
Andira akhirnya sudah mengetahui dengan jelas, alasannya Amarah adik sepupunya itu enggan untuk bertegur sapa dengannya.
Ariel menepuk pundaknya Ando," kerja yang bagus dan thanks sudah memberikan pengertian pada gadis keras kepala itu,"
Elsa menyentuh lengannya Andira sedangkan Andira memutar kepalanya ke arah Elsa calon istri dari kakak sepupunya itu Abdillah Abqari Agam. Andira hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Elsa dan tidak mungkin berkata jujur ikatan apa yang terjalin dengan calon suaminya itu.
"Mungkin aku harus bertemu dengan Ando terlebih dahulu lalu bertemu dengan Ariel, karena aku tidak ingin menikah dengan beban berat yang aku bawa walaupun, pernikahan ini sama sekali tidak aku inginkan dan juga tidak pernah aku minta dan tidak terbersit sedikitpun pikiranku untuk secepatnya menikah, tapi demi masa depan calon anakku harus aku jalani dengan ikhlas," batinnya Andira.
"Mbak Elsa masih mau duduk di sini atau mau masuk? Soalnya ada yang harus aku kerjakan di luar," imbuh Andira.
Elsa menatap sekilas ke arah Andira calon adik iparnya itu," kita masuk saja lagian aku juga kemungkinannya sore sudah bisa keluar dari sini," balasnya Elsa yang tersenyum tipis.
Setelah memastikan bahwa Elsa sudah beristirahat dengan baik, Amarah juga ada di dalam ruangan itu untuk menjaga Elsa sehingga Andira bisa pergi dengan tenang. Andira segera mengirimkan pesan chat singkat ke nomor kedua Pria tampan itu.
Andira duduk di salah satu meja di sudut ruangan yang tempat itu cukup sepi sehingga akan memudahkan mereka berbincang-bincang.
Arinda hanya mengaduk-aduk minumannya tanpa berniat untuk menyeruputnya. Sesekali ia menatap ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.
Baru sepersekian detik ia mengamati jamnya sudah muncul seorang pria dengan raut wajahnya yang dingin, kaku, datar duduk di hadapannya.
"Maaf," ucapnya.
"Tidak apa-apa kok, aku juga baru nyampe kok," kilahnya Andira padahal sudah hampir sejam ini ia menunggu kedatangan calon suaminya itu.
"Apa tujuanmu mengajakku bertemu?" To the points Ando.
"Kamu pengen minum apa, aku pesankan," tanyanya Andira.
"Tidak perlu repot-repot, aku tidak kehausan," tukasnya Ando.
Andira yang mendengar perkataan sinis Ando membuatnya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari mulutnya Ando.
__ADS_1
"Kenapa kamu memilih untuk menikah denganku padahal Amarah sangat mencintaimu," tatapannya tajam memperhatikan mimik wajahnya Ando.
"Alasannya karena kamu hamil calon penerus keluarga besar Roland," jawabnya dengan raut wajahnya yang tidak ada ekspresi apapun.
"Tapi, kasihan dengan nasibnya Amarah, dia sangat mencintaimu loh,"
"Saya sama sekali tidak peduli dengan hidup orang lain yang saya peduli adalah calon bayiku dan juga ibunya harus aku pastikan selalu dalam keadaan baik-baik saja," ucap Ando.
"Tapi, kita tidak saling mencintai kenal juga baru lima hari, apa kau sudah yakin untuk menikahiku?"
Ando memajukan tubuhnya yang semula bersandar disandaran kursi, "Saya tidak perlu kenal lama denganmu dan juga tidak perlu cinta untuk bertanggung jawab atas perbuatanku, satu hal yang perlu kamu ketahui karena anakku makanya aku menikahimu bukan alasan lainnya dan jangan sekali-kali untuk menuntut hakmu sebagai istriku karena aku tidak akan pernah melakukan hal tersebut jadi, perlu kamu tahu setelah anakku lahir dengan selamat kita akan segera bercerai, kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan aku akan pergi, makasih atas waktunya," ungkap Ando lalu pergi dari kafe tersebut.
Andira mengelus perutnya yang masih datar ini," saya juga tidak akan pernah sudi untuk melibatkan hati dan perasaan dihubungan kita berdua kelak, demi darah dagingku aku tela hidup denganmu pria dingin sedingin salju di kutub," cicitnya Andira.
Apa yang mereka perbincangkan tanpa sengaja dilihat dan didengar langsung oleh Ariel. Dia hanya tersenyum smirk menanggapi perkataan keduanya yang cukup alot itu.
Ariel pun memenuhi Andira berselang beberapa menit kemudian. Andira berbincang-bincang santai sambil menikmati beberapa makanan dan minuman yang ada di hadapan keduanya.
"Saya sangat mencintainya, bahkan melebihi dari yang orang bayangkan,"
"Cinta itu sulit ditebak kapan datangnya, karena setahu saya kalian saling kenal baru jalan sebulan sudah ingin menikahi Amara,"
"Cinta tidak mempertimbangkan seberapa lama atau sebentar saja kita mengenal seseorang karena cinta itu tidak memandang apapun, aku berjanji aku akan mencintai Amarah setulus hatiku hingga Amarah bisa melupakan semua kenangan masa lalunya yang hingga detik ini masih mencintai pria lain," ungkap Ariel.
Perbincangan keduanya pun berakhir setelah sore hari, mereka cukup cocok dan nyambung. Ando sebenarnya belum pulang dari kafe itu, tapi diam-diam menunggu apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh calon istrinya. Ia bersembunyi dari tempat tersebut tanpa diketahui oleh keduanya Ariel dan Andira, karena kafe itu sebenarnya miliknya sendiri sehingga ia dengan mudah keluar masuk pintu rahasia.
Ando hanya tersenyum mendengar ucapan keduanya lalu meninggalkan tempat tersebut tanpa sepengetahuan Andira.
"Ya Allah… pernikahan apa yang sebenarnya akan aku lalui, padahal saya pengen seperti Mama dan Papa awalnya menikah ke atas perjodohan tetapi hingga detik ini mereka selalu harmonis dan saling menjaga satu sama lainnya,"
Beberapa hari kemudian, Ergi Andrean dan kedua orang tuanya Bu Ratih Purwasih dengan suaminya Pak Renaldi Hutabarat sudah kembali ke Samarinda, Kalimantan Timur
__ADS_1
Mereka akan menambah persiapan pernikahan antara putri semata wayangnya Elsa Safira Nadine dengan Abdillah Abqari Agam.
Mereka rencananya akad nikahnya bersamaan Ergi dengan kekasihnya yang sudah berbadan dua itu Nada Aulia Sarah Lukman. Setelah acara mereka, barulah Elsa yang akan menikah dengan Agam.
Sedangkan di Jakarta tepatnya di kediaman utama keluarga Alexander Mutahar. Akad nikah antara Amarah Meylani Ramadhani dengan Ariel Satrya Wardhana Muller dan keponakannya Andira Farhana Albert dengan Carlando Arland Roland dua hari setelah kepulangan mereka dari Samarinda.
Kesibukan di beberapa rumah terlihat begitu jelas. Masing-masing keluarga sudah sibuk dengan acara yang akan dilaksanakan pada rumah mereka.
Berbagai macam tradisi sesuai dengan adat-istiadat dari keluarga masing-masing. Seperti Agam ada adat Minang, Jawa, Timur Tengah, Inggris yang akan mereka rangkaian bersama sekaligus.
Sedang di rumah Elsa jelas-jelas sudah terlihat adat Jawa, Makassar dan Batak menandai rumahnya. Berbagai etnis suku bangsa akan menyatukan mereka. Serangkaian tradisi itu terlaksana dengan lancar karena semua anggota keluarga dan tetangga turut membantu mengadakan acara hajatan tersebut.
Walaupun, acara pesta syukuran pernikahan masing-masing akan diadakan di sebuah gedung hotel yang jauh-jauh hari sudah mereka pesan sebelumnya sebagai tempat pelaksana. Elsa memilih mengadakan ijab qobul di masjid terbesar di Samarinda yang tidak jauh dari rumahnya.
Agam berusaha untuk menghubungi kekasih sekaligus calon istrinya. Mereka melakukan video call secara langsung.
"Assalamualaikum Abang," sapanya Elsa dari balik hpnya.
Agam tersenyum bahagia melihat wajah pacarnya yang hanya melalui telepon genggam saja.
"Halo, Abang kok hanya terdiam saja enggak bicara, apa Abang baik-baik saja?" Tanyanya Elsa penuh selidik.
"Maaf Abang mendebarkan kamu bicara sambil memandangi wajahmu yang sudah seminggu Abang gak lihat," imbuhnya Agam yang telponan dengan Elsa sambil rebahan tengkurap.
"Sabar yah Abang, tersisa tiga hari kita akan bertemu kok," ucapnya Elsa dengan mengangkat jari jemarinya berjumlah tiga itu.
"Iya tapi, saya sudah tidak tahan untuk bertemu denganmu," ujar Agam.
Aldian Aslan Kim yang kebetulan masuk ke dalam kamarnya kakak sepupunya itu tanpa permisi karena, sudah mengetuk tapi, tidak ada jawaban sama sekali sehingga ia langsung main nyelonong saja.
"Tidak tahan apa Abang!?' teriaknya Al yang segera berlari ngacir keluar setelah berteriak di telinganya abangnya langsung.
__ADS_1
Elsa tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajahnya Agam yang memerah menahan kekesalannya pada adik sepupunya itu.