Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 14


__ADS_3

"Apa Abang sudah punya perempuan yang Abang sukai? Berarti rumor yang sering aku dengar kalau Abang penyuka sesama jenis itu sangat tidak benar adanya yah!?" Kelakarnya Amarah.


"Benar sekali untuk mengetahui benar tidaknya hal itu sebaiknya kita bantu Abang kamu mendekati perempuan itu biar apa yang kita takutkan selama ini hanya jadi isapan jempol saja," timpalnya Bu Liviana Alexander Mutahar itu.


Abdillah Abqari Agam langsung tersedak makanan karena mendengar perkataan yang seperti suara sumbang saja.


Uhuk.. uhhuk..!!


Pak Mutahar yang kebetulan berada tepat di sampingnya Agam segera memberikan segelas air minum untuk meredakan batuknya Agam putra sulungnya itu sekaligus putra tunggalnya.


"Ini minum lah cepat," pintanya Pak Mutahar Alexander Fuad.


Agam tanpa kata langsung meminum minumannya dengan sekali tegukan.


"Apa kalian percaya dengan rumor tidak bermutu itu? Ya elah kamu yah bukan karena aku menolak semua tawaran perempuan yang kalian dekatkan denganku sehingga aku dicap pria impoten atau pria hoo moo, itu terlalu picik Abang sengaja berbuat seperti itu karena sudah ada gadis mangga yang bertahta namanya dalam hatiku," jelasnya Agam dengan penuh keyakinan membuat semua anggota keluarganya kembali melongok tak percaya.


"Gadis mangga!" Beo mereka serentak.


Agam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dengan salah tingkah karena, keceplosan menyebut nama perempuan yang disukainya. Walaupun bukan nama sebenarnya.


"Ehh sudah ahh, Abang ngantuk!" Elaknya Agam sambil berpura-pura menguap tapi, wajahnya tersipu merona merah saking malunya dengan apa yang terjadi padanya.


Agam berjalan cepat meninggalkan meja makan menuju tangga karena, kamarnya berada di lantai dua rumahnya. Kepergian Agam membuat semua orang tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya Agam yang seperti anak remaja abg saja.


"Amarah giliran kamu yang bantu Mama untuk mendekatkan mereka berdua agar abangmu itu tidak ditikung sama pria lain karena, akhir-akhir ini tikungan itu cukup tajam," usulnya Bu Liviana yang sesekali mengunyah makanannya.


Amarah menatap lekat mamanya," emang apa yang harus aku lakukan dan juga gadis yang disukai oleh Abang orang dimana dan kerjanya dimana?" Tanyanya Amarah yang penuh penasaran.


"Kamu bantuin abangmu gimana caranya mendapatkan perhatian dari perempuan itu, ia orang Samarinda Kalimantan Timur dan bekerja di perusahaan abamgmu sendiri sebagai sekretarisnya sendiri," terangnya Bu Liviana lagi.


"Sepertinya akan semakin menarik kalau seperti itu Ma, aku akan membantu Abang kalau perlu sampai mereka menikah," tampiknya Amarah yang ikut berdiri dari duduknya karena makanannya sudah habis dan merasa pembicaraan mereka malam itu sudah finis dengan tugas masing-masing.


Elsa Safira Nadine malamnya kembali kesusahan untuk memejamkan matanya, bukannya karena rasa perih dan pedih di bagian permukaan lukanya tapi, ia penasaran dengan siapa CEOnya karena belum pernah bertemu sebelumnya. Informasi apapun belum ia dapatkan sedikitpun.


"Ya Allah… kenapa sampai aku lupa yah menanyakan tentang CEO perusahaan kepada Mbak Mery, ini nih gara-gara saking bahagianya aku diterima bekerja di sana sampai-sampai melupakan hal penting itu," gumamnya Elsa yang berguling kanan kiri kanan karena berusaha untuk membuat dirinya tertidur lelap.


Nada Humairah Azizah Razak sebelum Elsa bangun dan bibi Sumi pulang dari rumah saudaranya, sudah pulang dari rumah kekasihnya itu.


Ergi kembali meminta jatah sebelum meninggalkan kamarnya. Nada hanya menggeleng kepalanya melihat sikap kekasihnya itu, walaupun hal itu tidak semestinya mereka lakukan, tetapi apa mau dikata sesuatu yang enak dan mengasyikkan sulit untuk dihindari.


Ayam jantan berkokok lantang pertanda pagi sudah menyambut. Sinar matahari yang kemilauan menyinari seluruh isi jagad raya. Dengan sinarnya yang sangat dibutuhkan oleh setiap insan mahluk hidup di permukaan bumi. Elsa sudah duduk di hadapan meja makan dengan sepiring nasi goreng seafood sudah tersaji di hadapannya.


"Abang Ergi belum bangun kah Bu?" Tanyanya Elsa Safira Nadine yang sesekali menyantap makanannya.

__ADS_1


"Abang baru saja berangkat Non, katanya buru-buru berangkatnya karena hari ini ada meeting penting di perusahaannya dengan perusahaan lain," jawabnya bibi Sumi.


"Ohh gitu toh," balasnya Elsa yang segera menyantap makanannya mumpung masih hangat.


Beberapa jam kemudian, Elsa sudah bergabung dengan pengendara roda empat lainnya. Dia masih sering mengeluh sakit jika, tanpa sengaja lukanya bersentuhan langsung dengan benda kasar.


Elsa hari ini lebih memilih naik mobil dari pada naik motor. Blue menjadi pilihannya untuk berkendara ke perusahaan tempat ia bekerja. Elsa berjalan dengan cukup santai karena, masih punya cukup banyak waktu sebelum jam kerja dimulai.


"Mbak Elsa!" Teriaknya seseorang dari belakangnya.


Elsa Safira Nadine yang menyadari jika, ada orang yang memanggil namanya segera memalingkan wajahnya ke arah belakang. Elsa mengernyitkan dahinya melihat orang itu, karena orang itu untuk pertama kalinya dilihatnya.


"Maaf sudah menggangu aktivitasnya Mbak," ujar Amarah.


"Kamu kenal saya?" Tanyanya Elsa sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri.


"Hehe benar sekali,"


"Kalau gitu ada yang bisa aku bantu Mbak?" Tanyanya Elsa dengan ramah.


"Tidak ada yang perlu Mbak bantu, aku hanya mau berjalan bareng dengan Mbak karena aku merasa aneh saja berjalan seorang diri di perusahaan besar," kilahnya Amarah yang menutupi kenyataan yang ada.


Amarah malam sebelumnya, ditugaskan khusus oleh mamanya untuk bekerja di perusahaan abangnya sebagai sekretaris kepala menejer yang kebetulan dipegang oleh pria pujaan hatinya diam-diam itu yaitu Corlando Ronald Reagan.


"Apa Mbak keberatan dengan permintaanku ini?"


Amarah Meylani Ramadhani menarik tangannya Elsa untuk berjalan cepat, karena Elsa terdiam dan kebingungan dengan situasi yang terjadi saat itu juga. Elsa sama sekali tidak menentang apa yang dilakukan oleh Amarah.


Mereka sudah berada di dalam lift berdesakan dengan beberapa pengguna lift lainnya.


"Elsa kamu mau ke lantai berapa?" Tanyanya Amarah.


"Saya ingin ke lantai dua belas Mbak," balasnya Elsa.


"Berarti sebentar aku duluan, karena kebetulan lantai yang akan aku datangi lantai sebelas," imbuhnya Amarah.


"Kamu juga kerjanya di sini yah?"


Amarah tersenyum tipis," iya aku juga kerja di sini, tapi hari ini hari pertama aku kerja soalnya,"


"Kok kita sama yah, aku juga baru mulai kerja dan ini pengalaman pertamaku," ucapnya Elsa yang sedikit mengeraskan suaranya.


Beberapa orang yang berada di dalam lift itu menoleh ke arah mereka secara bersamaan dengan tatapan mata yang berbeda-beda dan intinya mereka merasa terganggu.

__ADS_1


"Maaf," ujar Elsa.


Amarah menarik tangannya Elsa ke samping kanannya," Elsa aku minta nomor hp kamu yah, jadi entar siang kita makan barengan saja, gimana menurut kamu?" Sarannya Amarah dengan memperlihatkan wajah menggemaskannya.


Elsa segera merogoh hpnya yang berada di dalam handbagnya yang berwarna hitam itu.


"Ini nomor hpku, maaf aku gak sebut soalnya…," arah tatapan matanya Elsa tertuju pada beberapa orang yang masih bersama mereka dalam lift tersebut.


"Ist oke aku ngerti kok,"


Berselang beberapa menit kemudian, Amarah sudah berpamitan kepada Elsa. Tinggallah Elsa dan lift kembali berbunyi tepat di ruangan lantai dua belas.


Elsa mempercepat langkahnya, karena tidak ingin terlambat walaupun waktunya masih ada beberapa menit,tapi ia tidak ingin sampai sebelum didahului oleh CEO mereka. Elsa tidak menyadari bahwa Agam sudah datang lebih awal dibandingkan dengan dirinya.


Mery Ariah Alfin yang melihat kedatangan Elsa segera berjalan ke arah Elsa," assalamualaikum cantik," tegurnya Mery.


"Waalaikum salam Mbak Mery yang tidak kalah cantiknya denganku," guraunya Elsa yang membuat Mery Ariah Alfin tersenyum.


"Welcome semoga kamu bekerja dengan baik dan met bekerja, good luck sayang," ucap Mery lalu berjalan ke arah ruangannya yang terletak tidak jauh dari tempat kubikelnya Elsa.


"Makasih banyak Mbak,amin ya rabbal alamin,"


Elsa kemudian mulai duduk di kursi kebesarannya sebagai sekretaris orang nomor satu di perusahaan tersebut.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga semuanya lancar," cicitnya Elsa.


Baru menyalakan mesin komputernya telpon yang ada di depannya berdering. Elsa secepat kilat mengangkat telponnya itu.


"Tolong ke ruanganku!" Perintah orang yang berada dibalik telpon.


"Siap Pak," jawabnya.


"Tidak pakai lama,"


"Iya Pak,"


Elsa segera mematikan layar komputernya," ya Allah… ternyata Pak CEO sudah datang sedari tadi yah, berarti aku kurang cepat sepertinya," Lirihnya Elsa.


Elsa memutar handle pintu lalu berjalan masuk, matanya melihat seorang pria yang sedang memeriksa beberapa berkas penting yang sudah menumpuk di depannya. Elsa berdiri mematung seraya menatap pria itu tanpa bicara sedikitpun.


"Maaf apa kamu hanya datang ke sini untuk berdiri saja!"


"Eeh maaf Pak," lalu kemudian berjalan ke arah hadapan Agam.

__ADS_1


Agam mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Elsa. Betapa terkejutnya ia setelah melihat dengan jelas pria yang duduk di hadapannya. Pria yang memakai setelan jas lengkap berwarna abu-abu gelap itu yang secara tidak langsung senada dengan pakaian yang dipakainya.


"Kamu!?" Pekik Elsa yang matanya melotot saking kagetnya melihat sosok Agam.


__ADS_2