
"Kamu pilih apa pun yang kamu mau, saya mau angkat telpon dulu. Nanti kalau sudah selesai jangan lupa call me, ya" Ucap Chiko sembari melangkahkan kaki menjauh.
"Iya, mas..." Alea melambaikan tangan "Jangan jauh jauh"
"Sudah saatnya aku mengikuti jalan hidup yang harus aku jalani. Untuk apa berontak terus menerus kalau ujungnya makin nyiksa. Lebih baik aku belanja saja. jarang benget kan aku belanja tanpa lihat harga" Sejatinya Alea bukan wanita matre, namun ia menjadi seperti sekarang ini karena merasa sudah tidak ada gunanya lagi sok jaim dan lain lain. Kesuciaan bagai mahkota telah di renggut paksa sampai ia sadar harga dirinya sudah tidak ada lagi.
"Beli apa dulu, ya..." Menjentikkan jari ke dagu.
"Beli baju dulu kali, ya" Tanpa tunggu lama Alea menuju hamparan pakaian di mall tersebut. Ketika ia hendak memeilih satu baju tiba tiba ada seseorang yang hendak mengambil baju yang sama. Pada akhirnya mereka berebut satu baju yang sama. Kebetulan baju itu tinggal satu satunya, di desain khusus oleh perancang terkenal di kota itu. Siapa tidak ingin memiliki baju mewah dan elegan itu, hingga Alea rela mempertahankan baju yang ada di tangannya.
"Saya yang lebih dulu mangambil baju ini..." Protes Alea sambil memegang baju itu.
"Saya lebih dulu lihat baju ini, jadi ini milik saya" Seorang wanita dengan angkuh mengibaskan rambut indahnya ke wajah Alea sampai Alea sendiri merasa kesal. Merebut paksa baju dari tangan Alea.
"Eh...jangan gitu dong. Harusnya siapa duluan yang ambil dia yang dapat. Lah ini maksa banget" Kembali meraih baju di tangan wanita itu. Wanita tersebut angat angkuh dan sombong, tidak ada hal yang tidak bisa dia miliki karena dia anak orang kaya. Dia adalah Kikan,bintang besar di kuar negri. Kali ini dia menyamar dengan menggunakan kaca mata hitam, kerudung dan pakai masker. Jadi, tidak ada satu orang pun dalat mengenalinya.
"Ada apa ini?" Datanglah seorang wanita paruh baya. Beliau membawa beberapa helai pakaian.
"Ini, ma. Dia udah ngerebut baju ini" Dengan manja si gadis, menempel pada bahu ibunya.
"Ah, mama.(Menghentakkan kaki beberapa kali) Aku mau itu. Nggak mau yang lain"
"Iya, sayang. Kalau kamu mau semua baju di mall ini bisa mama borong buat kamu seorang." Mengusap lengan gadis cantik lalu menatap tajam Alea.
"Berikan sama menantu saya. Kamu nggak cocok pake baju mahal seperti ini" Dia merebut baju di tangan Alea.
"Maaf, ya bu. Bukan saya tidak sopan, tapi saya lebih dulu ambil baju ini. Masalah pantas atau tidaknya itu bukan urusan anda." Tegas Alea sembari hendak meminta bajunya kembali.
"Enak saja, ini harus jadi milik menantu saya. Kamu cari yang lain kan masih banyak" Tanpa perduli mereka membawa kabur baju incaran Alea.
"Kenapa harus saya? seharusnya menantu kesayangan anda ini yang harus mencari baju lain." Protes Alea.
Kikan kesal lalu menjambak Alea
"Heh kamu mau jual baju ini berapa aku bisa beli sepuluh kali lipat. Kamu nggak tau aku ini siapa" sambil menjambak rambut Alea, Kikan melepas kaca mata hitamnya juga maaker yang ia kenakan.
"Kamu? bukankah kamu..."
"Iya, saya artis terkenal jadi jangan macam macam kamu" Ancam Kikan seraya melepas rambut Alea.
"Sudah, sayang. Jangan bikin keributan di sini" Mama Gita meraih lengan sang calon menantu, membawanya pergi dsri hadapan Alea.
Sebagai bintang besar seharusnya bisa menjaga nama baiknya sendiri, bukannya malah mempermalukan diri sendiri. Jika bukan kerena harta yang di miliki keluarga Kikan, sudah dari dulu mama Gita memutuskan perjodohan itu. Sudah banyak hal buruk terjadi saat dia datang ke indonesia.
"Menyebalkan sekali sih mereka itu"Kesal Alea sambari menata kembali rambutnya.
Selesai berbincang bincang dengan seseorang di telepon, Chiko pun segera menghampiri Alea.
Bruk...
Tanpa sengaja Chiko menabrak seseorang "Maaf, maaf, saya tidak sengaja" Chiko mengambil pinselnya yang terjatuh juga membantu memungut baju milik wanita yangbia tabrak.
"Kalau jalan matanya di pake dong. Jadi kotor kan baju saya" Maki wanita itu sambil memungkut baju yang ia bawa.
"Kamu?" Chiko terkejut kala melihat wajah Kikan.
"Chiko" Ucap mama Gita.
"Sayang, kamu di sini juga. Katanya tadi kamu lagi sibuk di kantor." Kikan memeluk Chiko.
"Apa sih...." Melepas tangan Kikan dari lehernya.
"Kalian, ngapain di sini?"
"Loh kok ngapain sih, harusnya mama yang tanya sama kamu ngapain kamu si sini. Bukannya tadi Kikan bilang kamu sedang di kantor" Menatap mata putranya, mencari kebanaran. Seketika bola mata Chiko beralih pandang membuat mamanya tau jika putranya sedang berbohong.
"Sengaja saya datang ke sini mau beli baju buat Kikan, pasti dia nggak bawa baju banyak, kan" Memandang Kikan.
"Ah, kamu sweet banget sih, sayang. Jadi terharu pengen nangis" Kikan menggelendot manja di lengan Chiko.
"Oh, kalau begitu mama mau ke kasir dulu mau bayar belanjaan mama dulu. Kamu temani Kikan cari baju ya, mama mau cepet pulang."
"Oke, mama." Kikan melambaikan tangan sambil memberi cium jauh.
"Apaan sih, lepas. Malu di liatin orang"
__ADS_1
"Biarin aja lah ngapain ngurusin mereka, yang penting aku sama kamu, sayang." Lagi lagi Alea bermanja di lengan Chiko sampai Chiko sendiri merasa kesal.
"Bantu aku pilih sepatu, ya" Mendongak melihat wajah calon suaminya. Dari bawah wajah tampan Chiko nampak mempesona di tambah rambut halus di sekitar dagu.
"Apa sih...." Chiko melepas tangan Kikan kala ia melihat Alea menatapnya dari jauh.
"Kamu pilih sendiri. Nih kamu pake kartu ini sepuas hati kamu" Memberikan kartu atm miliknya.
"Ih, aku maunya di temenin kamu, sayang."
Chiko berusaha tenang. Ia pun mengiyakan ajakan Kikan.
"Nah, gitu dong." Mereka pun pergi dari tempat itu menuju sebuah toko sepatu super brended di mall tersebut.
"Kamu pilih dulu, saya harus menghubungi sekertaris saya" Chiko hendak pergi namun Kikan kembali menghentikannya.
"Nggak mau, kamu nggak boleh pergi. Telponnya di sini aja, jangan jauh jauh" Kikan berusaha menjadi gadis manja supaya Chiko senang hatinya. Chiko sendiri sangat suka dengan wanita manja. Namun, tidak untuk Kikan. Dia sangat membancinya sebab ada beberapa hal dalam diri Kikan yang tidak ia sukai.
"Tenang. Saya nggak akan jauh kok"
"Tapi jangan lama lama, ya." Memperlihatkan wajah polosnya serta tersenyum simpul.
"Oke, oke. Sekarang kamu pilih mana yang bagus saya mau telpon dulu. Mau kamu borong semuanya juga tidak masalah"
Setelah Kikan pergi dan memilih sepatu yang ia inginkan, Chiko mencoba menelepon Alea.
"Selesai belanja cepat pulang. Nanti saya suruh Adam bayar tagihan kamu." Tak perlu waktu lama Chiko mematikan sambungan telepon.
"Oh, jadi dia punya wanita lain" Meski belum memiliki rasa apa pun terhadap Chiko, hati Alea terasa sakit. Kedua tangannya mencengkeram sebuah baju yang hendak ia beli. Merasa sakit hati Alea pun tidak jadi membeli baju, ia memilih pergi dari mall tersebut.
"Pak antar saya ke jalan telangga ungu gang 12" meminta tukang ojek pangkalan mengantarnya pulang ke rumah. Kesempatan Alea kali ini bisa kabur dari Chiko, ia ingin menemui ayahnya.
"Sebentar pak..." Alea turun dari motor, masuk ke dalam. Kebetulan ayahnya sedang ada di rumah.
"Ah, mas. jangan gitu ah, geli tau" Suara itu terdengar dari kamar ayahnya. Alea mengepalkan kedua tangan sambil berjalan melewati kamar ayahnya.
"Untung aku masih punya uang simpanan" Alea mengambil semua uang hasil kerja kerasnya. Uang itu hasil dari gaji yang ia sisihkan sedikit demi sedikit. Ketika ia hendak pergi dia melihat sebuah bingkai foto keluarga di atas meja rias.
"Mama, Alea kangen mama." Memeluk foto tersebut lalu tidak lupa membawanya pergi.
"Biar aku tunggu di luar saja" Alea duduk di depan rumah sambil melihat ponselnya. Banyak pesan Whatsapp dari Chiko. Tapi Alea hanya membacanya tanpa membalas satu pun pesan tersebut. "Terserah dia mau ngapain saja, siapa perduli" Meletakkan ponsel melihat sekeliling rumah.
"Hari ini kamu sangat memuaskan, sayang" Ucapan Ayahnya terdengar renyah di telinga Alea, membuatnya bangkit menghampiri sang ayah yanh sudah duduk di ruang tamu. kucuran ketingat membasahi baju, dan rambut si wanita terlihat acak acakan.
"Alea?" Sang Ayah terkejut kala Alea tiba tiba masuk.
"Siapa dia, mas?" Tanya sang wanita.
"Saya anaknya. Pergi kamu dasar pela**r" Alea menyeret langan wanita itu.
"Ah, mas...." Si wanita terjatuh sebab di dorong oleh Alea.
"Alea, apa apaan kamu" Sang Ayah membantu wanita itu berdiri. "Dia itu calon mama kamu. Harusnya kamu tidak kasar seperti itu"
"Saya tidak sudi punya ibu tiri macam dia. Sekarang kamu pergi dari rumah saya" Alea kembali mendorong wanita itu.
"Alea...." Sang Ayah hampir menamparnya, tapi dia menghantikan niatnya karena sadar Alea adakah sumber uang baginya.
"Kenapa? ayah mau pukul Alea. Pukul saja sepuas hati papa" Mwnyodorkan pipi seolah mentang sang ayah. Alea geram dengan sikap ayahnya. Selama dia tinggal dengan ayahnya, banyak wanita keluar masuk rumah sampai para tetangga membicatakan tentang kelakuan sang ayah. Setiap kali di tegur ayahnya selalu marah dan memukulnya.
"Sudahlah, kami pulang dulu" Ucapnya pada wanita itu. Pandangannya beralih pada anak gadisnya tersebut.
"Sayang, maafkan ayah...." Ketika hendak menyentuh lengan Alea, lebih dulu Alea mundur.
"Anda tidak pantas di sebut ayah lagi. Mana ada seorang ayah tega menjual putri hanya demi uang. Kenapa ayah tidak menjual ginjal ayah sendiri biar dapat uang, kenapa harus menjual aku? harusnya ayah itu sadar kalau ayah itu salah." Maki Alea.
"Dengar dulu penjelasan Ayah. Sebenarnya ayah tidak bermaksud menjual kamu, tapi..."
"Tapi apa? Alea tau ayah itu sudah menjual Alea kepada seorang laki laki kaya. Ayah tidak usah menutupi semuanya karena smAlea sudah tau yang sebenarnya" Alea mendorong sang Ayah lalu berlari keliar rumah.
"Kenapa aku di lahirkan harusnya aku ikut mama mati saja" Dengan memegang sebuah bingkai dan ponsel, Alea berlari sekuat tenaga.
"Alea tunggu, nak" Sang Ayah berlari berusaha mengejarnya tapi karena usianya sudah tua jadi ia tidak sanggup berlari lagi.
"Eh bukannya itu Alea..." Seorang laki laki melihat Alea berlarian di tepi jalan. Ia adalah pemilik cafe tempat Alea bekerja. yang ia tau saat Alea sudah tidak kerja di tempatnya. Ayahnya bilang Alea pindah kerja ke luar kota tapi nyatanya Alea masih ada di sini.
__ADS_1
"Alea...." Segera mengejar Alea.
"Alea, tunggu" Dia berhasil meraih lengan Alea.
"Bang Erick...." Ucap Alea sembari menyeka air matanya "Ada apa bang?"
"Kok kamu nangis, kenapa?"
"Tidak, saya tidak apa apa."
Erick sangat mengenal Alea, jika dia berbohobg pasti ujung telinganya memerah. Erick sendiri dulunya adalah sahabat dari sang kakak. Karena merasa kasihan pada Alea, Erick pun menawarkan pekerjaan padanya.
"Kamu duduk dulu..." Erick dan Alea duduk di sebuah halte.
"Kamu kenapa tidak bilang sama saya kalau mau pindah kerja, kenapa harus melalui ayah kamu. Memangnya saya punya salah apa sama kamu sampai kamu tidak mau menemui saya"
"Saya tidak pindah kerja, saya..."Ucapannya terhenti mengingat bahwa dia sudah di jual oleh ayahnya.
"Tapi apa?"
"Nggak apa apa bang. Saya hanya ingin berhenti kerja saja."
Erick merasa ada yang aneh dengan Alea, sorot matanya seolah minta tolong padanya meski ia tak bisa mengerti bahasa mata Alea.
"Terua kenap kamu tadi lari latian sambil nangis begitu? apa kamu sedang ada masalah sama ayah kamu. Tadi aku lihat ayah kamu juga lari latian ngejar kamu"
"Iya ,bang. Ayah keterlaluan dia masukin cewek ke rumah. Ini tidak hanya sekali tapi berulang kali. Alea malu Bang, malu" Air matanya kembalu menetes.
Merasa iba Erick pun memeluk Alea dengan erat.
Alea sudah seperti adik baginya.
"Kamu yang sabar ya..."
Dari kejauhan ada sosok mata tengah melihat ke arah mereka. Dia adalah Chiko, setelah mendapat kabar dari Adam jika Alea sudah tidak di mall, segera ia menurunkan Kikan di pinggir jalan demi mencarinya. Setelah itu Chiko mengunjungi rumah Kikan tapi tidak ada siapa pun di sana, sampai ia melihat sosok ayah Alea duduk di tepi jalan. Dia bertanya di mana Alea, dia bilang kalau Alea berlari ke arah depan sana. Segera Chiko malajukan mobil mencari sosok yang di cari.
"Jadi kamu menemui laki laki lain di belakang saya" Memukul stir kemudi lalu membuka pintu mobil. Kedua tangannya mengepal kencang.
"Heh....lepaskan tangan kamu dari wanitaku." Dengan lanfkah di percepat Chiko menarik baju balakang Erick.
Buk..
Chiko memukulnya dengan keras.
"Tunggu kamu siapa" Belum sampat mendapatkan jawaban Erick sudah mendapat bertubi tubi pukalan dari Chiko.
"Saya akan patahkan kedua tangan kamu"
"Stop...." Teriak Alea kala Chiko menarik kedua tangan Erick.
"Kenapa?kamu tidak suka jika saya melukainya?" Amarah Chiko samakin menjadi. Api cemburunya semakin berkobar.
"Tenang dulu bro, gue bisa jelasin" Mencoba bangkit lalu mengusap darah di bibir.
"Jelasin apa, ha..." Chiko hampir melayangkan pukulan lagi kepadanya, tapi Alea menghalanginya.
"Harusnya kamu pukul aku jangan dia."
"Kamu...." Tatapan Chiko sangat menakutkan.
"Sini kamu, sekarang juga kamu ikut saya" menyeret Alea masuk dalam mobil.
"Ah, lepas, sakit mas." mencoba lepaskan diri dari cengkaraman singa jantan si pemarah itu. Tapi apalah daya Chiko terlalu terbakar api cemburu. Sulit baginya meredam amarah Chiki saat ini.
"Aw...." Alea di dorong dari luar.
"Kamu harus mendapatkan hukuman" Chiko mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Jangan ngebut, berbahaya" Teriak Alea sambil berpegangan pada sabuk pengaman.
Chiko tidak mendengarkan Alea. Yang ada dalam hatinya saai ini hanyalah amarah.
"Kamu sudah membuatku marah lagi, dan lagi" Mobil pun menepi di sebuah jalan sepi.
"Mau apa kamu mas" Lagi lagi Chiko memaksa Alea berhubungan lagi dan lagi. Tanpa belas asih Chiko terus melakukannya sampai beberapa kali. Tentu Alea tidak kuat menahan rasa sakit di rahimnya, ia pun jatuh pingsan.
__ADS_1