Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 18


__ADS_3

Ela hari itu menikmati makanannya dengan penuh hikmat. Dia sama sekali tidak menjaga image nya ketika menyantap makanan di depan Bu Liviana. Mereka berdua sesekali bercanda untuk menikmati makan siangnya hari itu juga.


"Untung saja Norma segera mengerti dengan arti tatapan dan kode yang aku berikan, kalau tidak bisa hancur semuanya, ini gunanya merahasiakan anggota keluarga dari banyak orang yang bekerja di perusahaannya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya," cicit Bu Liviana.


Agam cukup terkejut ketika melihat video rekaman yang dikirim oleh Mery untuknya. Dia tersenyum tipis melihat video kedua wanita yang dia sayangi. Bu Livia tidak mau kalah dengan Elsa yang memposting foto yang mereka ambil.


Bahkan Bu Liviana Alexander Mutahar mengambil gambarnya bersama Elsa Safira Nadine Renaldi. Ia kemudian lalu segera membuat history what'shapp, Instagram hingga facebooknya dengan caption settings latar dikelilingi makanan yang sangat lezat. Dan menggugah selera makan bagi siapapun yang melihatnya.


Caption" lagi santai bareng dengan calon mantu, cantik kan calon mantuku?" Dengan diakhiri emoticon love.


Semua anggota keluarganya dalam sekejap mata heboh ketika membacanya. Semua teman arisan dan pengajiannya pun banyak yang ikut berkomentar dan tidak sedikit pula ada segelintir orang yang berkomentar nyinyir dan julid.


Tapi, bagi Bu Livina itu hal wajar karena,banyak di dunia ini yang diciptakan tidak mampu bersaing sehingga kerjaannya hanya akan menjatuhkan orang lain,bagi yang tinggi iri hatinya.


"Cantik cukup sampai di sini pertemuan kita hari ini yah, ibu ada urusan yang sangat penting insya Allah kalau ada waktu baru kita ngumpul bareng lagi," imbuhnya Bu Liviana Alexander Mutahar.


"Tapi, betul Ibu tidak masalah jika aku tidak mengantar Ibu pulang sampai di rumah?" Tanyanya Elsa yang sudah duduk dibalik kemudi mobilnya itu.


Bu Livia tersenyum lebar," Iya enggak apa-apa kok Nak, ibu bisa pulang sendiri, kamu balik ke kantor saja,entar kamu kena omelan dari atasan kamu lagi," sanggah Bu Livia.


"Kalau gitu Ibu hati-hati dijalan, kalau ada yang Ibu butuhkan telpon nomor aku saja, assalamualaikum," ucapnya Elsa sambil meninggalkan tempat parkiran warung lesehan yang cukup ramai dikunjungi oleh pengunjung siang itu.


Elsa melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedang dan sesekali masih melihat ke arah kaca spion mobilnya untuk melihat Bu Livia.


"Baru kali ini aku makan dengan lahap dengan bahagia, sebelumnya tetep lahap sih hanya saja tidak sehappy dan seheboh tadi sih, aku berharap besok-besok ketemu lagi dengan ibu Livia, ini semua gara-gara Abang Ergi yang membuat hamil anaknya orang dua sekaligus sedangkan katanya Abang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Mila, bikin puyeng kan urusannya," kesalnya Elsa.

__ADS_1


Elsa awalnya ingin langsung pulang ke kantornya, tapi tiba-tiba hpnya berdering dan melihat pesan chat itu dari papanya di Kalimantan.


"Aku harus ke makam gadis yang sudah berbaik hati menolongku, aku selama ini belum pernah sekalipun mengunjungi makamnya, walaupun setiap shalat aku selalu mendoakan untuk gadis itu, mumpung pak Agam tidak masuk hari ini jadi bolehlah sekali-kali bolos," lirihnya Elsa yang menambah kecepatan laju mobilnya itu menuju tempat pemakaman umum di daerah pinggiran Jakarta.


Elsa melihat dipinggir jalan banyak penjual bunga, Elsa segera menepikan mobilnya di badan jalan.


"Sepertinya bunga mawar merah dan putih pasti disukainya, semoga saja kedatanganku ke sana tidak diketahui oleh anggota keluarganya," cicitnya Elsa.


Elsa kemudian memilih bunga yang masih segar untuk ia bawa.


"Selamat datang Mbak, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya penjaga bunga itu.


"Saya pesan bunga mawar merah dan jygy bunga mawar merah masing-masing sebuket Mas," balasnya Elsa seraya menghirup wangi dari beberapa bunga yang berjejer rapi di hadapannya.


"Thanks Mas," balasnya Elsa.


Banyak koleksi bunga yang sungguh cantik dipandang mata Hingg membuat mata menjadi segar dan bersih hanya memandangi beberapa bunga mawar itu.


"Ini bunga yang Mbak pesan, semoga besok-besok datang lagi berkunjung ke toko kami yah dan semoga bahagia selalu," tutur pria kemayu itu.


"Ini bayarannya Mas kembaliannya ambil saja," timpalnya Elsa lalu segera meninggalkan toko khusus bunga itu.


Elsa kembali melanjutkan perjalanannya menuju tpu yang jarak dari toko tersebut tidak terlalu jauh. Elsa berkeliling mencari blok makam gadis itu, untungnya Elsa melihat ada seorang penjaga kuburan yang dilihatnya.


Elsa tersenyum ketika sudah berdiri di hadapan bapak itu, "Assalamualaikum, Pak," Elsa sedikit lelah karena, alamat yang dikirim oleh papanya kurang lengkap sehingga, ia perlu bertanya.

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab salam bapak tua itu yang sedang memegang cangkulnya.


"Maaf pak kalau blok D bagian mana yah?" Tanyanya Elsa dengan serius.


"Ini blok D Mbak, emangnya cari makamnya siapa?"


Elsa pun menjelaskan tentang letak makam tersebut yang bernama Almairah Mutia Ramadhani.


"Ini dia makam yang Mbak cari dan kebetulan salah satu anggota keluarganya baru saja pulang mungkin sekitar lima menit yang lalu," ungkap pria itu yang bernama Pak Rusli.


"Hampir saja bersamaan datangnya," cicitnya Elsa.


Elsa kemudian menaruh kedua buket bunga mawar yang dia bawa. Jantungnya berdetak kencang ketika membaca nama sang pemilik jantung yang sekarang berada di dalam tubuhnya.


"Almairah Mutia Ramadhani, nama yang cantik pasti orangnya juga cantik," lirih Elsa.


Elsa mengelus nisan kuburan itu, air matanya menetes membasahi pipinya begitu saja.


"Makasih Mut, tanpa jantungmu mungkin aku sudah lama meninggal dunia, sejak kecil hidupku lemah dan penyakitan harus keluar masuk rumah sakit, papa dan mama juga begitu banyak berkorban untukku tapi setelah kerelaanmu mengikhlaskan jantungmu untukku, hidupku langsung berubah harapan yang sudah hampir pupus kembali berkobar, aku tidak pintar berucap dan merangkai kata-kata yang indah Mutia, aku hanya berharap bahwa aku sangat beruntung dan bersyukur karena kita berjodoh dengan jantung yang menghubungkan kita, semoga kelak jantung ini selalu bersamaku hingga akhir waktuku," gumamnya Elsa sesekali menyeka air matanya yang mewakili perasaannya betapa bahagia sekaligus sedih karena tidak sempat bertemu dengan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.


"Maafkan aku belum bisa bertemu dengan salah satu anggota keluargamu untuk berterima kasih langsung padanya, karena aku takut jika mereka akan menyalahkan aku yakni telah merebut jantungnya dari dirimu padahal sudah bertahun-tahun lamanya kejadian hari itu,"


Elsa juga membacakan beberapa doa untuk Almairah, beberapa surah pendek dan paling utama surah Al-fatihah.


"Makasih banyak, jasa-jasa dan kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku, insya Allah… lain kali aku akan datang lagi menemiuimu kok, semoga aku punya banyak waktu luang jadi aku bisa datang lagi berkunjung dan satu hal lagi doakan aku semoga pekerjaanku lancar Pak Abdillah Abqari Agam tidak suka marah-marah lagi," kelakarnya Elsa sebelum pulang dari makam itu.

__ADS_1


__ADS_2