
Sesampainya di dalam mobil Chiko memukul stir kemudi "Arghhhh.....awas kamu Alea, saya pastikan kamu itu hanya milik saya." Chiko segera memutar stir kemudi lalu pergi dari taman tersebut. Laju kendaraan melaju dengan kecepatan penuh, mengingat bagaimana bahagianya mereka bertiga. Di tambah dengan kenyataan bahwa di antara Alea dan Dokter Antony ada ikatan pernikahan.
"Kenepa mereka bisa sampai menikah, bukannkah merek tidak saling kenal. Lalu kenapa pernikahan itu terjadi..." Memijat pelan keningnya. Setelah beberapa saat Chiko mulai ingat, wakyu hilangnya Alea sia tak lagi menemukan Dokter Antony di rumah sakit itu.
"Saya harus mencari informasi dari rumah sakit itu" Chiko meraih ponselnya, terlihat sedang mencari nomor seseorang.
"Ada tugas buat kamu, cari informasi dari rumah sakit tempat Dokter Antony tugas dulu itu, sepertinya ada yang aneh" ucapnya pada seorang di telepin.
"Secepatnya kamu kabari saya" Panggilan pun di tutup.
Di dalam kantor Adam merasa sedikit lelah, belum masalah kerjaan menumpuk ini di tambah tugas dadakan dari Chiko.
Sambil memijat pundak "Mana dulu yang harus saya kerjakan bingung kan jadinya" Saat ini Adam menjabat sebagai Ceo utama dari perusahaan keluarga Chiko, sebab setelah sepeninggalan kedua orang tua Chiko tidak ada lagi yang mengurus perusahaan. Chiko sendiri masih enggan membuka identitasnya, jadi mau tidak mau Adam memegang semua urusan kantor.
"Hufh....Mending cari bantuan saja lah" Adam bangkit dari kursi menuju jendela kantor, tangan kanannya memegang ponsel. Adam meminta salah seorang anak buahnya mencari tau informasi dari rumah sakit tempat Antony bekerja, setelah itu Adam kembali fokus dengan semua file di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Tok tok...
"Masuk..."
Masuklah seorang wanita membawa sebuah file di tangannya. Adam melihatnya sekilas, nampak wajah menunduk wanita itu, tangannya pun bergetar.
"Kenapa? bukankah kamu sudah seminggu tidak masuk kerja, sekarang untuk apa kembali lagi ke sini" Ucap Adam dengan nada sinis.
Wanita itu memberanikan diri mendekatinya sambil menyodorkan file ke atas meja "Ada berkas yang harus di tanda tangani"
Adam enggan menerima file itu, ia geram melihat tingkah bawahannya tersebut.
Adam mulai melempar pandangan, ia seolah menyibukkan diri dengan laptopnya. Bagaimana ia tidak marah, wanita itu tidak masuk kerja selama seminggu tapi tidak mengabari atasannya.
"Bapak jangan pecat saya, saya mohon, Pak" Rintih wanita itu.
__ADS_1
Adam tidak bergeming, dirinya terus menatap layar laptop.
"Saya tidak bisa mengabari Bapak karena ponsel saya sudah di jual demi menutup biaya operasi ayah saya. Awalnya saya ingin datang ke kantor, tapi tidak ada yang menjaga Ayah di rumah sakit. Saya mohon beri saya kesempatan sekali lagi" Rengek wanita itu membuat Adam kesal.
"Kamu itu sudah salah masih saja minta kesempatan? kamu kira perusahaan ini milik keluarga kamu, atau kamu pikir perusahaan ini sebuah taman bermain di mana kamu bisa sesuka hati datang dan pergi begitu saja. Satu yang harus kamu ingat, kami mampu mencari pegawai yang lebih dari kamu" Ucap Adam dengan nada tinggi, membuat wanita semakin ketakutan. Si wanita terlihat meremas tangannya sendiri karena rasa takut akan di pecat.
Setelah mendengar keributan dari dalam kantor, seseorang masuk ke dalam.
"Maaf menggangu, saya dengar keributan di dalam. Saya ijin menjelaskan. Ayah Sintya di rawat karena kecelakaan, beliau mengalami luka serius di bagian kepala dan tulang ekor sampai harus mengalami beberapa kali opedasi besar. Di karenakan Sintya anak satu satunya jadi dia tidak bisa berbuat banyak. Saya menjadi saksi waktu di rumah sakit permata." Laki laki itu adalah pacar sintya, dia berani membela kekasihnya karena merasa iba.
"Mohon pengertian dari Pak Adam. Baru kemarin Ayahnya di makamkan, tapi dia langsung masuk kerja. Jika anda ingin memacatnya biarkan saya mengagantikan dia."
Adam menggeleng kepala "Pembelaan macam apa ini..." Si saat Adam berdiri dan hendak menghampiri mereka tiba tiba dia kembali teringat kata Runah sakit Permata.
"Tunggu kamu tadi bilang rumah sakit apa?"
__ADS_1
" Rumah sakit Permata, Pak" Jawab Laki laki itu.
"Oke, saya akan pertimbangkan keputusan saya ini. Kalau begitu kalian keluar dari ruangan saya"