
Di sela sela tawa Miska saat ini terselip banyaknya cerita dari kehidupan masa lalu. Dalam diam Chiko memperhatikan sang buah hati. Tak pernah ia menyangka akan menjadi sosok ayah dalam diam. Kenyataan ini membuatnya bahagia juga menderita, kebahagiaan yqng ia dapat hanya bisa ia simpan dalam hati. Sedangkan penderitaannya adalah tidak mendapat pengakuan biologis dari Miska mau pun khalayak umum. Keinginan terbesar Chiko saat ini hanya satu, menjaga baik baik anak dan wanita terkasihnya itu. Jika di tanya apakah tidak punya niatan untuk menguasai keduanya? Ya, pastilah ada. Sebagian besar keinginannya adalah menguasai kedunya tanpa harus berbagi dengan yang lain. Namun, kembali lagi dengan semua kenyataan bahwa mereka telah menjadi milik orang lain.
"Silahkan di minum..." Sebuah nampan berisikan dua cangkir teh dan makanan ringan. Ketika Alea menunduk hendak meletakkan cangkir, Chiko mendongak menatap wajah ayu Alea. Rambut indah Alea terurai sampai hendak menyapu cangkir di tangan kanannya, reflek Chiko menyibakkan rambut Alea sampai ke belakang pundak.
"Ah, maaf, maaf." Ucap Alea dengan wajah canggung setelah beberapa saat pandangan keduanya saling bertemu. Entah kenapa jantung Alea terasa berdegub kencang sampai nafasnya semakin menderu.
"Saya yang harusnya minta maaf sudah lancang ..." Tak ingin kecanggungan menjadi jauh lebih buruk, Chiko beralih mengambil mainan lalu menunuukkan pada Miska "Coba lihat boneka ini sangat cantik seperti Miska"
Miska meraih boneka barbie dari tangan Chiko kemudian memainkannya bersama Adam dan Chiko. Alea juga menemani Miska bermain tapi hanya sekedar ikut tertawa kala melihat Miska tertawa ria dan duduk bersama mereka.
Drt, Drt....
__ADS_1
Ponsel Adam bergetar tanda sebuah pesan Whastapp masuk. Segera melihat layar ponselnya, dan ia menatap Chiko dengan tatapan berbeda.
"Ada apa?" Tanya Chiko yang sedang memangku Miska.
"Kita bicara di luar " Ucapnya sembari bangkit.
"Miska sayang, Om keluar sebentar ya nak." Setelah Miska mengangguk segera Chiko mengikuti langkah Adam sampai di teras rumah Alea. Terlihat raut kepanikan di wajah Adam saat ini.
Adam memperlihatkan sebuah berita di media masa, membuat Chiko terbelalak. Media masa memperlihatkan penggusuran lahan tanpa ijin keterkaitan lahan makam keluarga Arya Kusuma.
"Kita harus segera bertindak kalau tidak tua bangka itu akan semakin menjadi jadi" Tatapan penuh dendam tersorot dari matanya.
__ADS_1
Adam pun tau apa yang harus dia lakukan setelah mendengar ucapan Chiko, ia menghubungi kuasa hukuk keluarga Arya Kusuma dan semua bukti yang ada.
"Saya tidak akan membiarkan makam lulur keluarga Arya di gusur paksa seperti ini, saya akan mempertahankannya. Lihat saja nanti apa yang bisa saya lakukan kepada para tua bangka itu"
Tanpa mereka sadari Alea tengah menguping pembicaraan mereka di balik pintu. Mendengar pernyataan MEMPERTAHANKAN membuatnya kembali curiga, siapa sebenarnya Andrian Wibisana ini? kenapa dia mau berkorban untuk keluarga Arya.
"Apakah dia itu kerabat dekat Chiko atau...." Pikirnya sambil membayangkan hal terburuk yang ada di otaknya.
"Astaga, mikir apa aku ini (Menggelengkan kepala beberapa kali) ini hanya perasaanku saja, mereka tidak mungkin orang yang sama atau kerabat dekat. Kalau di lihqt dari biodata Andrian Wibisana terlahir di Belanda, tidak mungkin dia adalah Chiko. Nggak mungkin nggqk mungkin" Alea pun hendak berbalik meninggalakn kedunya yang masih berbincang di luar.
"Ya, saya Chiko Arya Kusuma. Proses hukum saya serahkan pada anda dan Adam. Saya yakin kalian bisa menghendle semua ini. Segera cari semua bukti bukti"
__ADS_1
Mendengar kalimat itu sontak membuat Alea terbrlalak, ternyata benar dugaannya selama ini. Dia adalah Chiko ayah biologis Miska. Setelah mendengar kenyataan itu hampir seluruh tubuh Alwa bergetas hebat, kakinya mulai melemas sampai terduduk di lantai. Kedua tangannya menutup mulut dan mata berlinang air mata "Tidak, ini tidak mungkin. Pasti hanya mimpi"