Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Curiga


__ADS_3

Tak berapa lama keluarlah seorang Dokter beserta dua perawat tadi, Dokter itu segera menghampiri keduanya yang terduduk di kursi panjang dekat ruangan putri mereka. ¹


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" Tanya Alea.


Dokter itu masih diam sembari melihat kedua orang di hadapannya. Jika di lihat dari tatapan redupnya tentu mereka sudah mendapatkan jawaban.


"Mas....." menghuyung lengan suaminya dengan menatap ke arah pintu ruangan di mana Miska terbaring kesakitan.


Dengan nada tak gentar Antony mencoba kuat untuk menguatkan sang istri "Kamu tenang sayang, di dunia ini tidak ada penyakit tanpa adanya penawar. Kita yakin Tuhan adalah satu satunya penyelamat utama."


"Benar apa kata suami anda, kita sebagai manusia hanya berusaha sekuat tenaga membantu penyembuhan pasien. Dan sebaik baiknya penawar ada di tangan Tuhan. Tapi, ada satu hal yang ingin saya katakan kepada kalian berdua, silahkan ke rungan saya supaya lebih enak bicaranya" Mereka pun segera menuju ke ruangan Dokter.


"Kebetulan mereka tidak di samping Miska" Sedari tadi Chiko berada tidak jauh dari posisi mereka, hingga dia bisa mendengar semua percakapan Dokter. Tak tunggu lama Chiko segera masuk ke dalam ruangan Miska, betapa hancur hati Chiko malihat gadis kecil itu terbaring di atas ranjangvrumah sakit dengan infus menancap di tangan kanan.


"Semoga dugaan saya ini kuat..." Di usap perlahan kepala Miska sampai Chiko mengambil beberapa helai rambutnya lalu ia masukkan di plastik klip yang sudah ia siapkan.


"Kenapa anak sekecil kamu harus menanggung beban seberat ini, Nak" Merasa tak tega dan ingin sekali Chiko menukar diri supaya dapat menghantikan sakit pada gadis kecilnya itu. Tak terasa air mata menetes di ujung netra. Di ciumnya kening Miska sembari berbisik "Miska pasti kuat sayang"

__ADS_1


Keajaiban dari bisikan ayah kandungnya membuat Miska perlahan membuka mata, ia menoleh ke samping melihat Chiko sedang menangis senggukan di bahu kecilnya.


"O-Om ganteng...."


Suara kecil nan berat membuat Chiko segera menatap Miska "Miska sayang kamu sudah sadar Nak. Maafkan Om karena tidak bisa menjaga Miska dengan baik"


Melihat buliran air mata keluar dari netra laki laki di sampingnya, membuat Miska menggerakkan tangan kirinya untuk mengusap Air mata itu "Jangan menangis Om, semua ini sering terjadi"


Melihat pemandangan di depan mereka sontak saja Alea dan Antony saling melempar pandang. Di dalam hati Alea masih menyimpan rasa takut jika laki laki yang bersama putrinya adalah ayah biologis Miska. Jika di lihat dari wajah itu bukanlah Chiko, tapi di lihat dari sikap dan ikatan keduanya seperti tersirat ikatan mendalam.


Antony juga merasakan hal yang aneh di antara keduanya, meski begitu ia berusaha menampiknya. Guratan di dahi sang istri membuatnya tau jika saat ini ada rasa penasaran di benaknya "Sudahlah, kita masuk dulu" Dengan menggandeng sang istri ia mendekati ranjang Miska.


Chiko mengusap air matanya seraya bangkit dari tempat duduk yang ia singgahi "Saya parmisi dulu" Ucap Chiko. Sebelum dia meninggalkan tempat itu pandangan Alea dan Chiko sempat bertemu lalu kemudian Chiko mengalih pandang kepada Miska.


"Saya mau bicara sebantar" Antony ikut keluar bersama Chiko.


"Sebenarnya siapa kamu? apakah kamu pernah bertemu Miska?"

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa ini?" Ucap Chiko.


"Kelihatannya kamu bisa mengambil hati anak saya, biasanya dia bukan tipe anak yangvmudah dekat dengan orang asing"


Chiko memicingkan mata "Lalu?"


"Saya hanya..."


Chiko tersenyum sembari menepuk pundak Antony "Dokter Antony, dari sejak dulu saya tinggal di Belanda dan baru kali ini saya ke negara ini, lalu bagaimana bisa saya mengenal mIska sebelumnya. Jangan bilang anda cemburu atas kedekatan saya ini...." Terlihat senyum di ujung bibir Chiko membuat Antony tidak enak hati.


"Maaf saya hanya penasaran saja"


Demi menuyupi identitasnya Chiko mengeluarkan foto keluarga sejak dia kecil smapai dewasa kepada Antony "Ini bukti kalau saya lahir dan besar Belanda"


Antony lega melihat bukti itu, jadi kecurigaannya tidak beralasan. "Maaf telah meragukan anda. Saya hanya heran kenapa baru kali ini Miska bisa sedekat itu dengan orang asing sampai di dalam mimpinya di menyebut nama anda berulang kali"


Chiko kembali menyentuh pundak Antony "Jangan bilang saya orang asing karena sekarang kita sudah seperti saudara" Senyumnya melebar di ikuti dengan senyum Antony.

__ADS_1


"Iya juga ya, sekarang kita menjadi saudara"


__ADS_2