
Malam harinya Chiko menuju sebuah rumah di pusat kota, Chiko merasa sangat lelah seharian penuh bekerja tanpa henti. Pundaknya serasa pegal pegal, ia meminta Adam mencari tukang pijat. Kini Chiko melajukan kendaraan menuju rumah Adam sendirian karena sebelumnya ia sudah lebih dulu meminta asisten pribadinya pulang. Pertemuan itu tidak berkaitan dengan perusahaan jadi Chiko memintanya pulang lebih dulu. Di negara A tersebut Chiko sangat berhati hati menjaga identitas diri, kehidupan lalu tak ingin kembali ia arungi. Hidup dalam bayangan orang tua yang sangat mengikat lehernya.
"Pesan makan sekalian ya saya lapar" Titah Chiko kepada seseoramg dalam telepon.
"Oke, terserah apa saja yang penting kamu nggak lupa makanan kesukaan saya" Panggilan telepon pun terputus setelah Chiko mematikan ponsel.
Setelah hampir satu setengah jam lamanya berkendara, sampailah ia di depan rumah Adam. Kedatangannya langsung di sambut hangat oleh Adam dan keluarga, istri dan dua anaknya yang berusia 4 tahun dan yang kecil masih berusia beberapa bulan.
Chiko pun keluar dari mobil dengan membawa bebera bingkisan di tangan. Sebelum menuju ke rumah Adam, Chiko singgah di pusat perbelanjaan untuk membelikan hadiah kecil untuk anak anak Adam.
"Selamat datang kembali Tuan Andrian Wibisana" Ucap Adam sembari menahan tangis. Sudah sejak saat peetemuan terakhir mereka, ini yang pertama kali mereka bertemu.
Chiko tersenyum sembari menepuk pundak Adam
"Gimana kabar kamu dan keluarga" Pandangan Adam beralih pada istri dan kedua anak Adam.
"Kami baik, sangat baik. Bagaimana dengan Tuan?"
__ADS_1
"Jangan sungkan begitu saya masih sehabat kamu, yang selalu merepotkan kamu. Ini anak anak kamu?" Chiko pun melihat kedua putra Adam.
"Iya, perkanalkan anak pertama saya Arga di panggil Aga, dan si kecil ini rangga"
"Oh...halo sayang" Chiko menyentuh pipi Arga dengan lembut, namun anak itu melarikan diri karena takut.
"Aga nggak baik Nak begitu sini sayang" Adam hendak mengejar putranya tapu Chiko menghentikan Damar.
"Biarkan saja namanya juga anak anak"
Istri Adam masih bingun atas ucapan suaminya dan teman dekatnya itu, karena setau dia selama ini Adam hanya punya satu sahabat yaitu Chiko Arya wiguna, tapi ini Andrian Wibisana nama itu sangat asing di telinganya.
"Sayang ambilkan minuman soda di kulkas" titah Adam pada istrinya.
"Baik, mas."
"Oh iya saya bawakan mainan untuk kedua anak kamu" Chiko menyerahkan bingkisan tadi pada Adam.
__ADS_1
"Aduh ngapain bawa ginian segala, kalau mau kesini tuh nggak usah bawa bawa kali"
Chiko menepuk pelan kening Adam "Kamu pikir saya orang kere. Saya cuma bawa mainan buat dua ponakan saya ini, dari lahir baru ketemu mereka apa salahnya bawa hadiah sederhana ini" Chiko mengusap kepala putra Adam.
"Makasih Om..." Dengan polosnya anak sulung Adam mencium tangan Chiko sembari meraih hadiah di tangan Ayahnya.
"Sayang jangan lari lari nak nanti jatuh" Adam memperingatkan anaknya.
"Anak kamu sudah pinter ya, andai saja dulu" Tiba tiba Chiko menghentikan ucapannya mengingat kegagalan lalu hingga membungkam mulutnya rapat.
Adam tau apa yang ingin Chiko ucapkan "Nggak usah pikirkan hal yang sudah lalu" Sebagai seorang sahabat tentunya Adam paham atas luka di hati Chiko.
"Silahkan di minum Tuan, kami hanya bisa menyiapkan seadanya saja" ucap istri Adam sembari menaruh minuman soda di depan meja Chiko.
"Makasih ya, ini sudah mewah buat saya karena di Belanda makanan seperti ini tidak ada. Makasih banyak ya"
"Biasa saja, udah makan yuk pasti kamu lapar" Adam pun bangkit lalu membuka piring di depan Chiko "Makan yang banyak...."
__ADS_1
"Oh iya, sayang tadi adek dapet hadiah di bawa mas Aga. Kamu jaga anak anak di kamar duku ya, mas mau ngobrol sama sahabat lama" Bisik Adam. Istrinya pun mengerti lalu meninggalkan keduanya.