
Jam menunjukkan baru pukul 6 pagi, Agam masih terlelap dalam tidurnya itu karena pengaruh obat bius ketika dijahit dibagian keningnya.
"Makasih banyak, tugas kalian sudah selesai silahkan keluar dan Ingat jaga baik-baik di sekitar tempat ini dan jika ada yang menurut kalian tidak beres segera hubungi kami," ujar Aldian adik sepupunya Agam dari papanya itu.
Pintu itu tertutup rapat dari luar, tapi baru saja Aldian ingin buka suara setelah Elsa menyelimuti sebagian tubuhnya Agam, pintu itu kembali terbuka lebar. Masuklah seorang perawat yang memakai hijab dengan lesung pipinya yang menbuatnya terpesona pada pandangan pertamanya
Elsa berjalan ke arah ranjang penunggu pasien dengan tertatih dan selang infus nya dipegang oleh Aldian Kim adik sepupunya Abdillah Abqari Agam.
"Al kamu ngomong apa tadi?" Tanyanya Elsa yang menautkan kedua alisnya melihat tingkahnya Aldian.
Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sembari tertawa cengengesan, "Ehh tidak apa-apa kok Mbak, aku tidak ngomong apa-apa kok," elaknya Aldian.
"Ooh gitu yah,"
Suster Dini hanya terdiam tanpa ada niat untuk menanggapi perkataannya Aldian karena ini sekian kalinya hari ini ada beberapa pria yang mencoba untuk menarik perhatiannya.
"Maaf Sus Dini apa ada yang bisa kami bantu atau ada barangnya yang terlupakan?" Tanyanya Elsa Safira Nadine Renald yang keheranan melihat kedatangan seorang perawat karena, ia sama sekali tidak menghubungi siapa perawat yang berjaga pagi itu.
"Maaf Non Elsa, tadi saya melupakan obatnya Nona yang seharusnya nona minum," jawabnya Dini sambil menyerahkan obat ke tangannya Aldian karena ia lebih duluan mengayunkan tangannya ke arahnya Dini.
"Makasih suster Dini yang cantik," ujarnya Aldian yang mengecilkan suaranya ketika mengakhiri ucapannya itu.
Dini tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Aldian, baru hendak berpamitan kepada Elsa, tetapi pintu kembali terbuka lebar. Masuklah tiga orang dari luar yang sangat khawatir dengan keadaan dan kondisinya Elsa.
"Elsa putrinya Mama, apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya dengan sendu dari mulut mamanya itu yang langsung berhamburan memeluk tubuhnya Elsa dengan erat.
Elsa terharu melihat kedatangan mama,papa dan kakaknya dari Samarinda Kalimantan Timur.
"Kenapa kalian harus repot-repot datang ke Jakarta, Elsa tidak apa-apa kok," pungkasnya Elsa Safira Nadine yang menatap haru melihat begitu besar rasa sayang dan cintanya kepadanya itu.
"Ya ampun Elsa… masa Mama di Samarinda duduk dengan santainya sedangkan putri semata wayangku harus terbaring lemah di dalam rumah sakit tanpa ada yang menemani," tukasnya Bu Ratih Purwasih Prasetyo Renaldi.
"Betul sekali apa yang dikatakan oleh mamamu, bagaimana pun keadaan kami selama kami masih sanggup untuk bepergian jauh pasti dan sudah tentu kami akan hadir disini," terangnya Pak Renaldi.
Ergi melihat ke arah Agam yang tertidur pulas di atas ranjang, "Tapi, kalau adek enggak harapkan kedatangan kami karena sudah ada seseorang yang menjaganya mungkin lebih baik kita pulang saja ma," candanya Ergi Andrean Renald.
__ADS_1
"Ish Abang mentang-mentang mau nikah jadi gitu yah sudah tidak perhatian sama adek," ketusnya Elsa yang memperlihatkan wajah cemberutnya.
Sedangkan Dini dan Aldian yang kebetulan masih ada d dalam sana hanya terdiam dan memperhatikan secara seksama apa saja yang mereka katakan. Hingga Dini cukup terkejut melihat siapa pria tua yang menjadi papanya Elsa pasien yang sedang ia rawat itu.
"Pak Renald Hutabarat!" Tebaknya Dini yang takut jika salah mengenali orang.
Tuan Renaldi segera mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara,ia berusaha untuk mencoba mengingat-ingatnya dengan baik.
"Siapa yah, apa kamu kenal dengan bapak?" Tanyanya balik Dini.
"Mungkin bapak sudah melupakan Dini Pak, tapi bagi Dini saya tidak mungkin melupakan kebaikan dan jasa-jasa Bapak yang sudah mengajarkan nilai-nilai moral kebaikan dalam kehidupan kami siswa bapak dulu, saya Dini Kayla Susanti anaknya Pak Danu yang satu sekolah dengan bapak dulu di SMA 3 Kartini," jelasnya Dini yang mengingat beberapa tahun silam ketika ia masih sekolah.
"Ya Allah… kamu Dini yang selalu ranking satu ketika Bapak ajar dulu ka!" Tebaknya Pak Renaldi.
Dini tersenyum tulus," benar sekali Pak," jawab Dini.
"Apa benar kamu anaknya Pak Danu Fuadi dan ibu Sita?" Tanyanya Bu Ratih yang juga berusaha untuk mengingat salah satu sahabatnya dan anggota arisan istri-istri guru dulu.
"Benar sekali Tante,"
"Masya Allah Nak, kamu semakin cantik saja, apa kamu ingat putri Ibu dulu yang sering kamu temani main boneka kalau ibu arisan, ini Elsa loh Nak Din," tutur Bu Ratih yang seolah bernostalgia dengan masa mudanya dulu.
"Benar sekali," jawab Elsa.
"Ya Allah…adek kamu sudah gede dan semakin cantik deh," pujinya Dini.
"Idih sus Dini kita cuma beda lima bulan saja kali tidak usah panggil adek segala, kayak aku masih sma," guraunya Elsa.
"Kalau gitu saya pamit dulu Om, Tante karena sudah selesai waktu jaga saya hari ini," pamitnya Dini yang hendak pergi dari hadapan mereka setelah saling berkenalan untuk mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Tunggu dulu Nak,Om minta nomor hp kamu karena, kapan-kapan Om pengen reunian dengan ayah kamu," pintanya Pak Renaldi.
Dini segera menyebut nomor hpnya yang dua belas digit itu, diam-diam Al segera menekan tombol nomor hpnya Dini dilayar hpnya itu.
"Dapat sudah nomor hpmu, makasih banyak Om sudah lancarkan jalan usaha yang aku akan lakukan untuk melakukan pendekatan dengan Suster cantik," Aldian membatin.
__ADS_1
Bu Ratih mamanya Elsa Safira Nadine memegang tangannya Dini Kayla Susanti itu dengan penuh kelembutan," Nak kapan-kapan datanglah berkunjunglah ke rumah, kami selalu menunggu kedatanganmu bersama mamamu," ucapnya Bu Ratih Renaldi.
Dini tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mamanya Elsa sahabat mama dan papanya itu.
"Maaf Tante kalau Mama sudah meninggal dunia sekitar lima tahun lalu,kalau papa sudah menikah lagi dengan keluarganya sendiri dan sekarang mereka menetap di Semarang," jelasnya Dini.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Tante turut berdukacita, kamu yang sabar yah cantik,"imbuhnya Bu Ratih.
"Mama,kalau mama ajak bicara terus Mbak Dini bisa-bisa Mbak Dini enggak balik-balik lagi kasihan Ma dia jaga dari kemarin malam loh," ujarnya Elsa Safira Nadine Renald.
"Hehehe benar juga, Ingat kalau ada waktu berkunjung lah ke rumah rumah kami selalu terbuka untuk kamu Nak," harapnya Bu Ratih.
"Mkasih banyak Tante, insya Allah…"
Dini kemudian berpamitan kepada semua orang yang hadir di dalam ruangan tersebut. Ergi Andrean,Pak Renaldi Hutabarat, Bu Ratih Purwatih kemudian berjalan ke arah sofa yang ada di dalam ruangan perawatan Elsa.
"Mbak Elsa, saya juga pamit yah ada urusan di kantor soalnya," pamitnya Aldian Kim.
"Hati-hati, thanks sudah bantuin jagain saya,"
"Sama-sama Mbak, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab semuanya.
Aldian segera mempercepat langkahnya ketika melihat Dini sudah bersiap untuk naik angkutan umum. Dia sebenarnya sudah memesan ojek online tapi, karena terburu-buru hingga ia terpaksa naik mobil umum saja.
Tapi, baru berniat untuk merentangkan tangannya untuk memberhentikan sebuah mobil, tapi tangannya segera ditarik oleh seorang pria.
"Ahhh!" Teriaknya Dini sambil menutup wajahnya karena takut dengan apa yang terjadi padanya.
Berselang beberapa menit kemudian, ia membuka matanya karena merasakan tidak terjadi sesuatu padanya.
"Aku tidak apa-apa, Alhamdulillah aku selamat tapi, ngomong-ngomong siapa yang tega menarik tanganku," gumamnya sambil membuka matanya lebar-lebar melihat tangan siapa yang sudah berani menariknya hingga ia harus ketinggalan mobil.
"Kamu baik-baik saja karena aku dengan cepat menarikmu jika tidak, kamu akan celaka keserempet motor," ketusnya.
__ADS_1
"Iya tapi, jangan seperti ini juga!?" Kesalnya sambil menunjuk ke arah bawah tepat di pelukannya Aldian.
Aldian segera melerai dan melepaskan pelukannya dari tubuhnya Dini suster yang terobsesi pada pandangan pertamanya.