Hikayat Cinta Elsa Agam

Hikayat Cinta Elsa Agam
Bab. 41


__ADS_3

Pak Renaldy Hutabarat dan istrinya Bu Ratih Purwatih saling bertatapan satu dengan lainnya. Baru kali ini ia melihat ada seorang pemuda melamar kekasihnya dengan cara seperti itu langsung di depan kedua orang tua dan kakaknya sang perempuan.


"Papa, mama Pak Agam Ini adalah CEO pimpinan di perusahaan tempat Elsa bekerja," jelasnya Elsa agar tidak ada kesalahpahaman yang terjadi di dalam ruangan itu.


Pak Renaldy menyuruh Elsa untuk diam dengan hanya memberikan kode saja, Elsa pun menuruti papanya itu.


"Terus apa yang kamu lakukan disini? Setahu saya kamar VVIP itu khusus untuk satu orang pasien saja, jadi apa niat dan tujuan yang Anda miliki sebenarnya?"


Pak Renaldi membantu agar Abdillah Abqari Agam untuk berdiri, "Maafkan kami Nak bukannya kami sengaja tidak bisa menjawab, tapi keputusannya ada ditangannya Elsa kalau putri kami setuju insha Allah… kami pun juga setuju apapun pilihan anak-anak kami,"


"Benar sekali yang papanya Elsa Safira Nadine katakan, semua itu haknya Elsa untuk menjawab semuanya Pak Agam, kami sebagai orang tuanya hanya bisa memberikan masukan dan arahan demi kebahagiaan putra putri kami itu," timpalnya Bu Ratih Purwatih.


Pak Renaldi membantu Agam untuk berjalan ke arah sofa untuk duduk. Agam berjalan sedikit tertatih karena, baru merasakan sakit disekujur tubuhnya akibat perkelahian ketika berusaha untuk menyelamatkan nyawanya Elsa ketika dikepung oleh beberapa rombongan komplotan penjahat hingga mobil kesayangannya Elsa rusak parah karena terbakar dilahap sijago merah hingga keadaannya sangat tidak layak lagi.


"Elsa putrinya Papa, apa kamu menerima dan bersedia menikah dengan pak Agam?" Tanyanya Tuan Renaldi


Elsa tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan dari papanya itu," bismillahirrahmanirrahim saya setuju Pak menikah dan menjadi teman hidupnya Pak Agam," jawab Elsa.


Agam spontan langsung berdiri dari duduknya lalu melompat kegirangan," yes saya juga akan menikah!" Teriaknya Agam yang reaksinya luar biasa diluar dugaan mereka semua.


Apa yang dilakukan oleh Agam membuat semua orang terbahak-bahak kecuali Elsa dan Agam yang hanya nampak tersipu merona malu.

__ADS_1


Dini Kayla Susanti tidak menyangka jika, hari ini bertemu dengan seorang pemuda yang sangat pemaksa.


"Sudah sampai Suster cantik, silahkan turun," ujarnya Aldian Adlan Kim seraya membuka pintu mobilnya itu seperti ala pengawal seorang ratu saja.


Dini heran karena pria yang pertama kali berjumpa dengannya mengetahui letak rumah kontrakannya itu.


"Kok Pak Aldian tahu alamatku?" Tanyanya dengan penuh keheranan sambil turun dari mobilnya itu.


"Kan tadi aku sudah bilang apa pun yang ada pada dirimu semuanya aku tahu apa pun itu, walaupun hal-hal sangat tersembunyi dan detailnya juga saya…," ucapannya Aldian terhenti karena,Dini segera menutup mulutnya Aldian agar tidak melanjutkan perkataannya itu.


"Stop, cukup sudah saya sudah ngerti, makasih banyak sudah mengantarku pulang ke rumah dengan selamat," imbuhnya Dini.


"Sama-sama suster cantik," balasnya Aldian yang tersenyum sangat manis ke arahnya Dini.


Baru saja ingin meraih handle pintu, tapi pintu itu terbuka dan sebuah bantal kepala berwarna merah muda itu langsung menimpa wajahnya Dini.


"Dini! Ibu sudah peringatkan kepadamu untuk membayar tiga bulan tunggakan kamu, tapi kamu malah tidak memperhatikan dan mengindahkan perkataanku selama beberapa hari ini, jadi jika kamu tidak bayar hari ini maka dengan berat tolong angkat kaki dari rumahku!" bentaknya Bu Damayanti Ibu kosannya Dini beberapa bulan terakhir ini.


Dini segera memeluk kakinya Bu kosnya itu, "Bu Damayanti, mohon berikan saya keringanan dan kebijaksanaan Bu, aku belum gajian dan gaji bulan lalu aku kirimkan nenek sama adikku yang butuh uang untuk pengobatannya, insya Allah… habis gajian nanti akan aku lunasi kok," bujuk Dini.


Aldian yang melihat hal itu segera bertindak," maaf Bu emangnya berapa total tunggakannya Dini?" Tanyanya Aldian.

__ADS_1


Dini menatap ke arah Al," Pak Aldian tidak perlu repot-repot kok, saya akan membayar lunas tapi bulan depan, jadi jangan buang-buang uang Bapak," cegahnya Dini.


"Kamu yah sok gengsian,ada yang mau nolong kamu tapi,kamu cegah," sarkas Bu Damayanti.


"Cepat katakan, tidak perlu buang-buang waktuku Bu, berapapun itu saya akan bayar," ketusnya Aldian.


"Semuanya ada sembilan sepuluh juta lebih dengan tagihan listriknya," jelasnya Bu Damayanti.


"Tolong sebutkan nomor rekeningnya, karena saat ini saya sama sekali tidak tidak pegang uang kas jadi, cepatlah Ibu kirim saya akan transfer uang sedikit itu," perintahnya Aldian.


Bu Damayanti segera menyebut nomor rekeningnya itu dengan cepat, tanpa basa-basi dan ragu Aldian segera mentransfernya dengan nominal sesuai yang disebut Bu Damayanti. Hingga notifikasi pesan dari bank sudah masuk ke rekeningnya Bu Damayanti.


"Sudah lunas yah Bu, saya tidak ingin mendengar Anda menagih uang kos lagi, saya berharap sama kamu untuk mengemasi semua barang-barang penting kamu karena saya akan carikan kamu kosan yang lebih bagus dari ini dan jauh lebih mahal," dengusnya Aldian.


Dini tanpa banyak pikir segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Aldian. Dia tanpa mengucapkan sepatah kata untuk menegur ibu kos tidak punya hati nurani itu. Aldian bukannya tidak punya uang untuk menyewakan rumah apartemen pun bisa, tapi ia mencari tempat yang paling aman dan tempat itu hanya rumah kediamannya Elsa Safira Nadine Renaldi kebetulan kedua orang tua mereka sama-sama saling kenal jadi semakin bagus jalannya.


Semua barang penting yang hanya pakaian dan beberapa buku itu sudah berada di dalam mobil merahnya Aldian. Dini segera masuk ke dalam pintu bagian depan sesuai dengan imbuhnya Aldian.


"Dini,apa kamu tidak keberatan tinggal bersama Mbak Elsa anaknya teman mama kau?" Tanyanya Aldian yang sudah menghubungi nomor hpnya kakaknya Elsa Ergi Andrean Renald.


"Saya tidak masalah Pak dimanapun yang penting aman dan yang punya rumah menerimaku dengan tangan terbuka itu sudah cukup," ujarnya Dini yang ketika memasang seatbelt ketubuhnya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau seperti itu, baiklah kita langsung ke sana saja, kebetulan Paman dan Tante juga sudah balik dari rumah sakit.


__ADS_2