
Demi membuktikan ucapannya, Chiko pun mengikuti perjalanan bisnis. Dalam benaknya terlintas bayangan Alea saat bersama seorang laki laki yang ia anggap suami Alea. Di dalam kabin pesawat pandangan mata Chiko tidak lepas dari bayangan masa lalu.
"Pasti saat ini dia sudah melupan saya"
Tidqk berapa lama sampailah Chiko di negara A, ada dua orang sedang menunggunya dengan membawa papan di kedua tangan. Karena orang yang belum mereka temui akan datang, mereka pun merentangakan sebuah tulisan Tuan Andriqn Wibisana.
"Astaga, kenapa harus pake poster segala. Jaman sudah berkrmbang tapi masoh saja pake begituan" Protes Chiko kala melihat namanya terpampang di salah satu kerumunan orang di sana.
"Saya Andrian Wibisana"
Kedua laki laki itu lantas membantu Chiko membawa koper "Saya di urus atasan saya untuk menjemput anda tuan"
Chiko melepas kaca mata "Lain kali jangan norak. Jaman sudah maju, komunikasi semakin cangkih tapi cara kampungan" Protes Chiko dengan nada tidak suka.
__ADS_1
Keduanya saling bertatap muka, kemudian salah satu di antara mereka memberi kode mata "Sebelumnya kami mohon maaf Tuan, tadi kami lupa belum menyimpan nomor pribadi anda." Mereka berdua menunduk merasa tidak enak hati.
"Lain kali jangan ulangi lagi. Bukan seperti ini cara menyambut orang penting seperti saya, kalau bukan utusan dari Tuan Devan maka kalian sudah saya lempar" Masih sama seperti Chiko yqng dulu hanya fisik dan idintitas saja yang berubah tapi sifat egoisme dan arogannya masih melekat dalam diri.
"Kqmi siap menerima hukuman Tuan, kami mengaku salah" ucap keduanya sambil membungkukkan badan.
Chiko sangat acuh, ia pun berjalan lebih dulu.
"Pengusaha yang kejam" Ucap salah seorang yang melihat kejadian di sana.
"Mobilnya di sebelah sana, Tuan" Menunjykkan mobil mewah di sebuah parkiran.
"Silahkan..." Si bukalah pintu mobil lalu Chiko pun masuk.
__ADS_1
Mereka menuju sebuah Villa yang telah di sepakati untuk mwnjadi tempat tinggal Chiki. Awalnya Chiko telah di pesankan hotel berbintang, tapi ia meminta di sewakan villa saja karena lebih nyaman dan udara pun sejuk. Banyak pohon dan tamanan lainnya sampai mata di manjakan alam. Kebetulan jalan menuju Villa Sedikit jauh dan Chiko terkejut melihat sebuah Villa yang pernah ia lihat sebelumnya. "Berhenti, berhenti" Seketika mobil berhenti
"Ada apa Tuan?"
Chiko diam sambil melihat seluruh Villa, terlihat sosok laki laki tengah duduk di depan teras membaca koran dan secangkir kopi tersuguh di meja."Jadi mereka masih tinggal di sini" Dengan wajah menahan marah, Chiko menatap laki laki yang di sangka suami Alea pada waktu itu padahal laki laki tersebut hanya seorang supir pribadi.
"Tuan suka Villa ini? Kalau anda suka, kami bisa minta bos untuk pesan Villq si sebelah itu, di sana masih kosong" Menunjuk dua Villa megah tepat di samping Villa milik Antony.
"Oke, saya mau Villa yang itu"
"Baik,saya akan segera memberi kabar pada Tuan Devan"
Setelah menunggu setidaknya setengah jam, mereka pun sudah boleh masuk ke Villa yang di inginkan Chiko.
__ADS_1
"Kalau anda butuh sesuatu bisa langsung hubungi kami, Tuan" Sambil memberikan kunci mobil mewah kepada Chiko. Mobil tersebut di siapkan perusahan untuk mempermudah tranportasi Chiko selama berada di sini.