
Berapa banyak kebohongan dalam diri Chiko saat ini sampai banyak orang tidak sadar akan semua itu. Meski begitu Chiko tak ingin tinggal diam, ada kesempatan besar di balik musibah ini. Otak jahatnya menggeliat ria.
"Saya harus pulang dulu, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan" Chiko pun meninggalakn rumah sakit itu tapi sebelumnya dia sudah lebih dulu mengajukan tes DNA.
"Miska sayang bagaimana kondisi kamu,nak" Damar mendekati Miska lalu mencium keningnya. Miska hanya membalasnya dengan senyum, setelah sesaat Miska kembali meringis kesakitan. Keduanya panik dan kembali Dokter beserta yang lain menangani kondisi Miska.
"Sayang tunggu sebentar, Nak" Antony segera berlari keluar mencari Dokter yang menangani kondisi putri kecil mereka.
"Bun, sakit....." Rintih Misak sambil mencengkeram kedua sisi ranjang, bibirnya mulai pucat dan mata memejam rapat kaki bergrlinjang menahan kesakitan luar biasa.
"Ya Tuhan tolong putri hamba..." Sambil memegangi bagian tubuh dari lengan sampai lutut.
"Bunda, sakit, Miska nggak kuat lagi, Sakit Bun"
Sebagai seorang ibu tentu Alea sangat terpukul, tidak hanya air mata tapi hatinya pun ikut melamah. Detak jantung berdetak tanpa beraturan dan badan kian melemas, seolah tak mampu melihat kesakitan sang anak.
__ADS_1
Sambil memegang kening Alea berbisik "Berdoa sayang ayo, nak. Kamu harus kuat hadapi semua ini, kita pasrahkan pada Tuhan"
Miska memompa nafas dengan berat "Huuuf, Huuuf, huuuf....."
"Mohon kalian keluar biar kami tangani pasien" Ucap Dokter yang baru saja datang beserta tim media dan Antony.
Mereka berdua segera keluar dari ruangan.
"Mas....saya tidak tega melihat Miska merintih. Kenapa tidak saya saja yang sakit, kenapa harus anak sekecil itu, apa salah Miska sampai di hukum sedemikian rupa" Dalam pelukan sang suami, Alea mencurahka kesedihan mendalam. Air mata mewakili hati seorang ibu yang sakit karena melihat putri kecilnya sakit.
Antony hanya bisa diam sembari terus melantunkan doa doa terbaik untuk sang anak, tak lupa kedua tangannya melingkat di badan Alea.
"Sttttttt (Meletakkan jari telunjuk di mulut sang istri)....jangan pernah menyalahkan Takdir, karena tidak ada satu manusia pun yang bisa merubah keketapan Tuhan. Kita tidak boleh berpikir buruk. Perbantak doa sayang" Antony mencium kening sang istri.
Alea sudah tidak menyalahkan diri atau takdir, kini ia masih menangis di pelukan suaminya dan terus berdoa dalam hati untuk kesembuhan putri kecilnya.
__ADS_1
Tidak berapa lama keluarlah Dokter dari rungan Miska.
"Dokter....bagaimana kondisi putri saya" Alea berlari ke arah Dokter.
Dokter menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap keduanya dengan nafas memberatkan "Semakin lama kondisi pasien semakin memburuk. Secepat mungkin pasien harus melakukan transplatasi sumsum tulang belakang, kalau tidak keselamatannya bisa terancam"
"Ya Tuhan....bagaimana ini" Alea merasa seolah mati di tempat mendengar kenyataan itu, membuat air mata tak henti menetes. Dalam kesedihan Antony mencoba kuat di hadapan sang istri dan putrinya. Dunia seolah runtuh seketika.
"Kita harus yakin Tuhan pemilik kehidupan manusia. Saya yakin Tuhan akan memberikan pertolongan untuk Miska kita ini, dia pasti sembuh. Kita harus yakin itu" Jelas Antony sambil memeluk istrinya.
"Kalian harus mencari pendonor secepat mungkin atau anak kalian akan...."
"Tidak, jangan bicara sepeeti itu Dokter. Anak saya akan baik baik saja, kami akan melakukan yang terbaik untuknya. Kalau perlu kita akan membawanya berobat ke luar negri"Tutur Alea penuh derai air mata.
"Silahkan saja kalau itu keputusan kalian" Ucap Dokter itu lalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Sayang jangan bicara seperti itu....."
Setelah Alea masuk ke dalam ruangan Miska, Antony pun segera menyusul ke ruangan Dokter Tadi.