Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 46


__ADS_3

Aldian yang awalnya juga panik ketika Dini turun dari mobil minibus itu dengan seorang pria botak seperti Upin Ipin itu dengan tangannya memegang pistol agar, Dini tidak melakukan perlawanan terhadap mereka. Apalagi mereka melihat kedatangan Aldian yang demikian beraninya melakukan perlawanan dengan aksi heroiknya untuk menyelematkan kekasih pujaan hatinya itu.


Agam yang baru saja hendak ke ruang tamunya untuk berkumpul dengan keluarga besarnya yang sudah berdatangan baik dari dalam negeri seperti dari daerah jauh hingga maupun luar negeri.


Langkahnya Agam terhenti padahal tersisa beberapa langkah saja karena deringan telponnya. Ia pun segera mengangkat telpon itu. Matanya melotot dan terbelalak mendengar perkataan dari orang yang dari seberang telepon.


"Apa! Itu tidak mungkin!" Teriaknya Agam.


"Kalau seperti ini aku juga bingung untuk melakukan perlawanan mengingat nyawa Dini dalam bahaya," gumamnya Aldian yang terus-menerus berusaha menghindar dari serangan sibotak.


Tetapi,sudut ekor matanya melihat kedatangan beberapa anak buahnya yang sudah bersiap diposisi masing-masing untuk melakukan penyergapan terhadap penjahat yang berjumlah lima orang itu. Sudut bibirnya terangkat ke atas saking senangnya karena, harapan dan kesempatannya bisa terbuka lebar untuk menyelamatkan Dini dalam keadaan apa-apa.


Aldian Aslan Kim tersenyum penuh kemenangan setelah kedatangan anak buahnya itu. Penjahat yang berkepala botak plontos itu tumbang dan terjatuh bersimbah darah ketika peluru timah besi menghantam kepalanya.


"Aaahhh! Tidak!!" Teriaknya Dini Kayla Susanti Wahab yang shock melihat pria yang sedari tadi menodongkan senjata api ke arah keningnya tertembak oleh penembak jitu yang dimiliki oleh anak buahnya Abdilallah Abqari Agam yang sudah terlatih.


"Good job Brotha," pujinya Aldian Aslan Kim dengan menaikkanl jari jempolnya ke arahnya Mike Arjuna.


Aldian secepat kilat melayangkan tinjunya keperut pria yang gondrong itu dengan kekuatan penuh untuk melumpuhkannya. Anak buahnya yang lain pun segera mengamankan anak buahnya penjahat yang lainnya.


"Amankan mereka semua dan bawa segera ke ruangan bawah tanah untuk diinterogasi, jika kalian sudah dapat informasi yang akurat dan benar adanya, kalian antar mereka segera ke pihak yang berwajib biarkan polisi yang memproses mereka selanjutnya," tegasnya Aldian.


"Siap Tuan Muda," jawab anak buahnya itu.


Aldian melipat ke belakang tangannya brewok gondrong itu dan memaksanya untuk membungkuk.

__ADS_1


"Katakan padaku siapa yang menyuruh kalian ke sini, sebelum aku bertindak lebih brutal dan sadis lagi," tanyanya Aldian yang tidak membawa gondrong untuk ditanyai dengan banyak pertanyaannya.


"Am-pun Tuan, sa-ya ti-dak akan mengganggu kekasihnya Tuan Muda lagi, kami hanya disuruh oleh Tuan Besar Muis untuk membawa Nona Dini, karena dia akan segera akan dijadikan wanita kupu-kupu malam karena ibu tirinya sudah menjualnya pada bos kami Tuan," jelasnya Gondrong yang sudah gemetaran ketakutan dan menahan rasa sakitnya akibat dari pukulan dari Al.


"Mike berhenti!! Tidak perlu kalian amankan mereka, segera bawa saja langsung ke kantor polisi karena motif dari kejahatan mereka sudah terbongkar!" Perintahnya Aldian dengan tegas sembari mendorong tubuhnya Gondrong ke hadapan Mike.


Aldian segera berjalan ke arah Dini yang nampak shock melihat beberapa insiden kejadian yang begitu cepat terjadi di depan matanya. Air matanya menetes membasahi pipinya, tubuhnya gemetaran ketakutan.


"Astagfirullah aladzim, apa yang terjadi ya Allah," lirihnya Dini suster cantik yang disukai oleh Aldian adik sepupunya Agam.


Aldian dengan segera memeluk tubuhnya Dini yang berniat untuk menenangkan dirinya Dini dari keterkejutannya.


"Sudah, tenang mereka sudah dibawa ke kantor polisi, tidak bakalan ada lagi yang akan mengagumu, saya tidak mungkin akan membiarkan siapapun menyakitimu termasuk anggota keluargamu sendiri," ujarnya Al yang berusaha membujuk Dini supaya air matanya Dini berhenti.


"Tapi, Pak Aldian saya tidak ingin…," ucapannya terpotong karena kembali histeris menangis hingga suara tangisannya tersedu-sedu.


"Agam apa yang terjadi padamu, kamu tahu enggak gara-gara ulahmu itu kepala kami puyeng loh," sarkasnya Bu Annie adik ipar papanya itu ibu dari Aldian.


Agam segera berhenti berjalan kesana kemari, lalu mulai duduk," Aldian sedang menghadapi beberapa penjahat Aunty,tapi hingga detik ini Agam belum mendapatkan informasi lagi, satupun dari mereka tidak ada yang mengangkat telponnya," ungkap Agam.


"Apa!! Aldian dalam bahaya!! Itu tidak mungkin Agam, putraku itu jago bela diri pasti dia bisa mengalahkan musuh-musuhnya apa lagi hanya penjahat dan berandalan jalanan, jadi kamu tidak perlu khawatir seperti itu juga kali keponakannya aunty yang ganteng," sanggahnya Bu Annie.


Semua orang terkejut melihat dan mendengar perkataan dari reaksinya maminya Aldian.


"Ya elah kamu yah putramu sedang dalam masalah seperti itu,kamu dengan entengnya berbicara seperti itu," dengus Bu Amber Mariah Bundanya Andira Farhana Albert.

__ADS_1


"Tunggu saja dengan santai,rileks dan tenang insha Allah putraku kembali dengan membawa kemenangan," imbuhnya Bu Annie Rustam Effendi.


Mereka kembali tenang dan khawatir dengan kondisi dari Aldian. Mereka melanjutkan membicarakan masalah pakaian seragam yang paling cocok untuk mereka pakai ketika ke Samarinda, Kalimantan Timur. Serta di rumahnya Ariel Satrya Muller dengan calon suaminya Arimbi Carlando Arland Roland yang semuanya memiliki adat dan tradisi yang berbeda.


Dini sudah diantar pulang dengan selamat, baru saja Dini mengunci pintu rumahnya, hpnya segera berdering. Ia segera mengangkat telpon dari seseorang itu yang ternyata Elsa Safira Nadine Renaldi yang menelponnya.


Dini seger menetralkan perasaannya, suaranya agar Elsa tidak mengetahui apa yang terjadi padanya itu, "Assalamualaikum Mbak,"


"Waalaikum salam, Din kamu ada dimana?" Tanyanya Elsa dengan penuh selidik walaupun sudah sedikit lega karena sudah mendengar suaranya Dini.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok Mbak, emangnya ada? Apa Mbak Elsa baik-baik saja?" Tanyanya balik Dini.


Dini tak lupa mengunci rapat pintu rumahnya, lalu berjalan ke arah atas lantai dua.


"Mbak tadi tidak bisa tenang dan sangat takut, Mbak teringat denganmu yang hanya bertiga dengan bibi Sumi dan Mbak Siti, tapi kalau kamu baik-baik saja Mbak bisa tenang, karena entah kenapa perasaan dan feelingnya Abang selalu gelisah sejak tadi habis shalat isya," ungkapnya Elsa.


"Ya Allah… segitunya Mbak Elsa sampai-sampai merasakan apa yang terjadi padaku seperti seolah kami ini ada ikatan batin satu sama lainnya," batinnya Dini.


"Kalau gitu aku tutup yah telponnya, ingat hari sabtu pesawat kamu berangkat pagi jam delapan pagi, jangan sampai lupa, enggak enak kalau kamu juga nebeng sama anggota keluarganya Abang Agam ," ucapnya Elsa yang berdiri di balkon kamarnya sambil bertelponan dengan Dini anak dari sahabat papa dan mamanya.


"Iya Mbak, assalamualaikum,'


"Waalaikum salam."


Elsa merasakan ada keanehan ketika berbicara dengan Dini,tapi dia tidak ingin berpikiran negatif, ia berusaha untuk positif thinking saja.

__ADS_1


"Semoga apa yang aku curigai tidak seperti dengan kenyataan yang ada," cicitnya Elsa.


__ADS_2