
Sore hari di balkon kamar, Chiko tengah bersantai menikmati sore hari dengan secangkit teh hangat buatan Nyonya Wibisana. Merasa jenuh ia pun membuka status whatsapp, betapa terkejutnya dia kala malihat stoty whatsapp Antony. Sebuah foto keluarga dengan caption DUNIA KU ADALAH KALIAN.
Prankkkkkk....
Sebuah nampan berisi secangkir teh terjatuh ke lantai sebab Chiko menebasnya dari atas meja. Matanya melotot seakan hendak loncat keluar. Sembari menjambak rambut dia berkata"Kenapa......" Teriakan Chiko terdengar oleh kedua orang tuanya yang tengah duduk di taman samping rumah. Keduanya melihat ke arah balkon di mana mereka melihat sosok Chiko berdiri tegak mamandang ke atas langit.
Tuan Wibisana melipat kakinya sambil kembali menyeruput secangkir teh hijau buatan sang istri.
"Papa kok diam saja sih...." Protes sang istri melihat suaminya cuek dengan sang putra.
__ADS_1
Dengan menghembuskan nafas berat, Beliau menaruh cangkirnya di atas meja, pandangan ke atas melihat sosok Andrian "Lalu Papa harus apa, Ma?"
"Papa hibur dia atau bagaimana gitu, mama nggak tega melihat dia rapuh seperti itu. Padahal dia telah banyak berkorban demi anaknya, tapi dia tidak bisa dapat pengakuan dari anak kandungnya sendiri. Mama tidak mau kalau sampai harus kehilangan Anrian lagi, pa. Mama nggak mau" terlihat jelas dari tutur katanya seolah takut jika suatu hari nanti Chiko akan meninggalkan mereka.
"Mama tenang saja, dia itu sudah bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Bukankah dia sudah acuh sama kita?" Tuan Wibisana mengingat kala Chiko di minta pulang karena Nyonya Wibisana merindukan dia, tapi dia tidak mau kembali. Tentu saja Tuan Wibisana kesal padanya. Di tambah lagi Chiko menentang perjodohannya dengan seorang gadis pilihan Tuan Wibisana. Karena Tuan Wibisana sadar orang yang saat ini bersamanya bukan anak kandungnya, melainkan orang asing dengan wajah sama.
Nyonya Wibisana terlihat merajuk, beliau pun bangkit meninggalkan sang suami.
Di sisi ĺain Adam berusaha keras menghubungi Chiko, namun tidak ada respon darinya. Berkali kali ia mengirim pesan whatsapp tetap saja tidak ada respon sama sekali.
__ADS_1
"Sebenarnya dia itu kemana? di saat genting seperti ini dia malah tidak bisa di hubungi" Kesal Adam. Kini dia tengah berapa di kantor dengan sejuta pekerjaan, tiba tiba dia mendapat kebar jika makam keluarga Arya kusuma akan di pindah tempatkan karena ada penggusuran lahan. Awalnya Adam kebingungan karen lahan makam itu susah lama menjadi tempat pemakanan keluarga Arya kusuma. Namun, ada segeraombol orang mendatangi pekarangan makam tersebut, mengaku bahwa lahan seluar setengah hektar itu sah milik mereka. Di tambah semua bukti memberatkan mereka.
Karena patah hati, Chiko sampai tidak mendengar dering ponsel di tangan kirinya. Pandangannya tertuju jauh ke angkasa, bayangan kesakitan semakin menghantui.
"Astaga, bagaimana ini?"
Tak berapa lama Adam mwndapat telepon dari istrinya bahwa ada beberapa orang di depan rumah. Ada laki laki dan perempuan terus meamnggil namanya. Istri Adam ketakutan karena mereka terua berteriak sampai kedua putranya bersembunyi di balik badan sang istri.
"Saya akan pulang sekarang juga, tapi kamu jangan buka pintu sebelum saya datang"Adam pun bergegas pergi.
__ADS_1
"Tuan Adam, tuan, tolong keluar dulu" Teriakan itu membuat hati Nike (Istri Adam) semakin ketakutan. Dia takut jika orang orang di luar akan menyakiti suami dan anak anaknya.
"Ya Tuhan, kesalahan apa yang mas Adam lakukan? kenapa ada banyak orang terus menyebut mananya" Sangking tekutnya Nike mengunci kamar dengan memeluk kedua putranya.