
"Terima kasih buat hari ini, Saya sangat puas" Bisik Chiko."Kamu boleh minta satu hadiah dari saya, kamu mau rumah, mobil atau yang lainnya, saya bisa berikan padamu" Di belai mesra rambut Alea yang kala itu berbaring di sampingnya, kepala Alea bertumpu pada lengan Chiko. Alea sendiri mulai menerima nasibnya sehingga tidak ada lagi pemberontakan. Meski dakam hati Alea belum bisa menerima perlakuan Chiko padanya tapi, ia berusaha mengikuti apa kemauan Chiko agar ia tidak terluka semakin dalam.
"Emmmm, iya." Jawab Alea sembari menatap wajah Chiko.
"Saya ingin keluar..." Lirihnya
"Oke, karena kamu sudah membuat saya senang, maka hari ini saya akan ajak kamu keluar. Kamu boleh belanja sepuasnya. Tapi, jangan sampai ada niatan kabur dari saya. Kamu tau apa yang bisa saya lakukan sama kamu." memperingatkan agar wanitanya tidak pergi begitu saja.
"Kalau kamu nurut apa kata saya, mungkin besok saya bebaskan kamu dari kamar ini." Sambil meraih satu batang rokok, lalu menyalakan korek api "Tapi, kalau kamu sampai tidak patuh saya akan mencari kamu ke ujung dunia. Kamu tau sendiri siapa saya di kota ini, kalau saya mau semua orang bertekuk lutut padaku."
Alea masih terdiam melihat semua peringatan Chiko yang terkesan melepas kepala tapi masih mengikat ekor, ya begitulah kata pepatah jawa.
"Saya janji akan patuh. Lagi pula anda telah membeli saya" Mengingat betapa kejam sang ayah menjual purtinya kepada orang yang tidak di kenal, membuat Alea membenci sang Ayah. Dia pun sudah menyerahkan tubuhnya pada lelaki tersebut.
"Nah itu baru wanitaku..." pertama kali Chiko tersenyum lembut padanya sampai jantung Alea berdetak dengan kencang.
"Bolehkah saya minta satu hal padamu?" Alea bangkit, duduk di samping Chiko "Saya mau bertemu ayah..."
Seketika Chiko terdiam, sebelum ia kembali menghisap sebatang rokok di tangannya "Buat apa kamu ketemu si tua bangka itu? bukankah sudah jelas kalau dia menjual kamu pada saya." Menghembuskan asap rokok tepat di wajah Alea.
"Uhuk uhuk....dengarkan saya dulu" Alea mengipaskan kedua tangan agar asap rokok itu tidak menusuk hidungnya.
"Hemm...." Chiko bangkit dari ranjang dengan hanya memakai ****** ***** seatas lurut atau di kenal boxser.
"Kamu mau kemana? saya belum selesai bicara" Protes Alea saat Chiko pergi ke toilet.
"Mau mandi, apa kamu mau ikut? kalau mau sini biar saya ajari gaya baru" Menyeringai mesum sambil melihat bagian dada Alea yang hanya berbalut selimut putih.
"Nggak, nggak mau" Alea meremas selimut yang melingkar di tubuhnya, ia merasa tidak sanggup lagi melayani Hasrat Chiko.
Melihat wanitanya ketakutan, Chiko pun masuk dalam kamar mandi.
"Di balik wajah itu sebenarnya terdapat hati yang seperti apa? aku tidak tau kenapa kali ini tubuhku tidak menolak dirinya, seharusnya aku menolak dia." Menggelengkan kepala seraya turun dari ranjang. Perlahan di langkahkan kaki menuju lemari, kakinya terasa kebas dan nyeri. Rasa sakit di bagian perut juga masih terasa nyeri dan sakit.
"Gara gara otak bambu itu....Aw" Alea hampir terjatuh saat melangkah beberapa langkah.
"Kenapa?" Dengan tubuh telanjang Chiko keluar mendengar teriakan Alea.
"Aaaaaa...." Alea semakin menjerit kala melihat Chiko telanjang bulat.
"Apa sih?" Chiko hendak mendekat, namun Alea menutup kedua matanya.
Chiki tersenyum "Oh, jadi kamu masih belum terbiasa melihat punya ku ini, ya? kalau begitu biar aku kasih tunjuk lebih jelas lagi"
"Stop, jangan kesini"
"Hahaha...wanitaku memang polos. Sudah tau rasanya tapi masih geli ngeliatnya" Menggelengkan kepala lalu kembali masuk kamar mandi.
"Astaga, tidak tau malu sekali dia. Memang dasar otak bambu" Alea berusaha berdiri tegak namun sekujut tubuhnya sakit semua.
"Aku harus bisa..." Perlahan Alea sampai di lemari pakaian. Semua baju mewah tertata raoih di lemari itu.
"Hah.....harya satu baju sampe 3 juta? ini sih gaji ku selama 1 bulan. Ngeri banget" Melihat bandrol di baju mewah itu, baju lainnya tidak lupuk dari pengecekan Alea.
"Oh, no" Membungkam mulut kala melihat harga dres warna merah muda "5 juta?"
"Gila nih orang kaya banget. Tapi dari banyaknya baju di sini kok nggak ada pakaian dalemnya sih"
"Cari apa kamu?" Tiba tiba Chiko keluar dari kamar mandi melihat wanitanya masih berbalut selimut, tengah mencari sesuatu di lemari pakaian.
"Anu, itu, saya cari....emmm"
"Anu, itu, apa sih?" Mendekati Alea.
"Itu...." Alea merasa malu sampai pipinya memerah.
"Apaan bilang aja. Apa kamu nggak suka sama baju baju itu, nanti kamu pilih sesuka hati kamu, seisi mall pun saya akan belikan khusus untuk wanitaku ini" Chiko yang tadinya marah sekarang menjadi sosok bucin di depan Alea. Mungkin ia sangat senang dengan layanan Alea hari ini jadi moodnya bagus.
"Pakaian ********** belum ada" Lirih Alea sambil menundukkan kepala, ia benar benar malu.
"Ngapain pake gituan segala? mending polosan biar saya nggak repot kalau mau main"
"Kalau begitu apa saya juga tidak perlu pakai pakaian dalaman ke mall? katanya mau ngajak keluar" Protes Alea sambil meraih salah satu drea di lemari itu "Coba lihat....Dres ini terlaku pendek dan tipis, kalau terkena angin pasti akan terlihat"
Chiko memicingkan sebelah mata "Awas saja kalau berani pake baju ini ke luar, saya akan memberi pelajaran berharga untukmu" Tiba tiba Chiko memeluk Alea.
"Saya pesankan dulu...." Meraih ponselnya lalu menelepon seseorang "Bawa semua pakaian dalam di toko kamu ke rumah pribadi saya, nanti saya share lock." Segera menutup telepon.
"Ah, apa sih, jangan. Badanku masih lengket bau keringat." Alea merasa geli saat Chiko meletakkan dagunya di pundak dengan dengusan nafas menyapu telinga.
"Saya tidak akan minta tambah kok, cuma saya ingin satu dari kamu. Anak"
Sontak Alae terdiam seribu bahasa. Baru dia sadar jika nanti dia hamil akan seperti apa nasibnya ke depan. Bukan tidak mau punya anak tapi dia takut jika hamil tanpa suami.
"Tidak, saya belum siap" Alea melepas tangan Chiko dari penggangnya.
"Eh, tunggu....." Teriak Chiko kala Alea berlari masuk kamar mandi.
__ADS_1
"Nggak, pokonya aku nggak boleh sampe hamil. Aku nggak mau malu" Memukul perutnya beberapa kali sebab ia takut akan kehamilan tanpa seorang suami.
"Meski pun kamu menolak, saya tidak akan melapaskan kamu" Chiko duduk di tepi meja sambil berpikir bagaimana caranya ia bisa cepat punya anak.
"Eh, apa ini?" Tanpa sengaja Chiko melihat sesuatu di bawah bantal.
"Pil KB? Jadi dia pake kontrasepsi..." Chiko terkejut saat melihat pil itu ada di bawah bantak Alea.
"Dari mana dia dapat barang ini? pasti bibi" Tanpa pikir panjang ia keluar dari kamar.
"Bibi...." Teriak Chiko.
Dari luar rumah datanglah sosok wanita paruh baya, berlarian menuju ke arahnya.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu"
"Heh....ini apa? kamu yang berikan ini sama dia, kan, jawab?" Bentak Chiko sembari melempar satu tablet penuh pil kontrasepsi tersebut.
Bibi menundukkan kepala, melihat amarah majikan meluap membuatnya ketakutan.
"Maf, Tuan. Saya..."
"Saya apa?" Bentak Chiko lagi.
"Kamu pikir kamu itu siapa? bisa bisanya kamu kasih dia pil kaya gini, kamu sengaja mau menggagalkan usaha saya buat punya anak, kan"
"Bukan, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Tadinya saya nggak mau beliin itu, tapi non Alea bilang sama saya kalau yang nyuruh itu Tuan. Jadi, saya hanya ikuti perintah saja" Jelasnya sambil mengeratkan kedua tangan yang salibg mengatup menjadi satu. Sekujut tubuhnya menggigil, keringay dingin berkucuran melihat amarah bak malaikat penjabut nyawa.
"sekarang saya tanya, yang bayar kamu itu saya apa dia? kenapa kamu tidak konfirmasi sama saya dulu sebelum kamu beli ini" Chiko meraih kedua lengan Bibi lalu mendorongnya.
"Ampun, Tuan. Saya minta maaf. Saya tidak tau kalau Non Alea membohongi saya, sekali lagi maafkan saya, Tuan"
Dari balik pintu kamar, Alea tengah menguping berdebaran mereka berdua. "Habislah aku..."
"Lain kali jangan ulangi kesalahan ini lagi, ngerti kamu!" Chiko pun meninggalkan Bibi menuju kamar kambali.
Alea segera pergi dari balik pintu lalu berpura duduk di depan meja rias. Jantungnya hampir copot saat melihat sosok Chiko masuk lalu mengunci kembali pintu kamar.
"Ada apa?" Ucap Alea seolah tidak tau masalah apa yang terjadi di luar.
"Berani sekali kamu...." Chiko mencengkeram dagu Alea "Siapa yang menguruh kamu minuk kontrasepsi seperti ini?" Bentak Chiko sambil melempar pil itu tepat di wajah Alea. Sontak Alea memejamkan mata.
Chiko mulai kehilangan akal sehatnya lagi.
"Kamu itu sudah jadi milik saya kenapa harus minum seperti ini, ha?"
Alea semakin ketakitan raut wajah ganas Chiko menusuk hingga ke dalam hati.
"Alasan macam apa ini? kamu pikir saya setuju jika kamu menunda kehamilan, malah saya ingin kamu cepat hamil dan berikan saya anak laki laki. Paham kamu?" Melepas cengketaman dengan sedikit mendorong Alea.
Alea menunduk, air matanya pecah. Ia tidak ingin hamil tanpa suami, meski Chiko berkata akan ada di sampingnya sekali pun, tetap saja Alea masih bimbang. kehadiran Chiko bagaikan sebuah duri. Jika menusuk akan terasa aakit tqpi jika di lepas pasti akan maninggalkan luka.
"Nangis, nangis, dan terus menangis. Kamu itu bisanya mancing emosi saya terus. Kamu itu nggak bisa sahari saja buat saya happy." Mengacak rambitnya sendiri. Seolah Chiko frustasi dengan usahanya memiliki anak tak kunjung terlaksana. Sedangkan, pernikahan antara dia dan Kikan tinggal dua bulan lagi. Chiko benar benar kalut.
"Menyebalkan...." Kaca rias menjadi sasaran amarahnya.
Pyar...
Seketika kaca iru pecah, dan tangan Chiko berdarah.
"Ahhhhhh......" Alea teriak kencang melihat banyaknya darah di tangan Chiko.
"Jangan lukai diri sendiri" Mendekati Chiko sambil memeluk lengan lelaki itu "Saya minta maaf, tolong jangan sakiti diri sendiri."
"Apa perduli kamu?" Ketusnya seraya melepas tangan Alea dari lengannya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia tidak perduli jika tangan kanannya berdarah, bahkan ia tidak merasa sakit sama sekali.
Alea segera keluar kamar mencari asisten rumah tangga "Bibi...." Alea terlihat panik berlarian kesana kemari mencari sosok perempuan paruh baya yang tidak lain adalah asisten rumah tangga.
"Iya, non...." Bibi keliar dari dapur.
"Carikan p3k bi, cepat"
"Baik...." Segera mengambil p3k dari tempatnya lalu memberikan kotak itu pada Alea.
"Ada apa non?"
"Nggak apa apa, nanti saya ceritakan sama bibi. Saya pergi dulu" Segera Alea berlari menuju kamar.
"Sini biar saya obati" Setelah meletakkan p3k, ia meraih tangan kanan Chiko. Alea duduk bersimpuh di samping ranjang.
"Tidak perlu. Jangan obati luka ini, biarlah darah mengalir tanpa henti sebab luka ku akan semakin perih kalau kamu membalutnya." Ketus Chiko sambari membuang muka.
"Huh...." Alea sendiri hampir kewalahan menghadapi sikap angkuh Chiko tersebut. Baru pertama kalinya ia menemukan sosok lelaki emosional seperti dirinya, bahkan dia pikir mungkin hanya ada satu di dunia ini.
"Jangan keras kepala" Bentak Alea karena kesabarannya hampir habis. Segera Ia membersihkan darah di tangan Chiko setelah itu membalut luka dengan perban.
"Lain kali bicara baik baik, kan bisa. Jangan seperti ini. Itu hanya melukai diri kamu sendiri. Saya janji tidak akan meminum pil itu lagi.Asalkan kamu janji nggak boleh kaya gini lagi" Ucap Alea.
__ADS_1
Keduanya saling memandang. Chiko merasa terharu mendapat perhatian dari Alea. Selama hidup baru peetama kali ia merasakan ketulusan seorang gadis.
"Please, jangan marah lagi ya" Alea mencium balutan perban di tangan Chiko.
"Asal kamu tidak membuatku marah."
Alea mengangguk sambil melebarkan senyum "Iya, tapi kamu juga harus mengontrol emosi kamu. Kalau ada yang salah kita bicara baik baik"
"Oke...." Chiko mulai luluh. Di sentuhlah kepala Alea sambil mengusapnya perlahan.
"Saya boleh minta satu hal dari kamu" Ucap Chiko.
"Apa?"
"Panggil saya mas...."
Alea mengangguk "Baik, Mas Chiko, sayang" Sengaja Alea merayunya.
"Nah, gitu dong. Sambil nunggu itunya datang mending kamu mandi dulu sana."
"Tapi saya sudah mandi"
"Mandi lagi, baju kamu terkena darah, jangan sampai tubuh kamu terkena bau darah. Saya tidak ingin wanitaku kumal dan bau" Ucap Chiko.
Alea mengangguk lalu menuju kamar mandi.
Tak betapa lama pesanan Chiko datang. Semuanya di beli hanpir puluhan lusin karena dia tidak tau ukurab Alea jadi dia beli semua ukuran.
"Saya sudah transfer ke rekening anda" Ucapnya pada seorang tersebut.
"Baik, tuan, terima kasih. Lain kali kalau butuh sesuatu hubungi toko kami, kami akan siap mengantar"
"Hem..." Singkat Chiko.
"Bawa semua barang ini masuk" Ucap Chiko kepada seorang penjaga rumah, laki laki paruh baya itu pun membawa beberapa kardus.
"Latakkan di sisi kiri lemari." Titah Chiko sembari menunjuk sisi lemari.
Total ada tiga kardus penuh berisikan pakaian dalam wanita.
Alea baru saja keluar dari kmaar mandi masih memakai handuk kimono serta lilitan handuk di kepala "Astaga, apa ini mas?" Mendapati tiga kardus berukuran besar tertata di kamar.
Chiki bersandar pada bahu ranjang "Itu yang kamu tidak punya tadi"
Alea sangat terkejut tidak menyangka Chiko membelikan pakaian dalam sebegutu banyaknya.
"Ya ampun, saya cuma butuh beberapa saja kenapa harus memborong seisi toko."
"Memang kenapa? duit saya yang punya kenap kamu yang repot. Tinggal pilih mana yang bagus sisanya kamu buang saja kalau kebanyakan" Ucap Chiko santai. Ia sedang bermain ponsel.
"Kamu diam dulu jangan berisik. Saya ada telpon dari kantor" Segera bangkit menuju balkon kamar.
"Astaga, dia pikir pakaian dalam itu seperti tisu habis pakai langsung buang." Menggeleng kepala melihat banyaknya pakaian dalam di satu kardus yang baru ia buka.
"Apa ini..." Mengambil satu set pakian dalam tipis dengan renda di samping kiri kanan.
"Belum pake saja udah geli apalagi di suruh pake. Ih....." Semua pakaian dalam itu terlalu terbuka dengan jaring jaring tipis sampai terlihat isi di dalamnya.
"Kalau ini sama aja bohong dong..."
Alea masih tidak paham kenapa Chiko memborong pakaian dalam sebanyak ini, bahkan ukurannya berbeda beda. Tidak hanya itu, pakaian dalam dengan desain beragam juga turut di belinya.
"Siapa suruh dia datang ke sini. Saya sedang rapat" Chiko menelepon sambil melihat Alea di dalam tengah memilik pakaian dalam. Senyumnya melebar kala melihat Alea memegang satu set pakaian dalam model terbaru itu.
"Nanti saya teloin lagi, ma." Chiko menghampiri Alea.
"Yqng itu bagus" Tiba tiba Chiko memeluk Alea dari belakang.
"Mas ngagetin aja"
"Kamu pakai yang warna merah itu" Ucap Chiko.
Tak ingin ribut lagi, Alea pun mengambil pakaian dalam itu "Oke, saya pakai ini. Demi kamu"
Chiko melepas pelukannya seraya melihat senyum di wajah wanitanya.
"Ya sudah cepat ganti baju dulu, saya tunggu di luar"
Setelah beberapa saat Alea datang dengan dres pendek, rambut tertata rapih dan riasan wajah pitis.
"Berangkat yuk" Alea menghampiri Chiko yang tengah duduk di sofa bermain ponsel.
Berbalik badan melihat wanitanya begitu cantik "Cantik sekali..." Chiko sampai melongo melihat kecantikan luar biasa dari Alea. Selama ia mengurungnya belum pernah melihat Alea secantik ini. Pertemuan mereka baru beberapa kali di kafe tempat Alea bekerja, dan baru pertama kalinya ia melihat sosok Alea tampil cantik elegan.
Ale tersipu malu "Mas bisa saja...."
"Lho kamu itu beneran cantik banget" Tak henti henti Chiko memuji kecantikan Alea.
__ADS_1
"Ah, sudahlah. Jadi berangkat nggak"
"Iya, deh iya. Kita berangkat yuk"