Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Menuju Sidang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Sidang kembali di gelar. Hari ini Alea sedikit merasa kurang enak badan. Tapi di paksaan untuk ikut serta. Seorang ibu akan beetaruh naywa demi seorang anak. Ia rela melakukan apa saja demi anak mereka.


"Are you sure?" Tanya Antony. Mereka baru saja masuk ke dalam mobil. Alea menatap dalam mat sang suami.


"Aku yakin. Demi Miska lautan api pasti ku sebarangi, gunung es pasti kan ku daki. Dalam hidup ini tidak ada kekuatan terbesar bagi seorang ibun adalah bertaruh segala hal untuk anak anaknya. Aku tidak akan bisa hidup lagi kalau sampai terpisah darinya." Menggenggam erat tangan Antony. Tanpa di tanya semua orang bisa tau kalau Alea tengah di lundung pilu. Seorang ibu bisa menjadi singa ketika anak anaknya dalam bahaya.


Salah satu tangan mengusap ujung kepala Alea "Kalau begitu kita betangkat sekarang. Yakinlah, Miska akan jatuh ke tangan kita berdua"

__ADS_1


Alea mengangguk seraya melihat wajah gadis kecilnya dari kaca spion mobil. Perlahan mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah. Lambaian tangan mungil itu membuat Alea semakin ketakutan. (Bagaimana kalau senyuman itu senyum terakhir yang ku lihat dari bibirnya? bagaimana jika lambaian tangan itu membuatku akan semakin jauh darinya." Menggit bibir bawah seraya terpejam sesaat. Rasa sakit itu sangat menyayat hati. Air mata pun akhirnya jatuh perlahan. Bayangan masa kecil Miska terlintas di benak Alea.


Sewaktu bayi ketika usia Miska baru menginjak usia sepuluh bulan, dia masih bayi cilik yang lucu. Pipi caby, mata bulat, dan hidung mancung. Seorang bayi kecil merangkak ke arahnya. sejak di dalam kandungan cinta Alea melebihi segalanya.


"Kamu sedang memikirkan apa?" Sebuah tangan memggapai pipi Alea "Sayang ku tolong jangan menangis, seolah pertanda kalau ketakutan kita akan menjadi nyata" Sembari menyetir mobil, Antony terus melirik Alea. Dia tau seberapa takut akan kehilangan sang buah hati. Meski bukan Ayah kandung tapi Antony sangat menyayanginya lebih dari apa pun.


Tatapan mata Alea tiba tiba berkaca kaca. Antony tak mau terlarut begitu dalam. Ia pun langsung melaju menuju pengadilan.

__ADS_1


"Dam, tolong kasih tau saya jam berapa kira kira sidang di mulai?" Chiko sudah berdiri mematung di parkiran bersama dengan Adam. Hari ini dia datang lebih dulu, sangking tidak sabar lagi ingin mengambil hak asuh Miska. Tersenyum seraya menggenggan sebuah telepon genggam "Dengan semua bukti ini, mereka tidak akan bisa menghalangi saya mengambil hak asuh Miska."


Adam melihat raut bahagis dari wajah Chiko. Sedari dulu sampai sekarang Chiko masih orang yang ambisius, setiap apa pun yang di inginkan akan berusaha ia dapatkan. Meski dengan cara apa pun.


Menepuk pundak Chiko "Saya yakin anda pasti memenangkan sidang ini" Keyakikan mereka di dukung kuat atas sebuah bukti rekaman suara dan beberapa lembar foto.


Beberapa jari yang lalu ketika Chiko datang ke rumah Alea, sengaja ia merekam semua percakapan mereka dan memotong beberapa bagian untuk memperkuat bukti di persidangan nanti. Tidak hanya itu, sebuah foto Miska tengah teejatuh di depan Antony ia dapatkan dari seseorang terpercaya. Meski hasil foto tidak seperti yang di duga, tapi setidaknya bisa membuat kalimat memojokkan bagi seorang ayah tiri.

__ADS_1


__ADS_2