
Malam terasa sangat panjang di sertai rasa takut berkepanjangan. Di lihatnya wajah putri kecil yang tengah tertidur pulas di samping ayahnya. Buaian lembut tak luput dari wajah gadis kecil itu. Perlahan lahan air mata terurai berjatuhan "Bunda tidak akan membiarkan kamu di ambil siapa pun, Bunda tidqk akan meninggalkan kamu walau sedikit saja" Tangan Alea bergetar.
"Sampai kapan pun Miska adalah anak Bunda sama Ayah" Deraian air mata semakin menggenang di ujung netra, sampai ia tersedu sedu.
Samar samar isak tangis Alea terdengar sampai ke telinga Antony. Perlahan ia membuka mata, di keceknya perlahan kedua mata yang terasa sepat, kemudian menoleh ke samping "Sayang kenapa?" Lirihnya sambil memiringkan badan menghadap ke arah anak dan istrinya.
Alea hanya bisa diam dengan membangkitkan badan, duduk sambil menekuk kedua lututnya.
"Sayang ada apa sebenarnya, kenapa kamu menangis?" Heran Antony, ia memposisikan diri duduk menghadap Alea.
__ADS_1
Sebab rasa sakit tak bisa tertahan lagi air matanya tumpah kembali. Setelah melihat sang iatri menangis tanpa sebab tentunya Antony bingung, dia pun menyentuh pundak sang istri "Ada sayang? kalau ada masalah mari kita bicarakan bersama cari jalan keluarnya, jangan menangis seperti ini"
Alea menoleh, melihat wajah suaminya ia juga menyeka sisa air mata di pipinya "Tak apa, Mas" Ia pun Bangkit menuju sebuah pintu ke arah balkon kamar. Hawa dingin menyeruak masuk dari pintu, membuat gaun malam yang ia kenakan melambai terkena angin. Gaun malam berwarna merah marun menutupi badan atas sampai lutut. Alea sangat sedih memikirkan hal terburuk dalam hidupnya.
"Kenapa sayang?" Antony melingkarkan kedua tangan di pinggang rampingnya, dagu menempel di pundak dan badan menggelayut di badan badan Alea.
Seketika Antony merenggangkan kedua tangannya "Dia?" Menarik lengan sang iatri hingga keduanya saling berhadapan. Pandangan mereka saling bertemu "Maksud kamu laku laki itu?"
Alea mengangguk.
__ADS_1
Antony melepas pansang dengan sesekali memijat keningnya "Dia tidak akan pernah kembali. Kalau kamu terus memikirkan dia itu artinya kamu mengharap dia datang ke sini dan mengambil kamu dan Miska. Itu yang kamu harapkan?"
"Tidak mas, maksud ku bukan seperti itu. Tolong jangan bicara seperti itu" Melihat raut wajah sauminya Alea pun memeluknya dengan erat "Aku hanya takut kehilangan Miska"
Antony berusaha meredam amarahnya dengan memejamkan mata, mengingat kisah bahagia antara keduanya. Tidak hanya kisah bahagia saja melainkan juga banyak duri tajam yang telah mereka lalui bersama.
"Semua ini karena kecurigaan ku pada si pendonor itu, aku sangat takut kalau dia adalah...." Belum sempat Alea berucap, Antony lebih dulu menutup mulutnya dengan jari telunjuk "Jangan bahas itu lagi. Saya yakin siapa pun orangnya pasti bukan dia, tidak mungkin dia tau tentang Miska karena selama ini dia tidak pernah lagi terlihat di kota ini. Tolong, jangan ungkit dia dan masa lalu kalian" Sambil menenggelamkan wajah sang istri di dalam dekapannya "Semua itu hanya akan mengingatkan saya tentang starus biologis saya. Kalian adalah harta paling berharga dalam hidup ini, jadi tolong jangan pernah ungkit dia, anggap saja dia sudah hilang di telan bumi."
Bahagia itu bukan dengan siapa kita bersama, tapi dari bagaimana cara kita menciptakan bahagia itu sendiri.
__ADS_1