
"Mama, keluar sebentar" Chiko menelepon mamanya di depan kantor polisi.
Tak berapa lama Mama Gita datang "Nak, ada apa? kenapa tidak langsumg masuk"
Chiko melepas kaca mata "Dia ngapain lagi sih, ma. Bikin ilah terus"
"Jangan gitu, dong. Kikan cuma salah paham aja, tadi ada bapak bapak nggak terima sama sikap Kikan, padahal udah jelas yang salah itu bapaknya bukan Kikan. Tapi malah dia lapor polisi"
"Mana mungkin orang tua cari masalah sama dia, pasti yang salah itu dia" ucap Chiko.
"Sudahlah, kita masuk dulu. Pokoknya Kikan harus keluar dari sini, masa iya tungan kamu masuk kantor polisi, kan nggak etis. Kamu harus cari pengacara terkenal"
"Masa bodoh sama dia, ma."
"Chiko, pokoknya kamu harus cari pengacara kalau tidak kamu tau sendiri gimana akibatnya" Lagi lagi Chiko di ancam soal warisan keluarga.
Kesal mendengar celoteh mamanya, Chiko pun bernajak masuk ke dalam kantor polisi. Sebenarnya dia telah menyewa pengacara terkenal di kota.
"Sayang...." Seketika Kikan berlari melihat Chiko datang "Pak tua itu yang salah bukan aku" Di peluknya tubuh Chiko dengan erat sembari membenamkan wajah di dada bidang Chiko. Aroma khas tubuh Chiko membuat Kikan terpejam sejenak, menghayati pertemuan pertama setelah sekian lama terpisah jarak.
Chiko hanya diam tanpa reaksi.
"Kamu tenang dulu, biar saya selesaikan." Chiko melepas tangan Kikan lalu menghampiri papanya. Di lihatnya pak tua duduk si kursi sebalah papanya, nampak beliau terlihat tenang. Setelah semua masalah di jelaskan, Chiko pun mengambil kesimpulan jika Kikanlah yang bersalah.
"Pak, bolehkah saya bicara berdua saja dengN bapak..." Chiko mengajak bapak itu beriskusi di luar secara tenang tanpa saling meninggikan ego satu sama lain.
__ADS_1
"Karena Anda bersikap baik maka, saya setuju"
Mereka berdua keluar.
"Ih, ngapain harus diskusi segala sih, tinggal kasih uang jaminan kan udah kelar" Kikan masih menggampangkan hukum. Baginya uang di atas segalanya.
"Sabar, sayang. Kita tunggu Chiko sebentar, ya"
"Tapi, Ma. Kikan itu artis papan atas lho, nanti citra Kikan buruk di mata umum. Lagian di sini itu nggak enak, tempatnya kotor." Melihat beberapa narapidana keluar masul rauang temu. Tatapan mereka membuat Kikan bergidik ngeri.
"Jaga bicara anda, Nona. Semua orang tidak ingin berada di tempat ini, makanya anda jangan buat masalah. Kalau nona bisa berbuat baik pasti yidak akan pernah ke tempat ini. Dan satu lagi, nona harus tau bahwa hukum tidak bisa di beli dengan uang. Landasan hukum negara ini tidak di dasari uang melainkan keadilan. Jika nona bicara sembarang mungkin hukuman anda akan lebih berat." Ucap pak polisi yang tengah berjaga di sana, beliaulah akan memproses hukum kasus mereka.
"Kamu sabar dulu, nak. Maafkan dia, Pak. Emosinya masih labil" Jelas Papa Chiko.
Merasa sangat malu dengan sikap Kikan, papa Chiko menunduk malu.
"Maafkan, calon menatu saya, pak. Maklum dia maaih muda, harap di maafkan" Pinta Mama Gita.
"Baik, saya akan maafkan dia. Tapi tidak untuk lain kali"
Tak berapa lama Chiko datang bersama Bapak tadi.
"Pak, saya mau mencabut tuntan saya. Sepertinya cara terbaik adalah diskusi secara kekeluargaan." Ucap Bapak itu sambil mengulurkan tangan.
"Bapak yakin?"
__ADS_1
"Yakin"
Pak polisi pun menjabat tangan si bapak, pertanda pembatalan di terima.
Semua keluarga Chiko keluar kantir polisi
"Makasih, sayangku. Nggak salah Papi pilih kamu jadi menantunya" Kikan langkung menempel bak perangko.
"Lepas..." Chiko melepas tangan Kikan "Lain kali jaga mulut biar nggak jadi ribut" Ketusnya serasa berjalan menuju parkiran.
"Mau kemana kamu?" Tanya Papa Chiko.
"Ke kantor" Singkat Chiko sambil membuka pintu mobil.
"Sayang, aku ikut.." Kikan pun berlari kecil menghampiri Chiko namun, belum sempat ia masuk, Chiko lebih dulu menutup pintu.
"Apaan sih..." kesal Chiko sembari mengusai stir kemudi.
"Chiko, buka. Chiko....." Ucap Kikan kala mobil Chiko mulai pergi.
"Berani sekali dia mengabaikan aku" Menghentakkan kaki berkali kali.
"Chiko memang keterlaluan, Kikan baru saja datang tapi dia main pergi begitu aja. Dasar bocah nakal" Kesal papa Chiko sembari berjalan menghampiri Kikan.
"Kalau bukan karena Kikan itu anak orang kaya dan menguntungkan, sudah dari dulu saya tidak setuju Chiko menikahi gadis angkuh sepertinya." Gedumal Mama Chiko. Sebenarnya dia juga tidak suka dengan perilaku Kikan yang emosional dan sombong tapi, mau bagaimana lagi keluarnya masih butuh bantuan dari keluarga Kikan.
__ADS_1