
Selelah di pikir lebih dalam ucapan orang itu ada benarnyajuga. Meski terlahir di keluarga subur, belum tentu menjamin kesuburan diri sendiri. Akhirnya Chiko memutuskan untuk menemui ahlinya
"Halo, Dok. Tolong atur pertemuan kita hari ini juga. Oke baik, terima kasih" Chiko bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di sana ia menemui Dokter spesialis andrologi, setelah melakukan beberapa konsultasi, lalu Chiko melakukan tes kesuburan, Chiko di suruh menunggu beberapa waktu.
"Nggak mungkin saya mandul" Tuturnya sembari meyakinkan diri, kakinya menghentak berkali kali menunggu hasil yang belum juga keluar.
Drt...
Ponselnya bergetar, di lihatnya layar ponsel dengan nama wanitaku.
"Ada apa dia menelepon..."
"Ya, ada apa" Ketusnya.
"Kamu kira bisa keluar begitu saja dari rumah itu....Hahaha, sebelum kucing liarku menjadi jinak tidak akan ku biarkan dia berkeliaran di luar. Nikmati saja proses penjinakan kamu dulu" Chiko memutus panggilan telepon.
Alea melempar ponselnya, ia tidak menyangka Chiko sekejam itu padanya.
"Non, jangan marah. Tuan Chiko sebenarnya orang yang baik." Ucap asisten rumah tangga.
"Baik kata bibi, di mana baiknya otak bambu itu? dia itu jauh lebih kejam dari seekor singa." Alea pun duduk di tepi ranjang. Saat ini dirinya bagai tawanan seorang mafia. Pergerakan di awasi dan di kurung di kamar.
__ADS_1
"Kenali dulu baru menilai. Bibi sudah puluhan tahun kerja sama mas Bos, jadi bibi tau bagaimana sifat asli mas bos. Non tenang saja mas bos tidak akan berbuat jahat sama non kalau non mau menurut" Bibi itu meletakkan nampan berisikan makan siang Alea lengkap dengan minuman dan buah segar.
"Jangan puji dia depan saya, bi. Bikin nggak nafsu makan" Alea membuang muka, melihat jendela. "Saya bosen bi di kurung terus, pengen liat dunia luar."
Bibi menatik nafas panjang "Non, harus sabar dulu, nanti pasti akan tiba saatnya non di bebaskan diri sini" Ucapnya sembari meninggalkan Alea. Dia juga tidak lupa mengunci pintu kamar.
"Konspirasi macam apa ini sebenarnya?"
Di sisi lain Chiko terus menunggu hasil tes kesuburannya, dengan mata yang terus menatap ruangan dan badan sedikit membungkuk kedua tangga mengatup. Dalam diam ia terus berdoa supaya tidak ada hal buruk terjadi padanya.
"Tuan Chiko, ini hasil tesnya" Seorang Dokter memberikan sebuah kertas warna putih.
"Terika kasih, Dok. Kalau begitu saja pamit dulu" Chiko segera meninggalakn tempat itu, menuju parkiran di mana mobil mewahnya terparkir.
"Ya, Tuhan...." Mututnya menganga mendapati halis tesnya.
"Sudah saya bilang, saya baik baik saja." Segera ia mengemudikan mobilnya.
Tok tok..
Seorang wanita paruh baya mengetuk kaca mobil Chiko dia adalah mama kandung Chiko yang kebetulan sedang ada di rumah sakit itu, beliau tengah mengunjungi kerabatnya yang tengah di rawat di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Mama..." Chiko pun membuka kaca mobil "Kok mama di sini?"
"Loh harusnya mama tanya sama kamu, ngapain kamu di sini? kalau mama jelas sedang menjenguk tante wini, lah kamu ngapain di sini?"
"Mama masuk dulu deh..." Ucap Chiko sembari membuka pintu mobil, mempersilahkan beliau masuk.
"Apa ini?" mama Gita melihat sepucuk surat di kursi yang hampir beliau duduki.
"Astaga, jadi kamu...." Mama Gita menatap putranya.
"Mama...." Di rebutlah kertas dari tangan mamanya.
"Apa apaan kamu, Nak." Mama Gita terkiki geli, tak menyangka putra angkuhnya malakukan tes kesuburan.
Chiko merasa malu "Mama apa sih..."
"Cie...apa kamu sudah nggak sabar mau punya anak gari Kikan? sampai kamu melakukan cek segela" Mama Gita terus menggoda putra angkuhnya tersebut.
"Sudahlah, ma. Jangan sebut nama dia lagi" Chiko segera mengemudikan mobil.
"Saya antar mama pulang"
__ADS_1
"Hem....oke lah. Kamu nggak mau nginep di rumah mama, gitu?"
"Nggak mau. Nanti si tua bangka itu mengoceh, bikin pusing" Orang yang di maksud Chiko adalah ayah kandungnya sendiri.