
Tiba saatnya hasil tes keluar, Chiko diam diam melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Alea atau pun Antony. Kertas putih berbalut amplop coklat masih dalam genggamannya, hatinya gusar takut kalau dugaannya itu salah sehingga bisa membuatnya kecewa. Kini Chiko di dampingi Adam. Saat ini mereka tengah duduk di kursi panjang runah sakit, keduanya saling diam. Adam yang tau jika sahabatnya tengah bingung antara membuka tapi kecewaa atau diam tapi mengungkap. Raut wajah bimbang tergambar jelas di wajah Chiko.
"Apa pun hasilnya kamu harus bisa menerima" Ucap Adam seolah tak ingin sahabatnya kecewa nantinya apabila tes mengatakan bahwa Miska bukanlah putri kendungnya.
Dalam diam ketakutan dan ambisi tuk memiliki terus menguasai diri. Ketika ambisi menghabisi jati diri runtuhlah segala ilusi di hati. Selebar sayap merpati tak mampu menyembunyikan matahari, dan seperti apa Takdir bermain akan tiba masa terungkap. Drama kehidupan sering mempermainkan nurani sampai tiba akhir yang di sebut Takdir.
Chiko membolak balikkan amplop berwarna coklat di tangannya sambil terus menatapnya, Jantung berdegub kencang, hawa dingin menyelimuti badan.
Perkahan Adam menepuk pundak Chiko, badan condong Chiko membuatnya langsung menoleh sampai kertas di tangannya terjatuh.
"Biar saya bantu ambilkan...." Seorang laki laki berdiri di samping Chiko kemudian mengambil amplop itu. Adam dan Chiko terkejut melihat sosok Antony berada di depan mata mereka, buru buru Chiko meraih amplop dari tangan Antony, takut jika nanti dia melihatnya.
"Terima kasih, ini hasil pemeriksaan saya" Dustanya.
"Anda sakit?" Antony melihat dri ujung kaki sampai ujung kepala tidak ada hal yang menghawatirkan, tapi kenapa dia bilang pemeriksaan.
__ADS_1
Adam tidak tinggal diam, ia menjelaskan bahwa periksaan itu bukan sakit fisik melainkan tes mata. Antony pun mempercayai mereka lalu duduk dengan bersandar di kursi tempat mereka duduk. Tadinya Antony ingin keluar sebenatar untuk menenangkan pikiran, rqpi di tengah jalan melihat kedua orang yang ia kenal membuatnya menghentikan langkah.
"Bagaimana kondisi Miska sekarang? seharian ini saya belum sempat melihat kondisinya" Tanya Chiko.
Terdengar suara hembusan nafas memberatakan ucapan "Hufff.....kami harus secepatnya mencari pendonor untuk Miska" Wajah Antony terlihat lemas tak berdaya, terlihat nerta seorang laki laki menampung banyaknya air mata.
Adam mulai curiga sesuatu yang belum Chiko sadri, kalau memang Miska anak dari Dokter Antony kenapa dia tidak menjadi pendonor tapi malah mencari sosok pendonor. Seorang Ayah rela mengorbankan nyawa demi buah hatinya, lalu kenapa Antony nampak gelisah. Atau benar Miska itu bukan anak kandungnya.
"Kenapa tidak anda saya yang menjadi pendonor untuk putri kecil anda, Pak"
"Ya kalau biasanya kan seorang ayah akan menjadi penolong utama untuk anaknya, kenapa anda tidak mendonorkan sumsum tulang belakang anda?"
Nampak Antony membuang wajah dengan menundukkan kepala, badan condong kedepan dan kedua tangan mengatup menjadi satu.
Beberapa saat mereka bertiga terdiam.
__ADS_1
"Saya bukan Ayah biologis Miska"
Deg....
ternyata kecurigaan mereka benar Miska itu bukan anak kandung Dokter Antony, jadi hasil tes itu pasti menunjukkan kecocokan antara Miska dan Chiko.
"Ha.....maksud Anda Miska itu bukan...."
"Iya, Miska anak dari istri saya, meski begitu kasih sayang saya tidak kurang dari seorang ayah kandung" Terlihat Antony mengusap mata menyembunyikan air mata dari keduanya.
Mendapat pernyataan itu membuat Chiko tersenyum indah. Namun, Adam sengaja menyengol lengan Chiko agar dia tidak lepas kendali.
"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar" Ujar Chiko sembari bangkit.
"Saya juga mau keluar sebentar, maaf saya malah curhat sama kalian" Antony pun bangkit lalu meninggalkan mereka.
__ADS_1