
Agam segera masuk ke dalam mobilnya setelah mendengar teriakkan dari kakak iparnya itu.
Ergi dan yang lainnya segera menghadapi ketiga anak buahnya Mila. Ergi segera menggendong tubuhnya Nada yang kehilangan banyak darah hingga pingsan.
"Nada, istriku!" Ucapnya Ergi yang segera berlari menuju ke arahnya Nada sebelum terjatuh dan tubuhnya menyentuh aspal siang itu yang cuacanya hujan rintik-rintik.
"Cepat bawa masuk ke dalam mobilmu istrimu!" Teriaknya Abdillah Abqari Agam.
Ergi segera mempercepat langkahnya menuju mobil tersebut sambil menggendong tubuhnya Nada yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Ando saya serahkan pada kalian untuk mengurus perempuan lucknut itu!" Geramnya Agam lalu secepatnya mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Untungnya Agam sudah sering bolak balik ke Samarinda sehingga hafal sedikit dengan jalan yang ada di sana.
"Nada bangun dong sayang jangan seperti ini, kalau kamu kayak gini itu sama saja kamu menyiksaku dan membuatku sangat ketakutan," ratapnya Ergi Andrean Renald yang sudah memangku kepala istrinya yang sudah tidak sadarkan diri setelah terkena tembakan di lengannya.
Aldian Adlan Kim, Carlando Arland Roland dan pihak kepolisian serta beberapa anak buahnya segera menyerbu dan menyergap penjahat yang hanya tersisa empat orang itu termasuk Mila Agnesia yang menjadi dalang semua kekacauan dan musibah yang dialami oleh mereka.
"Lepaskan aku pak! Aku tidak bersalah sama sekali, mereka yang sudah jahat sama saya sehingga aku membalas perbuatan mereka sendiri padaku!" Teriaknya Mila ketika tangannya diborgol dan segera digiring masuk ke dalam mobil polisi.
__ADS_1
Sedangkan ketiga anak buahnya, salah satu dari mereka sudah tidak bernyawa lagi meninggal dunia ketika terkena tembakan dari pihak polisi disaat mendorong tubuhnya Nada Khaerunnisha Azzahrah Lukman.
"Rimgkus semua penjahatnya, mereka sudah meresahkan masyarakat dan menjadi buronan negara, mereka itu adalah gembong narkoba yang sudah kita cari selama ini, bos besar mereka Muis sudah berada di kantor," imbuhnya Pak Leonardo kapten kepolisian tersebut.
"Kamu tidak perlu banyak bicara omong kosong karena, semua itu percuma saja karena kami sudah memilki banyak bukti jadi bekerjasama lah agar kami tidak berbuat kasar padamu!" Gertaknya Pak Syam anak buahnya pak Leonardo dari Reskrim Polda Samarinda.
"Alhamdulillah akhirnya terungkap sudah siapa yang berniat membunuh Elsa Safira Nadine dengan berniat menculik dan menjual Dini Susanti adalah dia perempuan tidak tahu diri itu hanya karena, diputuskan hingga berbuat jahat," dengusnya Aldian.
Ariel Satrya Miller menepuk pundaknya Aldian adik sepupunya dari calon istrinya itu," makanya besok-besok kau harus hidup dengan seorang perempuan saja dan setialah dengan pasanganmu saat ini, jangan mengobral cinta dan janji dengan wanita lain sedangkan kamu sudah punya pasangan resmi," tuturnya Ariel dengan pandangan matanya tertuju pada Ando dengan tatapan sinisnya itu.
"Kalau gitu kita kembali ke hotel dan mengabarkan kepada uncle Alexander dan juga yang lainnya terutama kepada keluarganya Nada dan papanya Elsa kejadian ini agar, mereka segera menyusul ke rumah sakit," usulnya Aldian.
Ergi terus berusaha untuk menyadarkan istrinya itu dengan menepuk-nepuk pelan pipinya Nada," istriku Nada bangunlah, apa kamu tidak kasihan melihatku khawatir dan takut melihatmu seperti ini,apa kamu tidak ingin datang menghadiri pesta resepsi pernikahan kita?" Racaunya Ergi.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mobil Agam sudah berhenti di depan lobi rumah sakit. Agam sigap berlari mengambil bangkar untuk membantu Ergi. Dengan cekatan Ergi menaikkan tubuhnya Nada ke atas ranjang bangkar tersebut.
Beberapa perawat dengan sigap membantu mereka setelah melihat apa yang mereka lakukan.
"Sini kami bantu Pak," tawarnya beberapa perawat dan suster tersebut.
__ADS_1
Agam tersenyum karena mendapatkan bantuan dari pihak rumah sakit. Dia segera menghubungi nomor hp papanya terlebih dahulu, barulah setelah itu nomor hp nya Elsa istrinya yang baru sekitar tiga jam yang lalu dinikahinya itu.
Mereka sungguh betapa terkejut mendengar penuturan dari Agam. Tanpa banyak pikir dan ragu, mereka berbondong-bondong mendatangi rumah sakit untuk melihat keadaan Nada. Terutama anggota keluarga intinya Nada.
"Kenapa bisa seperti Nak, siapa sebenarnya mereka?" Tanyanya Bu Ratih Ambar Purwatih dengan kecemasan yang sangat terpancar dari wajahnya itu yang mencemaskan keadaan dari anak menantu perempuannya, apalagi Nada yang sedang hamil tiga bulan itu.
"Ceritanya panjang Mama, yang harus kita lakukan adalah mendoakan keselamatan dan yang terbaik untuk mereka semoga tidak terjadi sesuatu padanya dan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT," tukasnya Elsa seraya memeluk tubuh mamanya itu yang sudah meneteskan air matanya itu yang membasahi wajahnya.
"Ya Nak Elsa, jadi putriku gimana sekarang kabarnya, bibi sangat takut dan keempat adik-adiknya gimana,apa mereka dalam keadaan yang baik-baik saja?" Tanyanya Mama Nada dengan penuh rasa takut yang berlebih-lebihan.
"Alhamdulillah adik dan sepupunya Nada dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan segera terapi dan pelayanan prosedur kesehatan untuk menyembuhkan traumatis yang mereka mungkin alami," jawabnya Elsa.
"Ya Allah… kenapa meski kakak juga sempet mengenal perempuan psikopat seperti Mila Agnesia yang ternyata dia juga yang hampir membunuhku waktu itu, untungnya aku sigap untuk memecahkan kaca jendela mobil dengan sekuat tenaga," Elsa membatin.
"Semoga saja penjahatnya mendapatkan hukuman yang sangat berat kalau perlu hukuman mati sekalian," kesalnya Bu Annie Maria mamanya Aldian.
Benar sekali Mbak yang kamu katakan, mereka memang pantas untuk mendekam di penjara selama-lamanya kalau perlu mereka membusuk selama-lamanya di dalam tahanan jangan diberikan apapun itu," geramnya Bu Siska Maminya Ariel.
Hujan deras sore itu tidak menyurutkan semangatnya mereka untuk segera berkunjung ke rumah sakit.
__ADS_1