Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 17


__ADS_3

Elsa melanjutkan perjalanannya bersama seorang Nyonya Besar. Elsa sama sekali belum mengetahui siapa perempuan tua yang masih cantik dan awet muda diusianya yang usianya sudah masuk kepala lima lebih.


Sepeninggal Mery, mereka saling menyalahkan satu sama lainnya. Mereka berjanji tidak akan berani lagi bergibah apapun itu. Kecuali Nairah yang semakin membenci Elsa karena, menurutnya semua ini terjadi karena kesalahan Elsa bukan dirinya sendiri.


"Awas kamu yah Elsa hari ini kamu bisa tenang dan merasa bahagia atas kemenangan tapi, saya tidak akan tinggal diam akan mencari waktu untuk membalas semua penghinaan ini," batinnya Naira.


"Nyonya ikut mobil aku saja yah, tapi maaf mobilnya kecil," tanyanya Elsa.


"Kok sekarang panggilnya Nyonya tadi, panggilnya ibu, kamu cukup panggil ibu saja biar lebih akrab," tampiknya Bu Liviana Alexander Mutahar.


"Oke kalau seperti itu Bu," ucapnya Elsa yang merasa senang bisa bertemu dengan perempuan yang cukup akrab dengannya dipertemukan pertamanya.


Elsa dan Bu Liviana berjalan masih bergandengan tangan, apa yang mereka lakukan direkam dan diambil gambarnya oleh Mery Alfian selaku asisten pribadi Agam khusus ditugaskan oleh Pak Mutahar Alexander.


"Kalau aku lihat sepertinya Bu Liviana menyukai Elsa, ini kemajuan yang bagus karena nyonya Livia orangnya sangat selektif untuk memilih calon pendamping hidup kedua putra putrinya itu, Elsa semoga kamu bisa lebih memikat hati Nyonya dan Tuan Besar karena itu kemajuan besar," bathin nya Mery.


Elsa sudah sampai di depan loby perusahaan," Ibu tunggu aku disini yah, aku mau ambil mobil dulu," pamitnya Elsa lalu berjalan meninggalkan ibu Liviana yang tersenyum simpul.


Elsa berjalan terburu-buru ke arah parkiran, karena tidak mau membuat Bu Livia teman makannya itu menunggu terlalu lama.


"Ternyata putraku itu cukup cerdik dan cepat tanggap karena sudah memberikan kartu kredit nya pada Elsa, semoga saja dugaanku ini tidak salah sesuai dengan yang aku lihat sampai detik ini, aku yakin perempuan ini mampu membuat Agam bahagia, tapi kenapa aku merasa aku sedang bersama putri bungsuku Almairah Mutia Ramadhani," gumam Bu Livia yang kembali harus teringat dengan mendiang salah satu puteri kembarnya yang sudah meninggal lebih sepuluh tahun lamanya.


Berselang beberapa menit kemudian, mobil sedan Corolla biru milik Elsa sudah terparkir di hadapan Bu Liviana dengan rapi. Elsa segera turun dari mobilnya lalu membukakan pintu mobil bagian kiri.


"Silahkan masuk Bu," ucapnya Elsa seolah seperti ajudan dari seorang ratu saja.


Bu Liviana masuk ke dalam mobil itu dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya," makasih,"


"Sama-sama yang mulia Ratu," candanya Elsa sambil menundukkan tubuhnya dengan melipat salah satu tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


Mereka kemudian menuju salah satu warung makan favorit Bu Liviana bukannya ke restoran bintang lima.


"Apa benar ibu memilih makan di warung saja?" tanyanya Elsa yang kembali mengulangi pertanyaannya untuk memastikan lebih jelasnya karena, ia sedikit kurang percaya jika seorang Nyonya yang berpenampilan menarik cantik elegan dan modis seperti kaum jetset memilih makan di warung lesehan.


"Iya benar sekali, apa kamu keberatan temani ibu makan di sana?" Tanyanya balik Bu Livia yang seolah tidak setuju dengan pertanyaan dari Elsa itu.


"Aah ibu kalau aku mah makan dimana saja itu tidak masalah yang paling penting aku bisa makan, makanannya enak, lezat aku kenyang masalah urusan bersih atau tidak itu urusan belakangan yang paling utama rasanya dulu," sanggahnya Elsa yang menatap sekilas ke arah Bu Livia sambil menyetir mobilnya dengan pelan.


"Kalau gitu kita sama, ibu juga tidak pilih makanan apalagi tempat makannya," elaknya Bu Livia.


Perjalanan mereka sedikit lama karena, terjebak macet yang cukup panjang padat merayap bagaikan ular raksasa saja. Mesin mobilnya Elsa berhenti, lalu menepi sekitar lokasi area parkiran.


"Maaf Bu apa benar ini adalah warung makan yang ibu maksud?" Elsa melihat ke arah warung tersebut yang cukup ramai dikunjungi oleh pengunjung di jam istirahat kantor itu.


"Betul-betul sekali," candanya Bu Livia yang meniru cara bicaranya kartun yang berasal dari negara tetangga siapa lagi kalau bukan Upin dan Ipin.


Elsa tertawa terpingkal-pingkal mendengar perempuan tua di sebelahnya itu yang berlagak menirukan duo bocah botak yang kelamaan akan tumbuh rambutnya.


Setelah tawanya Elsa reda barulah mereka berjalan memasuki warung makan itu. Baru saja nyampai Du depan pintu,Elsa sudah disambut hangat oleh pelayan warung makan tersebut.


"Selamat siang Mbak Elsa Safira Nadine dan selamat datang!" Sapanya Marni pelayan paling senior yang bekerja di warung itu.


"Selamat siang juga Mbak Marni," balasnya Elsa dengan senyuman khasnya.


Bu Livia cukup dibuat terkejut karena ternyata warung tersebut sepertinya sering didatangi oleh Elsa.


"Waduh gagal nih rencanaku kalau seperti ini, padahal aku ingin mengetes Elsa dengan makananan yang ada di sini," Bu Liviana membatin.


"Ayo Bu kita masuk, semoga saja meja yang sering aku pakai enggak ke isi pelanggan," tuturnya Elsa sambil menarik dengan pelan tangannya Bu Livia.

__ADS_1


Elsa memperlakukan Bu Livia seperti mamanya sendiri. Entah kenapa Elsa merasakan Bu Livia seolah seperti sudah kenal lama.


"Ini dia Bu tempat duduk favoritnya Elsa jika, berkunjung ke sini apa Ibu juga sudah pernah kesini sebelumnya?" Tanyanya Elsa yang mulai duduk lesehan di depan meja panjang.


Bu Liviana ikut duduk di depannya langsung Elsa baru berniat ingin membalas perkataan dari Elsa, pemilik warung yang menyadari kedatangan Nyonya Liviana segera mendatangi duanya itu.


"Nyonya Besar Livia!" Sapa perempuan yang memakai hijab panjang dengan gamis santai yang berwarna hijau tosca.


Bu Liviana yang sebenarnya ingin menutupi jati dirinya akhirnya terbuka juga. Bu Livia tersenyum tipis karena, penyamarannya hampir saja terbongkar. Bu Livia secepat kilat memberikan kode kepada Bu Norma agar segera menutup mulut dan tidak mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Nyonya Besar Liviana,!" Beonya Elsa dengan raut wajahnya yang keheranan sambil menautkan kedua alisnya itu.


Bu Liviana menaikkan jari jempolnya tepatnya di atas bibirnya itu agar,Bu Norma tidak melanjutkan perkataannya tentang siapa dia sebenarnya.


"Ehh ibu Norma ternyata kita ketemu di sini, apa ibu masih ikut pengajian di masjid?" Kilahnya Bu Liviana yang mengalihkan perhatiannya Elsa agar tidak berlanjut untuk mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Bu Norma.


"Eh i-ya Bu Liviana aku masih ikut tapi, akhir-akhir ini sibuk jadi hanya sesekali saja datangnya," tampik Bu Norma.


Elsa hanya terdiam menyaksikan percakapan mereka. Awalnya cukup terkejut mendengar nama itu yang akhirnya baru teringat jika nama itu sempat ia dengar beberapa hari yang lalu.


"Kalau gitu apa yang kalian ingin pesan kebetulan hari ini aku yakin traktir Bu Livia makan bersama perempuan muda cantik yang ada di hadapanku ini," pujinya Bu Norma.


"Makasih banyak atas pujiannya Bu Norma kami pesan nasi putih dua, ayam goreng,ayam bakar, sate kambing, ikan bakar sama sayur tumis yang biasa aku pesan dan minumnya yang dingin saja," terang Elsa.


"Kalau ibu pengennya makan apa?"


"Samain saja pesanannya calon mantuku Bu, tapi Ingat harus pakai kerupuk udang dan juga tempe tahu jangan lupa," jelas Bu Liviana.


Hanya butuh waktu yang singkat, pesanan semuanya sudah tersaji dengan rapi di atas meja makan mereka berdua. Mereka siang itu makan dengan penuh hikmah tapi, mereka sesekali tetap bercanda dan berbincang-bincang.

__ADS_1


"Untung saja Norma segera mengerti dengan arti tatapan dan kode yang aku berikan, kalau tidak bisa hancur semuanya, ini gunanya merahasiakan anggota keluarga dari banyak orang yang bekerja di perusahaannya, hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya," cicit Bu Liviana.


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...


__ADS_2