya lakukan," gumamnya Arinda yang sudah sedikit baikan setelah Ando tidak ada lagi di dalam satu ruangan yang sama dengannya.
"Gimana Nak,apa kamu sudah mendingan? Atau gimana kalau kita ke dokter saja untuk memeriksakan kondisi kesehatanmu ini," usulnya Bu Livia
"Tidak apa-apa kok Aunty, aunty tidak perlu repot-repot insya Allah… setelah rebahan beberapa saat aku akan membaik," tolaknya Arinda secara halus bantuan dari adik dari maminya itu.
Arinda segera berjalan sempoyongan ke arah lantai dua," Mbak Arin tunggu, aku akan bantu Mbak," teriaknya Amarah Meylani Ramadhani yang sebenarnya ingin bertemu dengan Ando pria yang sejak dulu dia sayangi.
Bu Liviana memandang lekat punggung ke dua anaknya itu dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.
"Ya Allah… kenapa feelingku mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada Arinda, semoga saja ini hanya sekedar firasat belaka tidak akan jadi kenyataan,"
Setelah kekacauan itu terjadi, beberapa jam kemudian sekitar jam tujuh malam rombongan keluarga besar Ariel sudah datang. Mereka disambut dengan hangat dan meriah.
Sebelumnya di perusahaan…
"Pak apa aku jugy harus hadir di acara lamaran itu?"
"Kamu wajib datang, berarti tidak boleh kamu tidak hadir di acara keluarga kami lagian tidak lama lagi, kamu akan menjadi bagian dari keluarga besar Alexander Mutahar," jelasnya Agam.
"Maksudnya Pak?"
"Nanti malam akan terjawab semuanya, jadi yang perlu kamu lakukan adalah persiapkan dirimu itu saja,"
Elsa Safira sudah duduk di salah satu sofa ruang tamu ditemani oleh Amarah Meylani Ramadhani yang raut wajahnya selalu ditekuk. Dia tidak ingin bertunangan dengan Ariel karena sudah ada Ando pria yang pernah menjadi tunangan dari saudari kembarnya itu.
Tapi, sekitar tiga jam yang lalu Amarah menemui Ando yang kebetulan berada di rumahnya juga.
__ADS_1
"Abang Ando,apa boleh kita bicara sebenta?" Tawarnya Amarah ketika berhasil mengejar Ando yang sudah memegang pintu mobilnya itu.
Ando hanya menatap nyalang ke arahnya Amarah yang langsung berjalan ke arah sebuah taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Katakan apa yang ingin ucapkan karena, waktuku tidak banyak," ketusnya Ando.
Tanpa basa-basi Amarah langsung memeluk tubuhnya Ando dengan erat. Ando yang diperlakukan seperti itu cukup terkejut dengan perlakuan yang diterimanya itu.
Ando berusaha melepaskan pegangan tangannya Amarah yang melingkar di pinggangnya itu.
"Tolong lepaskan! Saya tidak ingin ada orang lain yang melihat apa yang kamu lakukan dan membuat mereka salah paham," kesalnya Ando.
"Tapi Abang aku sangat mencintaimu sejak dulu bahkan sejak kita masih kecil dulu," terangnya Amarah.
Ando sangat terkejut mendengar perkataan dari mulutnya Amarah yang mengatakan jika dia mencintainya.
Ando hanya tersenyum sepele," maafkan saya tidak pernah memiliki rasa sedikitpun padamu, saya hanya menganggap kamu sebagai adikku sejak awal kita bertemu jadi hilangkan dan buang jauh-jauh pikiranmu itu karena aku tidak mungkin bisa membalas cinta dan perasaanmu padaku, lagian kamu juga akan menikah alangkah tidak masuk akalnya jika ada yang lihat kita dalam kondisi seperti ini!" Jelasnya Ando.
Apa yang mereka lakukan diam-diam dilihat oleh dua pasang mata yang tanpa sengaja memperhatikan mereka berdua.
"Ya Allah… apa Amarah mencintai pria itu sedangkan pria itu yang jelas-jelas telah menghancurkan masa depanku dan juga Amarah akan menikah dengan Ariel, apa yang terjadi sebenarnya hingga seperti ini," air matanya tak terbendung lagi hingga meneteskan air mata itu membasahi pipinya.
Air matanya luruh saking terkejutnya melihat kenyataan itu, sedangkan yang satunya mengeratkan kepalan tangannya.
"Saya tidak akan pernah membatalkan rencana pernikahan ini hingga kamu menjadi milikku seutuhnya, walaupun mungkin untuk saat ini cintamu untuk pria lain,"
"Tolong! Hentikan semuanya sebelum kamu menghancurkan dua keluarga lagian cintaku untuk perempuan lain, hapus obsesi dan hasratmu padaku, jika tidak kamu akan menderita selamanya sepanjang hidupmu!" Kesalnya Ando.
Amarah terduduk di atas kursi kayu yang ada di pojok taman. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi kisah cintanya pada pria yang dikaguminya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama itu.
Amarah menundukkan kepalanya karena tidak sanggup untuk melihat kepergian Ando. Dia tidak menduga jika cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan saja. Ia menyangka jika perhatian dan kasih sayang yang diberikan Ando padanya adalah antara pria dan wanita seperti layaknya sebuah pasangan. Ternyata itu hanya dugaan Amarah saja.
__ADS_1