Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
timbulnya rasa takut kehilangan


__ADS_3

Sebelum Miska terbangun karena pembicaraan mereka, Antony menarik lengan Alea keluar dari kamar. Ia membawa istrinya kembali ke ruang tamu "Jangan bicarakan laki laki iru di depan Miska...." Terlihat wajah tidak senang Antony, Alea merasa tidak enak hati karena ucapannya sang suami menjadi bad mood.


"Maaf, Mas" Lirihnya membuang muka.


Antony berusaha mengontrol egonya agar tidal semakin memperkeruh suasana. Kebahagiaan yang baru saja mereka dapatkan seolah berkurang dengan terbahasnya kambali ayah biologis Miska. Namun, dia sendiri tidak menampik kecurigaan atas pendonor itu. Di tambah lagi Adam kaki tangan Miska menghilang setelah operasi selesai, dia juga tidak melihat kondisi Miska pasca operasi. Kalau di pikir lagi memang benar kecurigaan Alea, tetapi Antony tidak ingin merusak mood dengan memikirkan semua itu, apa lagi di depan Miska.


"Seharusnya mas yang minta maaf sama kamu sayang" Antony melingkarkan tangan di bahu sang istri.


"Jangan manyun begitu dong..."


Alea pun menoleh ke arah samping di mana wajah Antony telah menyambutnya "Tapi saya takut kalau suatu saat nanti dia tau bahwa Miska adalah anak kandungnya. Saya tidak mau kalau sampai dia merebut Miska dari kita, saya tidak mau mas." Air mata Alea pecah mengingat akan ada saatnya Chiko tau semua kebenaran tentang Miska. Walau pun memang Chiko sudah tau semuanya.

__ADS_1


Melihat istrinya menangis, Antony memasang badan dengan menenggelamkan wajah sang istri ke dada bidangnya "Biarlah waktu menuntun jalannya, bagaimana pun dunia akan mengungkap apa yang tersembunyi dan mengeluarkan apa yang tertimbun" Berusaha kuat dan ikhlas jika suatu hari tiba saatnya Chiko mengetahui bahwa Miska adalah anak kandungnya. Namun, sebelum semua rahasi terbingkar maka Antony masih menjadi ayah kandungnya dalam artian semua hak seorang Ayah telah ia emban selama ini.


"Nggak, saya nggak mau kalau sampai Miska di ambil olehnya" Terlihat wqjah Alea semakin panik, air mata pun mengalir deras. Deru nafasnya saling memburu. Ada rasa tajut berlebih dalam dirinya.


"Bundq....." Dari kejauhan terdengar suara Miska memanggil.


Keduanya sontak melihat ke lantai atas, di sana telah ada Miska yang berdiri memegang tepi tangga hendak menapakinya.


"Astaga, sayang jangan bergerak" Dengan sigap Antony pun berlari menaiki anak tangga.


"Miska lapar...." Ucap gadis kecil itu sambil memperlihatkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Tapi kan Miska bisa panggil Bunda atau Ayah, Miska tidak boleh turun tangga sendirian. Ayah nggak mau kalau sampai Miska kenapa napa lagi" Ucap Antony sambil mendudukkan Miska di sofa panjang tempat Alea duduk saat ini.


"Bunda kenapa?" Tanpa sengaja Miska melihat Alea mengusap air mata yang tersisa di sudut netranya.


Dengan kembali mengusap kedua pipi, Alea berkata "Tadi Bunda sangat senang karena Miska sudah sembuh sekarang. Jadi Miska boleh minta apa saja yang Miska mau"


"Benarkah?" Wajah sumringah gadis kecil iru terliaht polos dan lucu. Antony pun mengusap kepala Miska "Benar, sayang. Kita akan kasih apa saja yang Miska mau. Mau beli mainan atau beli es krim sebanyak yang Miska mau, pasti kita belikan"


Miska memeluk Antony seraya mencium pipinya.


"Kok cuma Ayah saja yang di cium, Bunda kok nggak di cium" Protes Alea.

__ADS_1


Miska si gadis manis pun segera mencium Ibundanya lalu dia juga memeluk sang Ibunda.


"Terima kasih, Ayah,Bunda, Miska sangat sayang kalian"


__ADS_2