
Pandangan keduanya saling bertemu hingga beberapa menit lamanya, dari pandangan Alea terpancar kecurigaan. Chiko segera menampik tatapan mata Alea karena merasa ada yang tidak beres.
"Kenapa tidak jawab?"
Seketika Chiko gugup....
"M-Maksud saya itu di kemudian hari saya juga akan memiliki anak seperti halnya kamu dan orang lainnya. Cepat atau lambat saya juga akan mempunyai anak begitu maksud saya" Dusta Chiko sembari mengusap kepala Miska.
"Anak seperti Miska ini sungguh manis dan baik hati, siapa sanggup melihatnya terbaring kesakitan. Dia sangat dekat dengan saya beberapa minggu ini, jadi apa salahnya kalau saya juga menganggap dia seperti anak saya sendiri. Sungguh saya juga sangat menyayangi Miska" Di kecuplah kening Miska.
Penjelasan Chiko memang masuk akal, tapi masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Kalau di lihat dri ucapan tersirat Chiko tadi jelas ada rahasia besar, tapi dari penjelasan Chiko ada benarnya juga setiap orang pasti akan memiliki anak. (Sudahlah mungkin hanya suatu kebetulan saja) pikir Alea sembari melihat wajah Miska.
"Kalau boleh saya tau bagaimana kondisinya saat ini?" Tatapan Chiko kembali pada Alea yang terduduk di kursi dekat ranjang rumah sakit. Sekarang Chiko berdiri di dekatnya sembari terus mengusap pelan kepala Miska.
__ADS_1
Terlihat wajah Alea muram seketika, bibirnya terlihat bertetar seakan enggan membuka mulut.
"Kenapa? apa yang terjadi dengan Miska?"
"Dokter minta secepat mungkin melakukan tranplantasi sumsum tulang belakang, kalau tidak hidupnya akan terancam" Tutur Alea di iringi derai air mata.
"Tunggu apa lagi kenapa tidak lekas malakukan transplantasi?" Chiko sengaja ingin membuka rahasia Alea yang telah ia ketahui.
Alea tidak menjawab hanya menggelengkan kepala.
Sontak Alea bangkit dengan membulatkan kedua mata "Jangan sembarangan kalau bicara, tau apa kamu tentang saya dan anak saya. Kamu itu hanya orang luar bagi kami jadi jangan pernah menilai kehidupan kami" Dengan emosi Alea mendorong tubuh kekar Chiko sampai hampir terjatuh, namun tubuhnya terbentur meja.
"Hey.....apa apaan kamu ini" Lantang Chiko dengan mengangkat tangan kanan hendak melayangan tamparan.
__ADS_1
Deg....
(Tatapan ini? sepertinya tidak asing lagi) Betapa terkejutnya Alea kala melihat amarah laki laki di depan matanya "Chiko...." Lirihnya dengan jari telunjuk mengarah tepat di depan wajah laki laki itu "Apa benar itu kamu?"
Chiko terkesiap "Maaf, maaf, saya hanya reflek saja. Dan Chiko, siapa Chiko?"
Alea masih terbayang wajah Chiko kala dulu sering memakinya melayangan tangan dan teriakan itu sangatlah mirip dengannya. Alea menggeleng kepala "Nggak mungkin, itu hanya ilusi"Ucapnya sambil memundurkan langkah.
"Maksudnya apa? Chiko siapa? tadi itu saya hanya terlalu cemas dengan Miska jadi reflek sesaat. Tolong maafkan saya" Chiko berusaha kembali meyakinkan diri Alea yang sudah menaruh curiga padanya.
"Lepaskan....." Alea memberontak kala Chiko memeluknya dengan erat. Hasrat dalam diri Chiko mulai menjalar ke selur tubuh, detak jatungnya semakin tidak beraturan, tentuny ada dua gundukkan yang membuat Hasratnya bangkit.
(Astaga pikiran macam apa ini...) Segera Chiko melepaskan badan Alea. Wajahnya terlihat memerah, ujung telinganya juga terlihat merah, sangat merah. Pertanda Hasratnya semakin memuncak.
__ADS_1
"Maaf saya tidak sengaja" Chiko pun segera keluar dari ruangan tersebut.
"Sial kenapa Hasrat ini tidak bisa terkendali saat bersentuhan dengannya" Tuturnya kesal.