Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 16


__ADS_3

Setelah hari itu, Elsa sudah terbiasa berhubungan dengan EO pemilik perusahaan. Hubungan mereka sudah tidak canggung seperti awal mereka bertemu. Walaupun pertengkaran kecil atau adu pendapat keduanya masih sering terjadi.


Mery segera melaporkan apa yang terjadi di perusahaan. Ia segera mengirim beberapa foto kebersamaan Elsa dengan Agam yang duduk saling berhadapan menikmati makanan yang tersaji di hadapannya masing-masing.


"Ya Allah… pasangan yang sungguh serasi, semoga kalian bersatu dalam ikatan pernikahan," batin Mery Ariah Alfin.


Elsa Safira Nadine Renaldy dengan Abdillah Abqari Agam hubungan yang terjalin antara keduanya masih seperti sebelumnya. Elsa sering menjaga jarak jika,ada orang lain yang bersamanya karena, tidak ingin menimbulkan berbagai macam spekulasi dan dugaan yang akan berujung dengan gosip yang tidak sedap.


Sudah hampir enam bulan Elsa bekerja di perusahaan milik Agam pria yang sejak pertemuan pertama mereka sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Elsa hari ini datang lebih cepat dari biasanya, ia tersenyum tipis jika berpapasan dengan karyawan lainnya yang sudah mengenalnya.


Seperti halnya beberapa security yang selalu berjaga di depan pintu masuk," selamat pagi Mbak Elsa Safira Nadine," sapanya dua security yang cukup ganteng itu mampu membuat beberapa karyawati menikmati pemandangan wajah rupawan mereka.


"Selamat pagi juga Pak Salim dan Pak Harus," balasnya Elsa yang kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju lantai dua belas tempat kantornya berada.


Agam hari ini tidak datang ke kantor karena, banyak pekerjaan di luar kantor yang harus segera ia atasi dan selesaikan sehingga sudah jam dua belas belum muncul juga. Agam berangkat ke perusahaan lain bersama Carlando Roland Mohede dan juga Amarah Meylani Ramadhani sang sekretaris yang diam-diam mencintai atasannya itu.


"Sepi juga yah tidak punya teman ribut, apa Pak Agam masih lama meeting di luar?" keluhnya Elsa ketika sudah berjam-jam duduk di depan komputernya.


Hingga suara salam seseorang mampu memecahkan keheningan yang tercipta di dalam ruangan itu.


"Assalamualaikum," sapanya perempuan yang tetap cantik diusianya yang sudah kepala lima itu.


"Waalaikum salam," jawabnya Elsa yang langsung berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Maaf ganggu pekerjaannya tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa kok Bu, emangnya ada yang bisa saya bantu?"


Elsa menatap ke arah Nyonya tersebut dari ujung rambut hingga ujung kaki dan diam-diam mengagumi kecantikan alami dari wanita yang berdiri di depannya itu.


"Maaf apa kamu sibuk?" Tanyanya Nyonya itu.


"Kalau sekarang sudah enggak sibuk lagi Bu, karena kebetulan sudah jam dua belas lewat," ujarnya Elsa sambil menunjuk ke arah jam yang terpasang di dinding ruangan itu.


Wanita itu mengikuti arah telunjuk Elsa," kalau gitu apa kamu bersedia menemani aku makan siang kedua anakku semuanya sibuk sampai-sampai mereka berdua tidak punya banyak waktu luang untuk menemaniku walaupun hanya sekedar makan saja," ratapnya Nyonya itu.


"Dengan senang hati Bu, tapi Ibu aku itu makannya banyak dan lama tidak apa-apa kan nanti agak lama nunggunya aku menyelesaikan makanku," candanya Elsa sembari membereskan semua pekerjaannya agar aman lalu meraih tasnya yang tergeletak di atas meja.


Elsa berjalan ke arah Nyonya tersebut dan tanpa ragu langsung merangkul tangannya Ibu itu sehingga mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan seperti layaknya anak dan ibunya saja.


"Apa Nyonya tidak keberatan jika kita berjalan seperti ini?" Tanyanya Elsa yang mulai tersadar dengan apa yang dilakukannya.


Elsa teringat dengan kebiasaan yang sering dilakukannya bersama mamanya, jika berjalan bersama pasti seperti itu gaya mereka. Ia langsung teringat dengan masa itu, rasa rindunya pada ibunya di pulau Kalimantan Timur membuatnya spontan memperlakukan seperti itu pada wanita tua yang baru saja dikenalnya.


Elsa menatap ke arah Nyonya itu yang sama sekali belum diketahui siapa namanya dan sebenarnya siapa beliau.


Nyonya itu tersenyum simpul sebelum menjawab pertanyaan dari Elsa," tidak masalah cantik, Ibu malah suka dengan sikapmu yang seperti ini karena kamu tidak secara langsung menyukai kedatanganku," pungkasnya Nyonya itu.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu kenyataannya Nyonya, kalau begitu kita mau makan dimana biar aku yang bayarin kebetulan saya punya kartu kredit atasan saya yang selama ini belum saya pakai," ujarnya Elsa seraya menutup mulutnya yang mendapatkan ide untuk memakai uang pria baik hati itu.


"Siap kalau gitu kita akan makan besar hari ini, tapi ijinkan Ibu yang memutuskan tempat makannya dimana,apa kamu setuju?" Tanyanya Nyonya itu sambil berjalan bergandengan hingga ke tempat parkiran.


Apa yang dilakukan oleh keduanya membuat beberapa orang cukup terkejut dengan apa yang mereka lihat barusan. Orang-orang yang mengenal baik Bu Liviana Alexander Mutahar istri dari pemilik saham tertinggi di perusahaan tersebut melongok tak percaya dan penuh tanda tanya besar mengingat Elsa Safira Nadine hanyalah sekretaris biasa saja.


Mereka bertanya-tanya tentang status hubungan mereka sebenarnya apa. Hingga semua orang yang melihatnya saling berbisik-bisik satu sama lainnya.


"Lihatlah ke sana itu kan Nyonya Besar Liviana mamanya Pak Agam, kok bisa bersama dengan Elsa?"


"Iya benar sekali apa yang kamu katakan, mereka berjalan bergandengan tangan seolah mereka anak dan ibu saja," cibirnya.


"Betul banget apa yang kamu katakan kalau,aku lihat hubungan mereka malah seperti ibu mertua dan anak menantu iya gak sih," tampiknya yang lain lagi.


"Tapi kalau boleh jujur aku cemburu melihat kedekatan mereka,kalau seperti ini kesempatan kita untuk dekati Pak Agam semakin sulit susah dan bisa dibilang sangat mustahil," dengusnya Naira yang sejak dulu selalu tampil untuk merebut hati dan perhatiannya Agam tapi, selalu saja gagal.


"Ha-ha-ha,kubur dalam-dalam deh angan-angan kamu itu yang tidak mungkin bisa jadi kenyataan," sarkasnya Nita salah satu teman kerjanya di divisi keuangan.


"Benar tuh apa yang kamu katakan,kalau aku sih sejak dulu nyadar diri karena itu, bagaikan punggut merindukan bulan saja jadi yuk lanjutkan pekerjaannya jangan tahunya hanya bergibah saja yang akan berakhir dengan dosa, apalagi ada Ibu Mery yang melihat kita sedari tadi," tuturnya Nana Mardiana yang segera duduk kembali ke tempat duduknya sebelum mendapat teguran yang takutnya berakhir dengan pemotongan bonus mereka.


"Bagus yah disaat jam istirahat seperti ini kalian manfaatkan untuk bergosip,apa kalian sudah bosan bekerja di sini Ha!! Kalau kalian masih ingin bekerja di perusahaan kita ini silahkan melanjutkan gosip kalian dan satu hal lagi mulai detik ini saya tidak ingin mendegradasi kalian menceritakan kejelekan atau apapun itu tentang keluarga Pak Agam dan juga Elsa Safira Nadine Renald jika tidak nama kalian masuk daftar blacklist untuk selamanya!" Tegasnya Mery kemudian meninggalkan keempat perempuan itu dalam kebingungan, keheranan, ketakutan dan pastinya ketakutan.


Sepeninggal Mery, mereka saling menyalahkan satu sama lainnya. Mereka berjanji tidak akan berani lagi bergibah apapun itu. Kecuali Nairah yang semakin membenci Elsa karena, menurutnya semua ini terjadi karena kesalahan Elsa bukan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Awas kamu yah Elsa hari ini kamu bisa tenang dan merasa bahagia atas kemenangan tapi, saya tidak akan tinggal diam akan mencari waktu untuk membalas semua penghinaan ini," batinnya Naira.


__ADS_2