Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 26


__ADS_3

"Stop!! Aku mohon hentikan Abang!" Teriaknya Amarah yang terus berusaha untuk menghentikan pukulan kakak sepupunya.


"Apa yang kamu lakukan pada adikku haa!!" Gertaknya Aldian adik sepupunya Agam sambil terus memukul pria itu dengan membabi buta.


"Abang Al apa yang Abang lakukan, please hentikan pukulannya!" Teriak Amarah yang berusaha untuk mencegah Aldian untuk terus memukuli pria yang sudah berbaik hati membantunya untuk pulang.


Aldian sama sekali tidak memberikan waktu kepada pemuda itu untuk membela dirinya.


"Rasakan pukulan ku ini, karena kamu berani berniat kurang ajar kepada adikku!" Ancamnya Aldian yang bersiap untuk melayangkan pukulan tinjunya, tapi dengan cepat pula Amarah untuk mencegah abangnya hingga pukulan itu mendarat di punggungnya Amarah.


"Aahhh!! Sakit!!" Teriaknya Amarah yang berdiri sebagai benteng perlindungan ditubuhnya pria ojek online itu.


Aldian yang menyadari pukulannya salah sasaran segera memeriksa kondisi tubuhnya Amarah.


"Amarah!" Pekiknya Aldian.


Tubuhnya Amarah sudah terbaring di dalam pangkuannya Aldian, sedang pria yang tidak bersalah itu yang dipukuli beberapa kali ikut jongkok di depan Amarah karena, cukup khawatir melihat gadis yang rela melindunginya agar terhindar dari pukulan, walaupun semua ini gara-garanya sehingga pria ojek itu dipukul karena kesalahpahaman belaka.


Pria ojek itu langsung cepat tanggap dan berinisiatif untuk menolong Amarah Meylani Ramadhani Mukhtar. Pria yang dikira tukang ojek itu, menggendong tubuhnya Amarah masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di sana.


Walaupun terasa sakit beberapa pukulan yang ia dapatkan, tapi tidak menyurutkan semangatnya dan niatnya untuk membawa Amarah ke rumah sakit.


"Hey! Tunggu kamu mau bawa ke mana adikku!" Teriak Aldian Faiz Kim.


Pria itu tidak peduli dengan teriakannya Aldian, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan Aldian yang mengejar mereka. Al pun segera masuk ke dalam mobilnya di kala hujan deras itu.


"Kenapa gadis ini bodoh sekali, demi menahan pukulan kakaknya rela dipukulin untuk melindungiku," gumamnya pria itu yang memangku tubuhnya Amarah yang tidak sadarkan diri.


"Syam! Tolong cepat," pintanya.


"Baik Tuan Muda Ariel," jawab sang supir sekaligus anak buahnya pria yang dipanggil Ariel itu.


Beberapa mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Rombongan itu segera berangkat menuju salah satu rumah sakit terdekat. Aldian mengikuti kemanapun mobil yang membawa adik sepupunya itu.


Aldian Faiz Kim adalah adik sepupunya Agam dari papanya, Aldian baru sekitar beberapa hari kedatangannya di Indonesia. Aldian yang selama ini tinggal di Korea Selatan Seoul memutuskan untuk meneruskan perusahaan papanya yang ada di Jakarta, tapi memilih tinggal bersama keluarga besarnya Pak Alexander Mutahar dan istrinya Liviana Alexander Mutahar.


Ariel kembali menggendong tubuhnya Amarah yang masih betah tak sadarkan diri itu. Beberapa anak buahnya pun mengekor di belakang dengan patuh.

__ADS_1


"Tolong Dokter segera periksa kondisinya!" Perintahnya Ariel seraya menidurkan tubuhnya Amarah.


Beberapa perawat dokter segera berdatangan ke arah mereka dan tidak menyangka, jika pria yang meminta tolong dan berteriak itu adalah pemilik rumah sakit tersebut.


"Apa yang terjadi Tuan Muda Ariel Satya Muller?" Tanya salah satu dokter tersebut.


"Tidak perlu banyak tanya, tolong cepat tangani perempuan ini, tadi sempat terkena pukulan dipunggungnya," jelas Ariel singkat.


Dokter dan tim perawat segera memeriksa tubuhnya Amarah yang basah kuyup itu.


"Maaf Tuan Anda diluar saja karena, kami akan mengganti pakaian pasien yang basah ini," pinta perawat.


Ariel tanpa sepatah katapun melangkah kakinya menuju pintu keluar ICU. Dia tidak perduli dengan kondisinya yang babak belur dibagian wajahnya itu.


"Tuan Muda sebaiknya Anda juga berganti pakaian, dan mengobati lukanya Tuan Muda," ujarnya Syam asistennya Ariel.


Ariel mengarahkan pandangannya ke arah pakaian yang dipakainya bergantian ke tubuhnya yang terkena pukulan.


"Ini pakaian untuk Tuan," Syam mengulurkan ke hadapannya Ariel sebuah paper bag yang berisi pakaian lengkap untuk gantinya.


"Katakan pada pihak rumah sakit untuk memberikan pelayanan yang paling terbaik untuk perempuan itu,"


Ariel berjalan ke arah salah satu ruangan khusus yang selalu dipakainya, jika berkunjung ke rumah sakit. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat.


"Gadis bodoh, ceroboh tapi sayangnya cantik," gumam Ariel yang baru kali ini memuji seorang perempuan muda.


Ariel Satya Muller adalah pria berusia 28 tahun pewaris tunggal dari beberapa perusahaan besar milik kedua orang tuanya. Seorang anak tunggal yang sekarang menjadi CEO perusahaan besar di Indonesia.


Setelah beberapa menit kemudian, Ariel sudah mengganti pakaiannya dan juga membersihkan seluruh tubuhnya. Ia berjalan ke arah kamar rawat inap milik Amarah yang telah diperiksa dan juga dipindahkan sesuai keinginannya.


Syam yang melihat tuannya segera berjalan menghampiri Ariel," gadis itu sudah baikan hanya saja tubuhnya demam tetapi punggungnya yang terkena pukulan hanya memar sedikit saja," jelasnya Syam dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Ariel melanjutkan perjalanannya menuju ruangan VVIP rumah sakit tersebut. Aldian yang kebetulan duduk di salah satu sofa berdiri setelah menyadari kedatangan Ariel. Aldian bermaksud untuk kembali memberikan perhitungan. Dia juga bermaksud untuk bertanya tentang apa yang mereka lakukan berdua di tempat sepi disaat hujan, tapi niatnya kembali ia urungkan karena pintu kamar inap itu kembali terbuka.


Tatapan matanya ia arahkan ke pintu dan tangannya terpaksa menggantung di udara melihat uncle dan auntynya datang.


"Al, apa yang terjadi pada adikmu?" Tanyanya Bu Livia yang sangat khawatir dengan kondisi dari putri tunggalnya itu.

__ADS_1


Aldian menatap tajam ke arah Ariel yang hanya terdiam karena,sulit untuk menjawab pertanyaan dari auntynya itu. Bu Liviana langsung membungkuk sedikit untuk memeluk tubuh putrinya itu yang baru saja sadar.


"Mama," lirihnya Amarah.


Aldian dan Ariel segera berjalan ke arah bangkar rumah sakit yang terdapat Amarah yang baru saja sadar dari pingsannya.


"Apa yang terjadi padamu putriku, apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Bu Livia yang memberondong berbagai pertanyaan untuk putrinya itu.


"Aku haus Ma," cicitnya Amarah.


Bu Livia segera mengisi gelas dengan air putih yang sesuai dengan keinginannya Amarah. Pak Muhktar yang melihat Ariel cukup terkejut, karena Ariel adalah salah satu klien bisnisnya yang cukup diperhitungkan kerjasama mereka berdua.


"Kenapa Pak Ariel ada di sini?" Batinnya Pak Mutahar.


Aldian mengatur posisi ranjangnya Amarah agar memudahkan Amarah meminum air itu.


"Apa yang sekarang kamu rasakan Nak?"


"Aku baik-baik saja kok Ma, Mama dan papa tidak perlu khawatir," sanggahnya Amarah yang tatapan matanya tertuju pada Ariel pria asing yang dengan beraninya ia anggap sebagai tukang ojek.


Aldian segera maju ke depan untuk bertanya kepada Amarah, tapi Amarah segera memberikan kode kepada kakak sepupunya itu untuk diam dan tidak perlu mengungkit kejadian beberapa jam yang lalu.


Aldian pun dengan terpaksa mengurungkan niatnya itu demi kebaikan mereka bersama untuk sementara waktu. Tatapan matanya yang tajam mengarah ke Ariel yang tersenyum tipis menanggapi arti dari tatapannya.


"Minumlah Nak,"


Bu Liviana memeriksa suhu tubuhnya Amarah," Alhamdulillah suhu tubuhmu tidak seperti kata dokter yang cukup tinggi, demam kamu sudah reda Nak,"


"Alhamdulillah Ma," cicitnya Amarah.


"Maaf Pak Ariel kok bisa ada di sini, apa Pak Ariel mengenal putriku?"


Tanyanya Pak Mukhtar dengan penuh selidik yang mereka masih berdiri memandangi Amarah yang meminum obatnya itu.


"Sebaiknya mungkin kita berbicara di luar saja Pak Alexander, tidak baik menggangu kenyamanan pasien,"


"Baik Tuan Ariel dengan senang hati,"

__ADS_1


Aldian pun mengekor kepergian dua pria itu dengan tatapan matanya yang terus tertuju pada Ariel.


__ADS_2