Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Bertemu Alea


__ADS_3

Tidak lama setelah itu sampailah Chiko di tempat yang Adam maksud, di sebuah klinik spesialis kandungan.


"Klinik kandungan? apakah dia...." Chiko pun keluar dari mobil lalu mencoba masuk ke dalam, sebelum itu tidak lupa ia memakai kaca mata hitam dan juga topi sebagai alat penyamaran.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Seorang security menghampirinya karena Chiko terlihat mondar mandir seperti sedang kehilangan sesuatu.


Ya, dia memang kehilangan sesuatu, Chiko kehilangan harapan dari seseorang yang telah meninggalkannya sebulan yang lalu. Selama itu pula dirinya seolah tidak punya semangat hidup, kehilangan jati diri. Chiko si pemarah tidak lagi sama seperti saat dulu, kini ia cenderung diam. Orang yang biasanya keluar masuk Club malam kini lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Jiwa singa dalam dirinya melemah bagaikan krupuk tersiram air, ya begitulah kondisinya saat ini. Seseorang yang temak akan jabatan dan pangkat mulai malas berjuang sebab harapannya telah pupus.


Chiko memegang topinya sembari sesekalu di putar pelan "Saya mau menjemput istri saya"


"Saya kira bapak sedang mencari sesuatu, kalau begitu silahkan masuk, pak"


Chiko pun memasuki klinik tersebut, ia mencari seseorang hingga matanya tertuju pada seorang yang tengah berdiri memegang ponsel "Itu dia si Adam" Perlahan Chiko melangkahkan kaki ke arah Adam. Kebetulan saat itu Adam tengah memeriksakan kandungan sang istri, tanpa sengaja ia melihat Alea ada di sana juga. Tanpa pikir panjang Adam pun menghubungi Chiko. Kebetulan dua hari yang lalu Adan dan membawa istri liburan di puncak dekat Klinik tersebut, karena sebuah alasan Adam pun membawa sang istri ke knilik terdekat. Sepertinya istri Adam mengalami kram perut jadi dia harus di rawat di klinik beberapa jam.


"Dam...." Ucap Chiko di belakang badan Adam, seketika Adam berbalik "Untung kamu segera datang. Tadi saya lihat dia baru saja masuk ke dalam ruangan Dokter" Sambil menunjuk pintu putih yang tertutup rapat.


"Makasih, atas infonya. Oh iya bagaimana kondisi istri kamu?" Menepuk pundak Adam kemudian bergegas pergi, tapi Adam menghentikannya


"Kamu tenang saja, istri dan anak saya baik baik saja hanya mengalami kram perut karena bebetapa faktor" Tutur Adam.


Chiko terus menatap ke arah pintu Dokter kandungan, berharap ia bisa melihat Alea lagi dan kembali bersamanya, dalam hati ia berjanji jika Alea mau kembali bersamanya dia tidak akan lagi berlaku kasar sedikit pun.


"Kalau wanitaku datang sini, itu artinya dia sedang mengandung anak ku. Syukurlah..." Terlihat Chiko nampak bahagia dengan kabar tersebut.


Adam melihat Chiko sebahagia itu membuatnya bungkam, karena baru saja melihat hal mencengangkan, dengan wajah menunduk Adam membuka suara "Sepertinya dia sudah menikah dengan orang lain"


Ucapan Adam meruntuhkan kebahagiaan Chiko, hingga ia tak bisa berkata kata. Diamnya adalah derita dan tatapan matanya adalah luka, itu yang saat ini di rasakan Chiko.


"Apa maksud kamu? jangam bercanda, Dam. Saya nggak suka bercanda di saat sedang bahagia bahagiannya"


Adam menarik nafas panjang sebelum menjelaskan apa yang ia lihat.

__ADS_1


"Tadi saya melihatnya di peluk seorang laki laki tampan dengan pakaian dokter, mereka nampak bahagia, terlebih si laki laki itu memperlakukan dia layaknya pengantin baru. Mereka berpelukan di depan semua orang dan tanpa ragu mengusap petut Alea." Jelas Adam.


Chiko semakin terluka, kakinya melemah sampai ia terduduk di kursi tunggu. "Nggak mungkin, itu pasti anak ku. Nggak saya nggak percaya" Sembari menggelengkan kepala, tidak percaya semua ucapan Adam yang menyakitkan itu.


Adam hanya bisa terdiam diri sembari ikut duduk di samping Chiko, di lihatnya wajah pucat sahabatnya "Tapi, semua itu baru dugaan saya saja. Untuk lebih jelasnya kamu tanyakan padanya saja"


Chiko masih diam beberapa saat.


"Panggilan untuk bapak Damar, di mohon segera ke kasir" Seorang suster menghampiri mereka berdua.


"Baik, saya akan ke sana" Adam bangkit.


"Pesankan saya tiket ke Belanda"


Sontak Adam terkejut mendengarnya "Belanda? kamu mau bulan madu di sana"


"Saya tidak sudi tinggal di sini lagi, untuk apa saya di sini kalau semua harapan sudah tidak ada lagi." Chiko mulai putus asa dengan hidupnya sampai ia ingin menghilang dalam waktu yang tidak di tentukan.


"Saya sudah tidak perduli lagi dengan semua itu, terserah mereka mau mencoret atau bahkan tidak menganggap saya sebagai anak mereka lagi, yang penting saat ini saya ingin sendiri dulu. Setelah urusan kamu selesai pesankan saya tiket hari ini juga. Tapi, jangan sampai ada yang tau tentang kepergianku." Chiko bangkit lalu meninggalkan tempat tersebut. Hatinya serasa terbakar api hingga menghanguskan jiwa raganya.


"Tapi kamu itu anak satu satunya dari keleluarga kamu, apa jadinya mereka tanpa kamu" Adam mencoba memberi masukan agar Chiko tidak meninggalkan kota tersebut demi bersembunyi dari lukanya.


"Jangan hentikan saya dengan alasan keluarga, karena mereka tidak pernah memikirkan perasaan saya selama ini." Tanpa pikir panjang Chiko pergi dari sana.


"Astaga, drama apa lagi yang terjadi setelah ini. Perasaan hidup bagai putra mahkota tapi kehidupan masih saja nelangsa... ck ck ck" Adam menggelengkan kepala.


Meski Chiko merasa kecewa dan sakit hati, tetap saja ia ingin melihat wanitanya sekali sebelum pergi meninggalkannya. Hampir sepuluh menit Chiko menunggu di dalam mobil, tapi Alea tak kunjung keluar klinik.


tok tok...


Tidak lama kemudian ada seseorang mengetuk kaca mobilnya.

__ADS_1


"Iya, ada apa" Tanya Chiko.


seorang juru parkir membungkukkan badan sembari tersenyum "Mohon maaf, pak. Mobilnya bisa di geser lebih maju, soalnya parkiran penuh, pak." Banyaknya pengunjung di klinik membuat parkiran menjadi sesak, kebetulan mobil Chiko terparkir sedikit menghabiskan ruang karena sisi kiri masih longgar.


"Oke, saya juga mau keluar" Segera Chiko memundurkan mobil, ketika hendak berbelok matanya di kejutkan dengan sosok Alea yang baru saja keluar dari klinik. Chiko pun kembali ke tempat perkiran "Saya bayar dua kali lipat " Pak parkir tersebun tertegun melihat banyaknya uang yang derikan padanya.


"Hey, jangan bengong. Minggir kamu" Chiko mengusirnya karena tubuh gemuk juru parkir tersebut menghalangi pandangannya pada Alea.


"Jauh dari saya sebulan saja dia manjadi jauh lebih cantik, apa benar suaminya orang kaya atau dia hanya sebagai simpanan saja" Melihat Alea sedang berbicara pada seseorang di telepon.


Tak berapa lama ada seeorang menghampiri Alea, si laki laku itu tersenyum padanya lalu mereka menuju mobil yang ternyata terparkir di samping mobil Chiko.


"Di lihat dari penampilannya sih sepertinya tidak terlalu kaya, tampangnya seperti supir bukan seperti bos. Tapi, di lihat dari senyum laki laki itu sepertinya memang mereka ada kedekatan" Setelah mobil mereka pergi, segera Chiko mengikutinya dari belakang.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampailah mereka di sebuah villa megah di pinggir kota. "Jadi mereka tinggal di sini" Melihat seorang laki laki tadi membuka pintu untuk Alea, tentu membuatnya sakit hati.


"Kamu sukses membuat ku hancur Alea. Saya kira kamu berbeda dari wanita lain, tapi nyatanya kamu sama seperti mereka" Entah karena cemburu atau egonya terluka, segera Chiko meninggalkan tempat tersebut.


"Bagaimana kamu sudah pesankan tiket belum?" Tanya Chiko pada seseorang yang ia telepon.


"Oke, saya ambil passport dulu"


"Makasih, ya" ucap Alea pada supir pribadi Antony yang sudah menjemputnya dari klinik.


"Sudah kewajiban saya, Non" Ucap pak supir sembari menundukkan kepala tanpa hormat.


"Kalau begitu kamu boleh istirahat dulu, nanti sore jangan lupa jemput Mas Antony"


"Baik, non"


Alea merasa penat sampai ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa "Huh....hari ini rasanya lelah sekali"

__ADS_1


__ADS_2