Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Drama kecil


__ADS_3

Malam mulai larut, Miska sangat mengantuk di gendongan Chiko. Perlahan gadis itu terlelap dalam dekapan Chiko, ayah biologisnya.


"Miska sudah tidur bolehkan saya yang menidurkan dia di kamar" Pinta Chiko pada kedua orang tua Miska. Tanpa ragu ragu mereka mengijinkan Chiko memasuki kamar Miska. Perlahan Chiko menaiki anak tangga karena letak kamar Miska ada di lantai dua satu kamar dengan kedua orang tuanya.


Clik...


Pintu kamar di buka. Setelah kamar terbuka betapa terkejutnya dia kala malihat sebuah bingkai besar di atas ranjang mewah itu. Terdapat sebuah foto keluarga.


"Harusnya laki laki di foto itu adalah saya" Gumamnya kesal. Setelah membaringkan tubuh mungil Miska, Chiko pun hendak berajak pergi namun lagi lagi matanya di kejutkan sesuatu hal yang membuaynya syok.


Terdapat foto kecil Miska di sana beserta keterangan lahir dan nama panjangnya, Miskayla Arya kinanti. Bak menelan duri runcing, lehernya terasa seolah tercekik dan nafasnya naik turun "Ada marga keluarga saya di belakang nama anak ini, apakah dia itu..."


"Tuan Andrian" Tiba tiba saja muncul sosok Alea dari luar pintu, ia tersenyum dengN langkah maju.

__ADS_1


"Ponsel anda berdering terus menerus takutnya itu penting" Alea menyodorkan ponsel miliknya.


Belum sempat panggilan telepon di jawab nada deringnya pun berhenti pertanda panggilan di akhiri. Dengan salang menatap antara keempat mata, ada sebuah tatapan penuh arti di mata Chiko. Alea segera menepis keraguaannya lagi dengan mengalihkan pandang kepada putri kecilnya.


"Maaf ya kalau anak saya telah merepotkan anda"


"Tidak masalah, saya malah merasa senang melihatnya dekat dengan saya. Meski saya belum punya anak tapu sudah merakan seolah dia itu anak saya" Chiko juga melempar pandang pada Miska yang tengah berbaring di atas ranjang sambil di belai mesra oleh sang ibunda.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu sama anda?" Chiko sedikit mencondongkan badan.


"Berapa usia Miska saat ini?"


Sontak pertanyaan itu mengejutkan Alea, di lihat dari gerak tubuhnya dan pandangan seolah menghindar dari mata Chiko, membuatnya semakin yakin ada yang di sembunyikan.

__ADS_1


"Maksud saya bertanya tentang umur karena saya ingin membelikan baju untuknya" Berbohong demi mendapatkan jawaban yang tepat.


"Emmm....."Berpikir sejanak lalu menatap mata Chiko. Ia sedikit takut jika nanti ada yang mengusik kehidupannya beserta anak dan suami. Dia sadar jika anak itu bukan milik suaminya melainkan benih dari laki laki lain, betapa takutnya dia akan kehilangan Miska.


"Miska usianya 4 tahun lebih 5 bulan" Jawabnya singkat.


"Oh, baiklah. Kalau begitu saya permisi pulang dulu" Tak berapa lama Chiko turun menuju ruang tamu di mana Antony tengah menerima telepon dari seseorang. Kalau di lihat dari raut wajahnya ada beberapa masalah, tapi Chiko masa bodoh. Sesulit apa masalah Antony tidak akan membuatnya iba malah akan semakin senang jika dia susah.


Setelah usai menelepon Antony berbalik "Miska susah tidur?" Sambil menghampiri Chiko.


"Sudah, dia sangat nyenyak sekali. Sepertinya dia sangat kecapean" tutur Chiko sambil melihat lantai atas di mana Alea dan Miska berada.


Ikatan batin seorang Ayah lebih erat dari ikatan rantai besi sekali pun. Perasaan peka itu tidak bisa di bandingkan dengan apa pun di dunia. Jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya sama halnya dengan ikatan batin seorang ayah dan anak. Sejauh apa pun dia pergi rasanya akan tetap dekat di hati, sekokoh apa dinding menghalangi keduanya Takdir akan membawanya kembali. Jika ikatan adalah sebuah belengu tentunya ikatan itu bisa menguatkan hati nan jauh terpisah.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu" Antony menghempaskan badan di sofa.


"Karena malam semakin larut dan perut sudah kenyang, saya mau ijin pulang dulu" Chiko bangkit di susul oleh Antony, dia juga mengantarkan kepergian Chiko.


__ADS_2