Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 50


__ADS_3

"Mila apa sebenarnya maksud kamu melakukan ini semua pada kami, padahal kami sama sekali tidak bersalah padamu," tanyanya Nada yang tidak menduga jika, perempuan bercadar yang menculiknya adalah mantan kekasihnya dari suaminya sendiri.


"Apa yang kalian inginkan dari kami sedangkan kami tidak punya banyak barang mewah dan berharga kami pakai," ucapnya adik sepupunya Nada yang bernama Risa Saraswati yang sudah gemetaran ketakutan karena ditodong dengan senjata api.


"Mila Agnesia," cicitnya Nada.


"Hahahaha!!" Suara tawa Mila Agnesia seperti tawa seseorang yang sudah gila saja.


"Mbak Nada kami takut," ucapnya dari adik dan sepupunya itu yang saling berpelukan dan berpegangan satu sama lainnya saling menguatkan padahal tubuh mereka sudah gemetaran ketakutan.


Raut wajah keempatnya sudah pucat pasi, keringat bercucuran membasahi pipinya itu. Nada tidak bisa memungkiri perasaannya jika,ia juga sangat ketakutan seperti saudaranya yang lain.


"Ya Allah… tolonglah kami jangan biarkan terjadi sesuatu pada kami semua," cicitnya Nada.


"Mbak Nada saya takut," rengeknya Dina adik bungsunya itu.


"Kita harus banyak berdoa kepada Allah SWT semoga saja ada yang secepatnya menolong dan membebaskan kita dari penjahat itu," imbuhnya Nada yang berusaha untuk membuat adiknya tenang.


"Tetaplah berdoa pada Tuhan karena, tidak akan ada yang mengetahui keberadaan kalian, dan kalian berempat bersiaplah untuk menemui ajal kalian semua karena saya akan melenyapkan kalian semua dari muka bumi ini," ancamnya Mila.


Suara tangisan dan isak tangis dari keempatnya semakin terdengar setelah mendengar perkataan dari Mila jika, mereka akan dibunuh.


Hahaha"Alasanku kenapa saya sampai menculik kalian adalah karena, saya ingin balas dendam atas apa yang sudah suamimu perbuat, gara-gara dia tidak mau bertanggung jawab pada kehamilanku dengan menikahiku walaupun jelas-jelas anak yang aku kandung bukanlah anaknya tapi, aku tidak pantas dicampakkan oleh Ergi Andrean Renaldi!" Kesalnya Mila Agnesia yang tangannya masih berada di depan mereka seraya memegang senjata api yang siap ia tarik pelatuknya.


"Ya Allah … kalau cintanya ditolak jangan seperti ini juga lah Mbak, kami yang jadikan korban dari kebencian dan kegagalan Mbak,"ketusnya Kartika.


Mila langsung melayangkan tamparannya ke wajahnya Kartika sekuatnya.


"Aaahh!! Sakit!" Jeritnya Kartika yang mengeluh kesakitan karena akibat tamparan itu.

__ADS_1


"Mila!! Jangan sentuh mereka, karena masalahmu dan tujuanmu adalah saya jadi aku mohon jangan sekali-kali sakiti mereka," ratapnya Nada.


Sedang di tempat lain…


"Cepat bang sebelum kita terlambat," perintahnya Ergi Andrean Renald yang sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya yang baru dinikahinya itu.


Ando segera semakin menambah kecepatan mobilnya menuju lokasi dimana mobil yang membawa Nada Khaerunnisha Azzahrah Lukman bersama tiga orang sepupunya itu.


Agam semakin menambah kecepatan mobilnya, mobil mereka ada yang berbelok di depan ke kiri dan ada yang kekanan. Ada tiga buah mobil yang mengikuti lajunya Ando dan juga Agam.


"Kita berpencar seperti ini cara yang tepat, karena aku yakin di depan sana perempatan pasti mobil penjahat itu terjebak dengan banjir jadi disitulah kita bisa mengepung mereka." Ucapnya Agam.


"Aldian hubungi orang di hotel, jangan biarkan mereka panik dan saling terpisah atau berpencar dan katakan juga kepada pihak kepolisian untuk menambah anggotanya agar segera menyusul kita," perintah Abdilllah Abqari Agam.


"Siap Abang," balasnya Aldian Adlan Kim.


Kecepatan mobil mereka semakin cepat, walaupun sesekali kecepatannya turun karena, mobil mereka berpapasan dengan pengendara mobil lainnya.


Ciittt!!


"Aaahhh!!" Teriak semua yang ada di atas mobil Alphard Vellfire tersebut.


Mobil itu terhenti seketika karena ada mobil yang menghadang lajunya.


"Apa yang terjadi!?" Pekiknya Mila yang terdorong ke arah depan hingga tangannya yang sedari tadi memegang senjata apinya hingga pelatuknya tertekan dan mengenai lengannya Nada.


"Aaaaahhhhh!!!" Jeritnya Nada yang lengan kirinya terkena goresan timah panas.


"Mbak Nada!" Teriak mereka bersamaan setelah tersadar dan melihat Nada sudah bersimbah darah.

__ADS_1


Beberapa orang sudah berdiri mengelilingi mobil mereka, Mila dan ketiga rekannya sudah terdesak.


"Bos kita sudah dikepung," ucapnya si botak yang menyetir mobil sejak tadi.


"Gondrong cepat hubungi nomor hpnya suamiku dan suruh kirimkan bantuan ke sini secepatnya!" Pinta Mila yang terpojok dengan keadaan yang terjadi.


"Nomor mereka tidak ada yang aktif bos,apa yang terjadi pada mereka sebenarnya, apa mereka juga ketahuan?" Tanyanya Botak.


"Itu tidak mungkin, mereka jago-jago loh, apalagi suamiku Muis pasti bisa selamat," pungkasnya Mila Agnesia.


"Buka pintunya jika tidak, saya akan menghancurkan mobil kalian dengan senjataku!" Hardiknya Carlando Arland Roland.


"Tidak perlu bernegosiasi dengan mereka, itu percuma dan buang waktu saja," dengusnya Agam yang segera menembaki kedua ban mobil itu dengan senjatanya.


Agam kemudian menembak pintu mobil itu,tapi sebelum dia melakukan hal itu pintunya terbuka lebar dan keluarlah Mila dengan menodongkan senjatanya ke keningnya Nada.


Ergi yang melihat hal itu sangat sedih apalagi melihat darah segar yang terus mengucur dari lengan Nada. Gaun pengantinnya yang berwarna putih gading itu sudah berubah jadi merah.


"Nada!" Teriak Ergi yang ingin maju menyelematkan Istrinya itu.


"Stop! Jika kamu ingin mati sia-sia!" Bentaknya Si botak yang membantu Mila memegang kedua tangannya Nada dan ketiga perempuan lainnya si gondrong dan di tambun yang mengawasi ketiganya.


Ergi langsung berhenti ketika mendengar ancaman tersebut," kalau kamu ingin mereka hidup jangan…." Ucapannya terpotong karena sebuah peluru sudah tepat sasaran mengenai kepalanya itu.


Agam segera bergerak cepat untuk menendang dengan kuat senjatanya Mila. Ketiga adiknya Nada berteriak histeris dan segera berlari dari sana mencari perlindungan dan tempat yang aman.


"Pak Leo tolong amankan dan lindungi sandera," perintah Pak kapten kepolisian itu kepada anak buahnya.


Ergi dan yang lainnya segera menghadapi ketiga anak buahnya Mila. Ergi segera menggendong tubuhnya Nada yang kehilangan banyak darah hingga pingsan.

__ADS_1


"Nada, istriku!" Ucapnya Ergi yang segera berlari menuju ke arahnya Nada sebelum terjatuh dan tubuhnya menyentuh aspal siang itu yang cuacanya hujan rintik-rintik.


"Agam tolong cepat bawa mobil, istriku terkena tembakan," Ergi kembali berteriak.


__ADS_2