Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Kemarahan Chiko


__ADS_3

Setelah beberapa saat kemudian. Alea kembali ke rumah bersama sang suami. Baru saja mobil memasuki pekarangan rumah, muncul sosok gadis kecil dari dalam rumah. Dia berlari sampai di teras rumah. Senyum manis terpancar dari wajah Miska si gadis kecil kesayangan Alea. Ketika Alea hendak membuka pintu mobil, Antony meraih tangannya. "Jangan tampakkan kesedihan di wajah mu, sayang" Seraya membelai mesra wajah sang istri.


Alea mengangguk sembari mengulas senyum. "Baik, mas. Sebisa mungkin akan ku tahan rasa sedih ini"


Tak lema kemudian mereka keluar dari mobil.


"Ayah, Bunda...." Panggil si gadis kecil seraya memperlihatkan gigi mungilnya.


"Sayangku...." Alea berlari ke arah Miska.


"Emuah....emuah....emuah. Kesayangan Bunda, anak pintar." Bersimpuh di hadapan sang putri. Tatapan mata polos itu membuat hati Alea semakin teriris perih.


"Kenapa Bunda menangis?" Tangan mungil itu mengusap buliran bening bagai kristal yang lolos dari mata sang Bunda.


Alea langsung mencium kedua tangan Miska. "Bunda sayang sekali sama, Miska. Sampai kapan pun kita akan selalu bersama, iya kan sayang?" Raut ketakutan sudah mulai terlihat jelas di mata Alea.


Badan kecil Miska berusaha menggapai badan Alea. "Miska akan selalu bersama Bunda dan juga Ayah. Sampai selama lama lama lamanya" melebarkan senyum polos seraya mengecup dahi sang Bunda.


Kedua mata Alea terpejam kala sentuhan bibir Miska menyentuh sampai relung hati paling dalam. Rasanya sangat menyakitkan jika suatu hari nanti mereka benar terpisah. Membayangkan saja sudah membuat Alea takut apa lagi sampai benar terjadi, dia pasti tidak akan bisa hidup bahagis lagi seperti sebelumnya.


(Ya Tuhan, jangan pernah ijinkan siapa pun mengambilnya dari ku. Seluruh hidup ini ada pada diri putri kecilku ini. Jangan pernah Engkau pisahkan kami berdua) Alea langsung memeluk Miska erat. Ketakutan Alea membuat dirinya sendiri terhanyut dalam ketidak tenangan.

__ADS_1


Antony masih berdiam diri melihat kedua wanita yang di cintai saling berpelukan. Seolah besok mereka akan terpisah jauh. Dalam lubuk hati terdalam tersimpan ketakutan yang sama, yang tidak ingin ia perlihatkan pada siapa pun, Termasuk Alea.(Melihat mereka seperti ini hatiku ikut sakit) Perlahan Antony berlutut lalu memeluk keduanya.


"Kita akan selalu bersama sama selamanya" Antomy mencium pipi caby Miska dan di balas dengan sebuah ciuman di pipi sang ayah.


Isak tangis Alea semakin tidak bisa terkontrol. Miska menyentih wajahnya seraya melihat luapan perih "Bunda jangan sedih lagi. Miska jadi ikut sedih" kedua mata si gadis kecil itu nampak berkaca kaca.


"Berhenti....." Ucap Chiko mendadak.


Dari kejauhan terlihat satu keluarga tengah berpelukan. "Seharusnya bukan Dokter itu yang ada di sana, tapi Saya. Saya ayah kandung Miska. " Tanpa aba aba Chiko langsung membuka pintu mobil.


"Chiko, tunggu, mau kemana kamu?" Adam segera melepas sabuk pengaman. "Jangan sampai dia bikin ulah lagi. Hari ini sudah cukup dia membuat keributan. Aduh....ini kok susah banget di lepas" kesal Adam karena sabuk pengaman tidak kunjung bisa di buka. Bukan salah sabuknya tapi karena Adam terlalu buru buru, sehingga yang terlihat mudah menjadi sulit.


"Happy sekali kelihatannya" Melipat kesua tangan.


Tugas seorang ayah tidak hanya mencari nafkah tapi juga menjadi tempat perlindungan terbaik untuk keluarga di masa paling sulit sekali pun.


"Mau ala kamu di sini?" Ucap Antony.


"Tidak usaj di tanya kamu pasti tau alsan saya datang ke mari"


"Jangan berani ganggu mereka, atau saya akan melakukan hal yang tidak kamu sukai. Pergi anda, pergi dari rumah saya" Jari telunjuk Antony seolah memberi peringatan padanya.

__ADS_1


Chiko malah tersenyum "Sekarang ini kamu berperan sebagai apa sih? Saya ini ayah kandung Miska. Berhak kapan pun melihat dan mengajaknya pergi kemana saya mau. Apa hak anda melarang saya? " Selangkah Chiko mulai maju.


"Bunda, Miska takut. Miska tidak mau ikut sama Om Ganteng. Miska mau sama Ayah dan Bunda" Miska bersembunyi di balik badan Alea seraya meremas ujung baju sang Bunda. Kali ini pandangan Miska beeubah darinyang tadinya sangat kagum dengan sosok Chiko, berubah menjadi ketakutan dan benci.


"Kamu dengar sindiri dari mulut Miska, dia sampai ketakutan sama kamu. Itu salah kamu sendiri terlalu ambisius dalam mendapatkan dia" Ketus Alea.


Chiko mulai geram. Kedua tangan mengepal erat.


"Sayang, bawa Miska masuk" titah Antony.


Alea pun langsung berlari sembari menggendong sang buah hati masuk ke dalam rumah.


"Hey....kenapa kamu melarang saya bertemu dengan anak kandung saya sendiri. Kalian ini memang tidak punya rasa empati sedikit pun." Maki Chiko.


"Jangan harap anda bisa mengambilnya dari kami. Sejak dalam kandungan dia itu sudah menjadi anak saya, milik saya. Bukan milik anda"


Ucapan Antony membuat Chiko terbakar emosi. Tanpa tunggu lama Chiko langsung menghantamkan bogem "Sampai mati Miska itu akan tetap menjadi anak kandung saya" hendak melayangan pukulan lagi tapi di tangkis oleh Adam.


"Jangan tunjukkan sisi amarahmu di sini. Bagaimana kalau sampai Miska melihatnya, bagaimana kalau dia tau bahwa ayah kandungnya seorang dengan tempramen tingkat tinggi? Apa kamu siap jika nanti kehilangan dia?" Adam langsung menyeretnya keluar dari pekarangan rumah Antony.


"Sial...." Kesal Antony. Di ujung bibir terlihat ada luka lebam.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Chiko langsung marah besar. Semua benda di depannya langsung di hancurkan seketika. Adam tidak berani lagi berkata kata. Dia memilih langsung pulang saja dari pada melihat luapan amarah dari sahabatnya itu.


__ADS_2