Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
hidup baru


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Acara pernikahan Chiko di gelar mewah di sebuah hotel berbintang. Semua berjalan dengan lancar. Banyak media menayangan pernikahan keduanya sampai dari awal hingga akhir. Kemeriahan dan kemewahan tersuguh di dalamnya. Para tamu undangan pun di penuhi orang penting dari luar negri, mengingat keluarga Kikan adalah seorang kaya di negaranya.


"Mereka menikah juga" Seorang wanita duduk melipat satu kaki sembari meraih segelas susu. Tatapannya tidak lepas dari televisi di depan. Terkulas senyum getir dari bibir wanita itu kala melihat sosok penganting pria tersenyum kepada awak media.


"Hey, udah di minum susunya?" Datanglah seorang lelaki. "Dia?" Manatap wanita yang tengah fokus melihat acara televisi yang menayangkan pernikahan Artis papan atas dengan seorang pengusaha kaya raya. Antony beada di belakang sofa yang di duduk Alea.


"Apakah kamu baik baik saja? atau lebih baik matikan saja tvnya..." Antony menyentuh pundaknya, Alea mendongak sambil tersenyum "I'm fine. Toh dia bukan orang penting di hidup ku" Kembali melihat layar televisi.


Antony merasa pandangan mata Alea tidak bisa bohong. Sebenarnya dari pandangan itu terlihat rasa sakit mendalam. Meski luka kerap kali bersembunyi di balik senyuman.


"Tapi dia itu adalah A...."


"Stop! jangan pernah bicara tentang dia lagi" Alea terlihat kurang senang dengan ucapan Antony.


"Hufff...oke, kalau begitu mending matiin dulu tvnya. Minum dulu susunya,trus siap siap dulu Ini jadwal kita cek si kecil" Antony berjalan, duduk di samping Alea sambil menyentuh gelas yang ada di tangan Alea membawa ke tepi bibir manis Alea.


"Ih, aku bisa sendiri" Alea masih kesal, sampai Antony geleng kepala.


"Jadi rasanya kaya gini ya ngadepin orang hamil" Ucap Antony sembari memandang Alea yang sedang minum susu.

__ADS_1


Sambil menum susu, ia hanya melirik Antony sembari memutar bola matanya.


"Dasar bocah nakal" Antony mencepik hidung Alea dengan kedua jarinya sampai Alea memejamkan mata hampir tersedak.


"Ih....apaan sih" Setelah meletakkan gelas ke atas meja, Alea segera mencubit hidung Antony.


"Lagian kamu kalau marah kaya gitu, bibirnya aja bisa di kuncir" Antony tertawa kala melihat bibir manyun Alea.


"Awas ya kamu, mas" maraih bantal di sampingnya lalu memukul Antony dengan keras.


"Nggak sakit, wekk" Segera Antony berlari


Alea pun mengejarnya. Mereka berlarian di sekitar ruang tamu dengan ta2a dan canda keduanya.


"Kenapa? mana yang sakit?"


Melihat Antony gugup membuat tawa Alea lepas.


"Hah....jadi kamu menipu saya" Antony pun menggelitik pinggang Alea sampai ia menggelinjang geli.


"Hahaha....salah sendiri kamu mempermainkan saya" Di peluklah Alea dari belakang, saat ini kehiudpan Antony tidak terasa kosong, hidupnya mulai berwarna kembali.

__ADS_1


"Ahhh....lepas, aku nggak bisa nafas" Protes Alea kala kedua tangan Antony melingkar erat di perutnya.


"Kalau kamu nggak bisa nafas biarkan aku menjadi oksigenmu" Gombalan dan rayuan Antony teua membuat Alea berdebar debar. Ketulasan darinya belum sekali pun Alea dapat dari siapa pun di dunia ini terlrbih seorang lelaki.


"Oh, iya. Kira kira si kecil kita ini sedang apa, ya" Sembari mengusap perut Alea lembut.


Wajah Alea memerah.


"Mas, jangan seperti ini" Alea segera melepas kedua tangan Antony. Saat ini mereka bertatap muka "Bayi ini bukan milik kamu, kenapa mas begitu menyayanginya?"


Antony tersenyum sambari menyentuh kepala Alea "Dia akan besar bersama kita. Tidak perduli milik siapa asalkan saya mampu memberinya kasih sayang kenapa harus mempermasalahkan hal itu. Dunia lebih memandang hasil dari sebuah benih, bukan benih dari sebuah hasil. Itu real di kehidupan." Ucap Antony.


Alea terharu mendengarnya sampai ia menangis "Terim kasih, mas. Selama ini kamu telah menjaga kami dengan baik. Bahkan hasil keringatmu rela kamu bagi untuk kami" Menunduk kepala merasa malu telah menjadi beban di kehidupan orang lain.


"Hey (Manggapai dagu Alea, mendongakan sedikit sampai keduanya saling menatap) kamu tidak usah perdulikan itu. Yang penting sekarang kamu cepat bersiap, karena sebentar lagi saya ada jadwal pemu pasien." Antony tersenyum.


"Baik, mas. Kalau begitu saya siap siap dulu" Mencubit pipi Antony lalu berlari kecil menaiki anak tangga.


"Hati hati nanti kamu terpelesat." Antony merasa cemas kala Alea berlaian kecil di tangga, ia sangat takut terjadi hal buruk padanya.


"Kita nggak apa apa kok, tenang saja" Jawab Alea.

__ADS_1


Antony hanya bisa menggelang kepala.


"Dasar keras kepala"


__ADS_2