
Waktu terus berlalu mengikuti alur alamiah yang sudah semestinya seperti biasanya, tanpa menunggu seseorang yang tetap meratapi kehidupanmu tanpa ada niat untuk berjuang keras merubah dan memperbaiki kehidupannya itu.
"Kalau gitu aku tutup yah telponnya, ingat hari sabtu pesawat kamu berangkat pagi jam delapan pagi, jangan sampai lupa, enggak enak kalau kamu juga nebeng sama anggota keluarganya Abang Agam ," ucapnya Elsa yang berdiri di balkon kamarnya sambil bertelponan dengan Dini anak dari sahabat papa dan mamanya.
"Iya Mbak, assalamualaikum,'
"Waalaikum salam."
Elsa merasakan ada keanehan ketika berbicara dengan Dini,tapi dia tidak ingin berpikiran negatif, ia berusaha untuk positif thinking saja.
Rombongan anggota keluarga besar Alexander Mutahar Lubis sudah bertolak ke Samarinda Kalimantan Timur. Agam uring-uringan karena sejak tadi pagi,ia tidak bisa berkomunikasi dengan calon istrinya itu, dikarenakan karena kesibukan Elsa Safira Nadine menjalani serangkaian rentetan adat istiadat pernikahan.
"Ya Allah… kenapa teleponku enggak diangkat sih, apa yang terjadi sebenarnya padanya," cicitnya Abdillah Abqari Agam yang duduk dengan gelisah di atas kursinya.
Aldian yang melihat kakak sepupunya itu, berniat untuk menjahili dan mengerjainya.
"Abang kok seperti cacing kepanasan saja gak bisa diam! Apa karena takut atau khawatir besok tidak bisa melafalkan ijab kabul?" Tanyanya Aldian.
"Iya nih calon mantennya sepertinya tidak bisa diam duduk dengan anteng gitu, tapi aku heran apa yang terjadi padanya seorang CEO besar harus panik dan kecemasan yang sangat sedang terjadi, apa karena belum hafal lafadz pernikahan?" Celetuknya Andira yang ikut dalam rombongan pernikahan tersebut awalnya tidak ada niat untuk ikut tapi, tidak ada alasan khusus untuk menolak walaupun dalam keadaan hamil.
Andira Farhana Albert semakin memanasi situasi yang ada.
"Mbak Andira apa kita perlu memberikan latihan khusus untuk Abang Agam gimana,' timpalnya Amarah Meylani Ramadhani yang duduk di sampingnya Andira.
Andira melirik sekilas ke arah Amarah adik sepupunya itu, dengan mengerutkan keningnya itu.
"Apa yang terjadi padanya? Apa dia sudah bisa menerima pernikahanku dengan Ando atau pikirannya sudah terbuka untuk berdamai dengan masa lalunya itu," batinnya Andira.
Amarah hanya tersenyum simpul ke arah Arinda, mereka saling kompak untuk mengerjai abangnya itu.
__ADS_1
"Apa!! Kalian berdua yang mau ajari saya, apa tidak salah tuh, emangnya kalian sudah pernah menikah sebelumnya? sampai-sampai sudah punya pengalaman untuk menikah!" Sarkas Agam.
"Waduh Abang jangan salah yah, kami ini sebentar lagi akan menikah jadi otomatis kami sudah mendapatkan pelatihan dari kantor kua, sekitar dua hari kami datang terus ke kantor KUA sedangkan Abang mana datang mana ada waktu luang, jadi kalau hanya masalah lafal nikah kami tahu sedikit lah," terangnya Amarah.
Perdebatan mereka terhenti ketika pesawat pribadi keluarga besar Agam sudah mendarat dengan selamat di bandara internasional.
"Ternyata Samarinda indah juga yah," pujinya Arinda ketika sudah menginjakkan kakinya di atas aspal Samarinda.
Carlando Arland Roland mengulurkan tangannya ke arah Arinda," mari ikut dengan Abang, kita naik mobil sendiri," pintanya Ando yang membuat Arinda terkejut dengan perlakuan istimewa dan romantis dari Ando yang tidak biasa.
Arinda menatap sepintas lalu ke arahnya Amarah, sedangkan Amarah yang melihat langsung kejadian itu segera menarik tangannya Ariel Satria Muller calon suaminya yang hanya menghitung hari setelah mereka dari Samarinda baru mereka mengadakan pesta lanjutan dari esok hari.
Ariel tersenyum bahagia melihat sikapnya Amarah yang seperti itu, Ariel bersyukur kepada Arinda dan Ando karena, berkat kemesraan pura-pura yang mereka tunjukkan kepada orang lain sehingga Amarah akhirnya berdekatan mesranya dengannya.
Kedua calon pasangan pengantin itu berjalan bergandengan tangan dengan beriringan. Beberapa orang tua dari keluarga mereka cukup bahagia dengan kedekatan mereka.
"Ternyata Ando bisa bersikap romantis juga pada calon istrinya itu, semoga mereka bahagia sakinah mawadah warahmah hingga kakek nenek," batinnya papanya Ando Pak Rafael Al-Hakim tersenyum tipis.
"Amin semoga saja, tetaplah berdoa dan bersabar atas semua keputusan dan ketentuannya Allah SWT atas garis tangan anak-anak dan cucu-cucu kita," pungkasnya Pak Rafael.
Ando mengaitkan tangannya ke lengannya Arinda dan sedikit mendekatkan wajahnya ke telinganya Arinda lalu membisikkan sesuatu," semoga kamu bisa bekerja sama denganku agar kedua orang tua kita tidak mencurigai perjanjian pernikahan yang sudah kita sepakati,"
Arinda akhirnya mengetahui apa maksud dibalik semua itu, tapi Arinda mengikuti alur yang diciptakan oleh Ando. Baginya itu tidak masalah karena, yang paling penting tidak ada orang lain yang mengetahui jika dia sudah hamil di luar nikah. Arinda membalas berbisik di telinganya Ando hingga seolah mereka berciuman sekilas.
"Kamu tenang saja, yang paling penting anakku punya Bapak aku akan melakukan apapun walaupun harus hidup dalam kepura-puraan dan sandiwara seumur hidupku pun aku tidak permasalahkan," tukasnya Arinda.
Kedua orang tuanya Arinda tersenyum penuh kebahagiaan, karena dugaannya selama ini adalah salah.
"Kalau seperti itu kelihatannya ternyata rumor yang selama ini aku dengar adalah salah besar," Pak Albert membatin.
__ADS_1
Kekhawatiran itu wajar dirasakan oleh Pak Alber Ahmed Khan dan istrinya Ibu Annie Maria.
"Sayang kapan-kapan kita ke sini lagi yah kalau kita sudah nikah," pintanya Amarah yang penuh nada manja.
"Apapun Abang akan lakukan Ingat apapun itu asalkan kamu bahagia," imbuhnya Ariel.
Amarah melakukan hal itu sebagai tandingan akan kemesraan yang dipertontonkan oleh kedua pasangan lainnya.
"Ya Allah… bisa tidak kemesraan dan keromantisan kalian berdua dihentikan, ingat-ingat kite nih yang masih jomblo bahagia," ujarnya Aldian Aslan Kim berjalan tergesa-gesa di tengah antara Andira dan Amarah.
"Huss!! Makanya cepat cari pasangan biar loh kagak jadi penonton saja!" Teriaknya Amarah yang sudah melupakan tangannya yang masih melingkar di lengannya Ariel pria yang belum ia cintai itu tapi, siap menikahinya menjadikannya wanita yang paling bahagia di dunia ini.
"Bos mereka semua sudah datang dari Jakarta, apa rencana kita selanjutnya?"
"Laksanakan saja sesuai dengan apa yang aku perintahkan, ingat besok setelah mereka melaksanakan akad nikahnya barulah kalian mencari waktu dan kesempatan yang tepat untuk melancarkan serangan kalian ingat target kalian itu Elsa dan Nada Humairah Azizah Razak," ujarnya orang dari seberang telepon.
"Siap Bos," jawab anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawasi gerak gerik rombongan Agam.
Sedang di tempat lain, tepatnya di dalam mobil khusus Agam dan Ando serta Aldian dan kapten kepolisian setempat yang menyamar sebagai masyarakatt biasa saja.
"Ingat besok penjagaan harus diperketat, jangan sampai penjahat itu berhasil melakukan rencananya, karena sesuai dengan mata-mata yang kita masukin ke dalam anak buahnya Muis Lampard, jadi saya harap bantuannya Pak Leri agar kita bisa menangkap dan meringkus Muis secepatnya dan siapa perempuan yang selalu ia lindungi," ungkap Agam.
"Kami akan melaksanakan tugas terbaik, saya sudah cukup dipermainkan oleh mereka dan besok saatnya lah untuk membalas perbuatan mereka semua," Aldian mengepalkan tangannya karena dendamnya beberapa hari lalu yang sempat mendapatkan tendangan dari si gondrong yang ternyata berkomplot dengan Muis gembong narkoba itu.
"Pasti kami akan membantu Anda Tuan Agam karena Muis dengan anak buahnya adalah musuh negara karena, kejahatan mereka yang sudah menghancurkan kehidupan masa depan generasi anak muda kita, jadi Anda tidak perlu merisaukan semuanya," pungkas Kep. Leri Donaldson.
Sedangkan di tempat lain yang masih di sekitar pulau Kalimantan itu.
Perempuan yang menjadi kekasihnya yang identitasnya ditutupi oleh Muis karena sesuatu hal seraya memainkan dada bidangnya muis sang bos mafia itu, "Aku sudah tak sabar melihat kehancuran mereka sayang, semoga rencana kita besok berhasil dengan baik tidak seperti sebelumnya yang selalu gagal,"
__ADS_1
Muis mengecup keningnya kekasihnya itu," kamu juga esok harus ikut agar kamu menjadi saksi kehancuran keluarga besar itu," ujar Muis.