Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Keluarga Wibisana


__ADS_3

Meski raga mereka saling berjauhan tapi ikatan mereka sangatlah dekat. Jarak bukan halangan kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya, tapi jarak kerap menyentuh kerinduan. Sejauh ini tidak sedikit pun Chiko berpikir kalau dia akan memeliki anak dari wanita simpanannya dulu,bahkan anak itu sangat cantik dan manis. Kalau mengingat kembali bibir mungil Miska saat memanggilnya dengan sebutan Om Ganteng, membuatnya tersenyum senyum sendiri.


"Andai saja kamu bisa mamanggilku Ayah...." Lirihnya sambil melihat foto di ponselnya. Sewaktu Chiko mengajaknya bermain di taman bermain, sengaja mereka berfoto bersama layaknya ayah dan anak. Meski di saat itu Chiko belum tau bahwa Miska adalah anak kandungnya.


"Kenapa senyum senyum begitu...." Datanglah Nyonya Wibisana.


Segera Chiko menyembunyikan ponselnya.


"Sini Mama mau lihat" Nyonya Wibisana meraih ponselnya, lalu ia melihat sebuah foto anak kecil tengah bersamanya. Senyum pun melebar "Dia seperti kamu, nak. Meski wajahnya tidak semirip kamu yang dulu, pasti si cantik ini mirip sekali sama mamanya"


Chiko memijat kepala pelan "Lebih mirip saya lah, Ma. Saya Ayahnya pasti dia lebih mirip saya" Di raihnya kembali ponsel itu lalu meletakkan di saku celana.


Nyonya Wibisana duduk di sampingnya, tatapan mata Nyonya Wibisana mengarah pada sebuah bingkai besar di dinding ruang tamu, di mana mereka tengah duduk bersama. Tatapannya nampak memancarkan kesedihan, wajahnya pun menunduk "Meski kamu bukanlah anak kandung saya, tapi sampai kapan pun kamu tetap manjadi anak saya. Wajah ini (Menatao Chiko lalu menyentuh kedua pipi Chiko) selalu membuat saya bahagia" Entah kenapa tiba tiba beliau mengingat almarhum putranya. Air mata pun mengalir begitu saja.

__ADS_1


Melihat wanita di sampingnya menangis, membuat hatinya ikut perih. Mereka sama sama membutuhkan kasih sayang. Untuk saat ini Chiko hanya memiliki satu keluarga yaitu keluarha Wibisana, sedangkan mereka juga hanya memiliki satu anak tunggal yang telah lama tiada, dan di gantikan oleh sosok Chiko.


"Jangan menangis (Chiko menyeka air mata beliau) meski saya bukan anak kandung mama tapi kasih sayang saya kepada mama dan papa tulus"


Ucapan itu membuat beliau semakin terharu hingga Chiko di peluknya "Terima kasih telah datang dalam kehidupan kami"


Di sisi lain ada Miska yang tengah duduk dalam pangkuan Alea, ia masih manangis sesenggukan karena di tinggal Chiko.


"Nanti kalau Om Andrian sudah selesai sama urusannya, dia pasti langsung menemui Miska percaya deh sama Ayah" Timpal Antony.


Hik, hik, hik, hik


"Tapi Om Ganteng kenpa tidak bilang sama Miska kalau dia mau pergi, Miska kan mau ketemu Om Ganteng dulu"

__ADS_1


Antony meraih tubuh kecil Miska, membawanya dalam gendongan lalu membelai rambut belakangnya "Miska anak baik, anak pinter, nggak boleh marah. Nanti kalau Om Ganteng udah pulang kita jemput ke bandara, Oke?"


"Nggak mau, Miska kesel sama Om Ganteng"


Alea berdiri mendekati anak dan suaminya "Miska kan sudah sembuh, nanti kalau Om Ganteng pulang Miska bisa main sama Om Ganteng kemana aja. Boleh naik kuda, boleh berenang boleh, main pasir. Pokoknya Miska bebaa main sepuasnya"


Seketik Miska mengusap air matanya "Bunda nggak bohong? Miska boleh main semau Miska"


Alea mengangguk. Miska pun memeluk Alea begitu juga sang Ayah.


"Tapi Miska harus paruh apa kata Ayah sama Bunda. Miska juga tidak boleh marah sama Om Anrian, Ayah nggak suka kalau bidadari Ayah suka marah. Pokoknya Ayah mau Miska jadi anak baik, patuh, dan sayang sama kedua orang tua." Tutur Antony.


"Miska juga harus minta maaf sama Om Andrian, karena Miska sudah marah marah tadi" Sambung Alea menasehati.

__ADS_1


__ADS_2