
keluarga Arya Kusuma hancur. Kehormatan mereka di hancurkan seketika oleh putra mereka, Chiko. Pernikahan yang baru beberapa jam berlangsung sudah di putuskan secara sepihak hingga membuat keluarga Kikan murka, saham yang di taman di perusahaan di cabut paksa dan membalas perbuatan Chiko melalui kedua orang tuanya. Perusahaan mereka kala itu di ambang kehancuran, hingga suatu saat Chiko meminta Adam untuk menerima sejumlah uang darinya untuk kembali membangkitkan perusahaan itu. Sebelumnya Adam hanya bilang kalau saham hancur di sebabkan keluarga Kikan menarik semua saham di perusahaan itu tapi Adam tidak memberitahu kalau keluarganya sudah mencoretnya dari data keluarga.
Keesokam hari Chiko dan Adam menuju sebuah tempat yang cukup jauh.
"Sebenarnya mereka pindah kemana? kenapa jauh sekali" Tanya Chiko.
"Sebentar lagi kita sampai, tapi saya mau kamu menutup mata"
"Menutup mata, kenapa?" Chiko semakin curiga pad Adam "Sebenarnya kebenaran macam apa yang ingin kamu perlihatkan pada ku"
"Kamu tenang saja tidak akan terjadi apa pun, hanya saja saya tidak ingin memperlihatkan mereka dengan cara berbeda itu saja"
"Oke lah, terserah kamu yang penting jangan sampai mereka tau kalau saya adalah Chiko, putra mereka"
Sesampainya di sebuah tempat Adam segera menutup mata Chiko menggunakan sebuah kain yang sudah ia siapkan, lalu mereka turun dari mobil menuju sebuah tempat yang di tuju, Adam membantu Chiko berjalan menyusuri tempat pemakan keluarga Arya Kusuma.
__ADS_1
"Jauh sekali"protes Chiko kala langkahnya tidak kunjung berhenti.
"Sabar, sebentar lagi kita sampai"
Setelah beberapa lamgkah sampailah mereka di sebuah makan yang berdampingan.
"Buka penutup mata kamu" Setelah Chiko melepas penutup mata tersebut dirinya shok dengan sekeliling.
"Maksud kamu apa Dam? ini pemakaman keluarga saya, lalu di mana rumah baru kedua orang tua saya yang kamu maksud itu" Chiko belum sadar jika di depannya ada kuburan kedua orang tuanya. Dia masih melihat sekeliling makan yang bersih, makan tempat para lelulur keluarga Arya Kusuma.
"Ya, di sini rumah baru kedua orang tua kamu" Adam bersimpuh lalu menyentuh batu nisan di makam tersebut.
Adam hanya bisa diam melihat semua kepedihan yang harus di telan sahabatnya itu.
"Kamu harus sabar, Ko. Mereka sudah tenang di alam sana" Adam menyentuh pundak Chiko
__ADS_1
"Sabar kata kamu(Sambil mendorong Adam sampai terpelanting ke belakang) orang tua saya meninggal dunia tapi kamu tidak memberitahu saya? sahabat macam apa kamu ini" Amarah Chiko seketika meluap. Tangan kanannya menggantung dengan kepalan tangan hampir memukul wajah Adam.
"Pukul saya semua memang salah saya"
Buakkkkk...
Dengan keras Chiko memukul wajah Adam sampai ujung bibir Adam mengeluarkan darah.
"Luapkan semua amarah dalam diri kamu sampai sepuas kamu"
Chiko bersimpuh di samping kedua batu nisan orang tuanya "Maafkan saya, maafkan saya, maafkan saya" Tak henti Chiko meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Air mata seorang anak tumpah di atas batu nisan kedua orang tua yang selama ini sudah merawat dan menjaga dirinya sampai menjadai sosok pribadi yang kuat .
Adam mendekati Chiko sembari mengusap pundaknya "Semua terjadi atas kehendak Tuhan, lebih baik kita doakan beliau "
Tatapan mata Chiko penuh amarah, tapi Adam tidak menyalahkan Chiko saat ini karena semua terlalu tiba tiba dan mengejutkan Chiko.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya jika...." Ketika nada bicaranya mulai meninggi, Lantas Adam mengeluarkan ponsel lalu memperlihatkan sebuah video terakhir saat ayahnya masih bisa berbicara.
"Jadi semuanya asalah salah saya" Chiko pun tak dapat menahan sakit hatinya, ia pun terduduk di samping makan keduanya.