Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 19


__ADS_3

Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


Setelah beberapa saat kemudian, Elsa pun pulang mengingat hari sudah sore. Langkah kakinya cukup panjang setelah melihat ke arah langit akan segera turun hujan.


"Kok tiba-tiba mendung yah? Padahal tadi cuacanya sangat cerah dan cukup panas," gumamnya Elsa sembari memperhatikan ke arah langit.


Elsa semakin mempercepat langkah kakinya menuju dimana mobilnya berada. Baru sepersekian detik, ia duduk di dalam mobilnya hujan pun turun dengan lebatnya.


"Syukur Alhamdulillah… untungnya cepat bergerak jika tidak aku sudah mandi air hujan, tapi ngomong-ngomong siapa yang datang ke? Coba tadi aku tanyakan pada pak Rusli,"


Suara mesin mobilnya menyala di tengah derasnya hujan, Elsa dengan perlahan melakukan tunggangannya menuju jalan raya. Dia tidak mau berlama-lama karena, jika dia terkena air hujan walaupun sedikit ujung-ujungnya akan berakhir dengan demam.


"Aku berjanji akan datang lagi berkunjung untuk melihatmu, karena cuaca yang jelek sehingga aku harus secepatnya pulang," cicit Elsa.

__ADS_1


Entah kenapa kekebalan fisiknya seperti itu, sejak jantung itu berada di dalam tubuhnya. Air hujan seolah menjadi lawannya dalam kehidupannya. Air hujan yang bagi kebanyakan orang lain adalah berkah tersendiri sedang baginya adalah suatu cobaan yang cukup besar untuk dirinya.


"Siapa gadis itu yang datang? Tapi dari kejauhan aku sepertinya mengenal perempuan itu, tapi siapa? Sayangnya hujan andaikan enggak hujan aku sudah bertemu dengan perempuan itu,"


Beberapa hari kemudian, Elsa yang baru saja pulang dari kantornya dibuat pusing dengan permasalahan percintaan kakaknya. Mila ternyata datang ke rumah itu untuk memaksa Ergi Andrean untuk menikahinya.


"Abang percayalah ini anakmu, bayi yang berada di dalam kandunganku adalah calon anak kita berdua," ucapnya Mila Agnesia sambil berlutut memohon agar segera dinikahi.


"Mila, aku tidak akan percaya begitu saja karena aku yakin dengan sangat jika calon bayimu bukan milikku aku bukan ayah biologisnya lagian mana mungkin aku menikahimu sedangkan aku sudah bertunangan dengan wanita lain yang sangat aku sayangi dan cintai jadi, aku mohon jujurlah padaku!" Kesalnya Ergi.


"Abang apapun yang kamu katakan ini tetap darah dagingmu, aku berani bersumpah kok," kilahnya Mila Agnesia yang raut wajahnya tersirat ada guratan ketakutan dan kegelisahan yang bersamaan menghantui hati dan pikirannya.


Puk!!


"Abang stop dong ketawanya dengerin dulu apa yang akan dikatakan oleh Mila," ketusnya Elsa Safira Nadine yang memijit pelipisnya saking pusingnya.


Untung saja Nada Khaerani Azizah Razak ada di kampungnya sehingga masalah yang ditimbulkan oleh Mila tidak terlalu rumit untuk saat itu.

__ADS_1


Erga menundukkan tubuhnya ke hadapan Mila mantan teman tidurnya itu seraya memegang dagu lancipnya perempuan masa lalunya itu, "Mila, aku masih ingat dengan jelas terakhir kalinya kita berhubungan itu kurang lebih empat bulan yang hari minggu tanggal lima belas dan tadi kamu bilang usia kandunganmu sudah besar dan kalau tidak salah dengar tadi kau ngomongnya baru jalan dua bulan kan, Mil aku ini bukan anak kemarin sore yang mudah kamu bodohi dan kibulin begitu saja," cibirnya Ergi dengan senyuman penuh artinya.


Elsa belum ingin menimpali percakapan keduanya karena, merasa belum saatnya juga. Dia hanya ingin melihat apa yang aku mereka lakukan karet, kakaknya masih sanggup mengatasi ulah kebohongan perempuan itu.


" Aku ingatkan kembali mungkin kamu lupa, setiap kali kita melakukannya aku selalu memakai pengaman kamu juga konsumsi alat kontrasepsi jadi itu tidak mungkin terjadi,Mila andai saja aku betul ayah dari bayi yang ada dalam kandunganmu pasti aku akan bertanggung jawab," tegas Ergi yang tidak ingin bermain dengan kehidupannya apalagi masalah tentang pernikahan yang seharusnya sekali seumur hidupnya saja.


Elsa hanya terdiam tanpa kata, ia juga punya banyak pikiran karena permintaan dari Abdillah Abqari Agam untuk menemaninya ke luar negeri. Perkataan Agam masih terngiang di telinganya itu.


"Besok sore kita akan berangkat ke Seoul Korea Selatan, aku tidak menerima sanggahan, penolakan dan apapun itu!"


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...


Elsa berniat untuk membantah dan protes perkataan dari Agam tapi, apa yang akan Ia lakukan percuma saja. Agam segera kabur dari depannya karena, tidak ingin mendengar penolakan dengan berbagai macam alasan yang tidak masuk akal baginya.


"Saya tidak akan biarkan kamu membatalkan kepergian kita berdua esok hari, aku akan mengajak kamu ke Seoul Korea Selatan untuk menikmati kebersamaan kita berdua,"


Elsa terduduk di atas kursinya seraya menyentuhkan keningnya ke atas dasar mejanya.

__ADS_1


"Ya Allah... aku bukannya tidak profesional hanya saja kami perginya itu hanya berdua saja, ini kan sama saja buat aku tidak bebas bepergian."


__ADS_2