Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Bersitegang


__ADS_3

Dalam diam Alea termenung tak berdaya. Saat ini mulutnya mengatup rapat. Entah salah siapa sampai nasibnya seburuk ini. Di atas naungan ranjang rumah sakit, Alea berusaha kuat dan baik baik saja meski nyatanya dia tidak sedang baik baik saja. Kejadian malam itu mebuat dunianya hancur, seperti hidup dalam dimensi berbeda. Teelihat kedua mata mulai berkaca kaca.


"Permisi...."Datanglah seorang Dokter muda beserta tim medis.


"Selamat sore, perkanalkan saya Dokter Antony. Di karenakan Dokter guntur berhalangan hadir, maka saya menggantikan beliau sementara waktu. Kami periksa dulu ya" Dengan lemah lembut Dokter tampan itu memeriksa kondisi Alea.


Benar yang di bilang Dokter Guntur, pasien tengah mengalami trauma. Kalau di biarkan terus maka psikisnya akan lebih parah


"Apakah anda punya keluarga lain selain suami anda?" Mencoba membuat Alea membuka mulut, tetap saja Alea diam tanpa melihat atau pun menjawab pertanyaan Dokter Antony.


"Dok, sepertinya pasien depresi berat" Bisik salah satu anggota tim medis.


"Sepertinya begitu" Lirih Dokrer Antony sambil menatap wajah pucat Alea.


"Tunggu, kamu ini adiknya Andira, bukan?" Setelah melihat lebih jelas wajah pasien, teenyata dia adalah adik dari sahabat lamanya.


Mendengar nama kakaknya di sebut tentu membuat Alea segera melihat wajah sang Dokter. Benar saja Alea mengenalnya. Sosok Dokter ini dulunya pernah beberapa kali datang ke rumah. Hubungan antara Dokter Antony dan kakaknya hanya sebatas teman dekat. Waktu kuliah dia sering menjemput Andira ke rumah dan kerap melihat Alea, bahkan beberapa kali Alea juga di antar oleh Antony saat masih duduk di bangku Smp.

__ADS_1


"Kalian boleh pergi" Ucapnya pada anggota tim medis.


Alea masih membatu.


"Hey, kamu kenapa sampai seperti ini?" Dokter Antony meraih kedua bahunya "Alea, bicaralah."


Tatapan mata Alea terus mengarah pada jendela. Pikirannya kacau balau sampai tidak ada kata yang nyangkut di otaknya.


"Dahulu kakakmu juga mengalami hal yang sama. Pada akhirnya dia tidak tahan dan..."Alea menutup mulut Dokter Antony dengan jari telunjuknya.


"Jangan bicara tentang kepedihan kak Andira" Air mata Alea mengalir deras kala melihat kisah sang kakak yang juga sama seperti kisah hidupnya. Yang membedakan dari kisah keduanya adalah dari cara mereka, kalau Andira sengaja memupuk derita, sedangkan Alea di paksa malakukan.


Mendengar ucapan Dokter Antony membuatnya teringat pada sosok kakaknya. Alea pun memeluk Antoni dengan erat.


"Aku sangat rindu kak Andira" Di luapkan semua kerunduan pada sang kaka melalui Antony, semua ucapan Antony mengingatkan dia pada sang kakak. Dahulu pernah suatu ketika Alea di buat sakit hati oleh Doni yang tiba tiba pergi begitu saja, di saat itu sang kakak mengatakan hal yang sama.(Mana adikku yang periang, dan murah senyum) kata kata itu terus mengingatkan pada diri sang kakak. Sejak Alea lahir, Andiralah sosok pertama yang di lihatnya. saat itu Andira masih duduk di sekolah dasar. Ia merawat sang adik dengan penuh kasih sayang. Dengan telaten, Andira memberinya susu setiap hendak berangkat sekolah dan sepulang sekolah, selebihnya Andira menitipkan Alea kepada tetangga di sekitar rumah. Kebetulan saat itu ayah mereka harus bekerja demi menghidupi mereka,beliau bekerja di luar kosa untuk waktu yang lama. Dalam beberapa bulan sang ayah akan pulang dan pergi lagi.


Ibu mereka harus menutup mata kala berjuang melahirkan Alea, karena faktor ekonomi yang menghimpit keluarga mereka jadi sang ibu memutuskan lahir normal meski Dokter sudah memberi saran supaya melahirkan secara cesar. Namun, apalah daya jika uang saja mereka tidak punya. Ibu Alea mengidap hipertensi parah sampai dokter tidak berani memberi saran lahir normal. Karena sang ibu takut membebani akhirnya dia memutuskan lahiran di dukun beranak. Benar saja setelah Alea lahir, sang ibu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Belum sempat melihat putri kecilnya, hanya tangis yang di dengar. Tuhan telah memanggilnya pulang.

__ADS_1


Plak...


Di tamparlah pipi Chiko dengan sangat kuat.


"Kamu keterlaluan...." Teriak Kikan.


Chiko menangkis tangan kasar Kikan kala hendak memukulnya. Sungguh, Chiko sangat kesal atas perilaku Kikan.


"Cukup! dengan kamu bertingkah seperti ini, saya akan semakin membenci kamu. Ingat, saya brrtunangan sama kamu bukan atas kemauan saya, melainkan paksaan dari keluarga kita. Jadi, jangan pernah campuri urusan pribadi saya"


"Bagaimana pun kamu itu tanangan ku. Kenapa aku nggak berhak marah saat kamu sama wanita lain. Apa bagusnya wanita itu? di banding dengan ku dia bukan apa apa" Kikan menyombongkan dirinya sendiri.


Chiko meraih lengan Kikan sembari mencengkeram dagunya "Heh....saya sudah cukup sabar sama kamu selama ini. Kalau menurut kamu dia tidak layak bagi saya, maka kamu jauh tidak layak bersanding dengan saya."


Seolah tersambar petir di siang bolong. Hati Kikan sangat terluka, cinta yang selama ini ia dambakan ternyata hanya bertepuk sebalah tangan. Sebelumnya Chiko tidak pernah bersikap kasar padanya apa lafi sampai membentak.


"Jangan pernah merasa kalau kamu bisa lebih baik dari dia. Bagiku kamu tidak jauh dari sebuah berlian. Memang mahal tapi membahayakan" Ketus Chiko.

__ADS_1


"Jahat kamu...." Mendorong tubuh Chiko lalu berlari sekuat tenaga.


__ADS_2