
"Mereka bisa menjadi umpan" Adam segera menghubungi Chiko.
"Kalau begitu ajak mereka bertemu dengan saya di cafe kemuning" Ucap Chiko dari sebrang telepon.
Setelah beberapa waktu kemudian Adam meminta kedua keryawan tadi ikut dengannya. Sedari awal Adam sudah menjelaskan jika mereka masih ingin bertahan di kantor itu, mereka harus membantu Adam menyelesaikan sebuah masalah. Karena takut kehilangan sumber penghasilan, mereka pun mengiyakan persyaratan itu.
"Kenapa mereka belum juga datang" Chiko melihat pintu cafe, belum ada sosok Adam dan dua karyawan yang di jelaskannya tadi. Jemarinya bermain di meja cafe tersebut.
"Sudah sepuluh menit tapi masih belum juga datang" Gerutu Chiko sambil melihat jam melingkar di tangannya.
Tidak berapa lama Chiko melihat Adam memasuki cafe "Mana kedua orang itu" Lirihnya sambil melihat ke arah Adam. Setelah beberapa saat datanglah dua orang di belakangnya.
"Maaf sedikit lama, soalnya jalan sedikit padat" Adam pun segera duduk di kursi cafe yang telah du pesan Chiko sebelumnya
"Ya, nggak masalah"
Keduanya terlihat gugup, wajah tertunduk mereka memperlihatkan kekhawatiran berlebih. Si wanita terlihat meremas tangannya sendiri sembari terus menunduk.
"Duduklah..." Titah Adam.
Setelah mereka duduk Chiko pun menanyakan perihal kebenaran mereka di rumah sakit Permata.
__ADS_1
"Iya, Pak. Ibu saya di rawat di sana seminggu yang lalu, dan...." Wanita itu kembali menunduk, terlihat air mata menetes dari teluknya.
"Saya turut berduka cita" Ucap Chiko.
Setelah Wanita itu sedikit tenang, Chiko segeramengutarakan niatnya. Kebetulan sekali salah satu tenaga media di rumah sakit itu adalah saudaranya. Tentu itu akan mempermudah pencarian informasi tentang Dokter Antony tersebut.
"Kalau kalian masih ingin bekerja di perusahaan itu, saya kasih waktu 1 minggu untuk kalian mengumpulkan semua informasi tentang Dokter Antony. Saya juga ingin kalian menyelidiki tentang rumah tangganya" Jelas Chiko menekan.
"Kami akan usahakan secepat mungkin mendapatkan informasi tentang beliau" Jawab si laki laki tersebut.
"Oke,saya tunggu kabar dari kalian"
"Kalian pesan makan dulu, saya traktir"
Kedua karyawan itu saling berpandangan "Tidak pak terima kasih. Kami pamit undur diri" Mereka pun pergi dari Cafe itu.
Chiko terus mengaduk jus alpukat di atas meja, tatapannya terlihat penuh dengan pertanyaan.
"Kalau jus itu bisa bicara pasti dia sudah menjerit karena pusing" Celetuk Adam sembari meraih secangkir teh yang di pesankan Chiko.
"Sebenarnya siapa Dokter Antony itu? apa hubungannya dengan kamu, kenapa kamu mencari informasi tentang dia" Heran Adam.
__ADS_1
"Dia itu Dokter terakhir yang menangani Alea sebelum dia hilang"
"Lalu apa kaitannya dia denan hilangnya Alea?" Adam masih belum paham dengan ucapan Chiko saat ini. Di lihat dari pandangannya sudah jelas ada amarah di dalamnya.
Chiko menghempaskan punggung di kursi cafe dengan nafas berat "Alea dan Dokter Antony sekarang mereka sudah menikah. Mereka memiliki seorang anak. Kebetulan Villa kami berdekatan, jadi saya bisa melihat semua aktivitas mereka di luar rumah"
Terlihat Adam membisu sembari mengingat seperti apa wajah Dokter Antony, sampai akhirnya ia mengingat wajah laki laki yang memeluk Alea kala di klinik kandungan.
"Oh, iya.....saya baru ingat. Laki laki yang bersama Alea di klinik itu adalah Dokter Antony"
"Maksud kamu?"
"Iya, sewaktu saya priksa di klinik kandungan Alea tengaj di peluk laki laki, sepertinya dia adalah Dokter Antony" Tuturnya penuh keyakinan.
Chiko pun terkesiap "Tunggu dulu.....saat itu saya juga di sana, tapi saya tidak melihat sosok Dokter Antony di sana. Seingat saya ada seorang laki laki paruh baya menjemputnya, tapi kenapa kamu bilang Dokter Antony" Chiko masih bingun dengan semua kenyataan yang ia dapat. Awalnya Chiko masih belum paham pasal semua hubungan itu.
"Mungkin dia utusan Dokter Antony untuk menjemput Alea saat itu" Jawab Adam.
Mereka berdua saling terdiam.
Astaga kenapa saya tidak berpikir sedemikian rupa....
__ADS_1