Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Melarikan diri


__ADS_3

Malam hari di rumah sakit, Adam merasa lapar dan ia pun keluar sekedar cari makan. Sebelumnya ia membuat laporan kepada Chiko jika wanitanya tengah baik baik saja. Alea terlihat berbaring tertidur.


"Baru kali ini dia sampai mau repot ngurusin wanita..." Melangkah perlahan sambil meletakkan ponsel di saku celana.


Sebenarnya Alea tidak tudur, hanya berpura saja. Ketika di rasa Adam sudah tidak ada di luar, Alea pun berusaha berjalan sedikit demi sedikit.


"Awwh...." Lagi lagi kakinya tak mampu menopang tubuh mungilnya. Meski begitu Alea tetap ingin segera jalan. Di lihatnya sebuah tiang infus berada di dekatnya, segera ia meraih tiang tersebut lalu berdiri perlahan.


"Semua ini karena si otak bambu itu" Kesal Alea sembari terus belajar berjalan. Langkah kakinya di seret perlahan, rasanya sangat sakit. Alea meringis kesakitan. "Astaga, kenapa sakit sekali" Berhenti sejenak untuk mengambil nafas sesaat.


"Huh....aku harus berjuang sekuat tenaga"


Setelah beberapa kali menahan sakit akhirnya Alea bisa berjalan kembali meski belum sepenuhnya bisa.


Tibq tiba saja seseorang membuka pintu "Kamu..."


Alea pun melihat gerangan lelaki yang baru saja membuka pintu, dia adalah Chiko Hanggara


"Jangan nekat kamu" Ucap Chiko seraya meraih pinggang ramping Alea, kemudian membawanya kembali ke atas ranjang rumah sakit.


"Aku ingin bisa berjalan kembali" Lirih Alea


Chiko merasa iba melihat kondisi wanitanya. Meski ia sadar semua itu tidak akan terjadi jika dia mampu mengendalikan hasrat dalam dirinya.


"Kamu pasti bisa jalan lagi, tapi jangan terlalu di paksakan."


Alea merasa muak harus berpura pura manis di depannya, tapi apa boleh buat hanya itu satu satunya jalan untuk membuat Chiko tenang.


"Maafkan saya...." Entah apa yang terjadi sampai Chiko meneteskan air mata.


Alea merasa bingung apakah air mata itu sebagai gambar penyesalannya atau ada sesuatu di baliknya. Entahlah, yang paling penting sekarang adalah bagaimana dia bisa kabur dati cengkraman Chiko.


"Aku lapar" Ucap Alea sembari menguspa perut.


Chiko menguspa air mata lalu bangkit "Oke, kamu mau makan apa?"


"Kebab."


"Kebab? mana ada di sekitar sini makanan seperti itu"


"Ada. Di dekat resto tempat saya bekerja dulu, kebab di sana sangat enak dan tentunya murah"


Chiko memijat kening mengingat jarak yang harus ia tempuh lumayan memakan waktu yang lama.


"Kamu kira saya kekurangan uang sampai harus mempertimbangkan harga sebuah kebab. Yang jadi pertimbangan itu jaraknya bukan duitnya"

__ADS_1


"Kalau begitu nggak usah juga nggak apa apa" Alea membuang muka.


"Oke, oke, saya belikan demi kamu"


Segera Chiko keluar mencari sosok Adam yang tak di ketahui keberadaannya.


"Adam pake ngilang segala. Dia seharusnya jaga di sini bukan malah kabur kaburan" Mengambil ponsel di saku celana "Astaga, batrenya pake abis segala"


Terpaksa Chiko harus membelikannya sendiri.


Setelah lumayan lama Chiko keluar dari kamar, Alea pun kembali turun dari ranjang lalu meraih ponsel "Aku udah bisa jalan" Ucapnya kepada seseorang di telepon.


"Iya, aku tunggu jangan lama lama" Segera memutus panggilan telepon lalu berjalan menuju arah pintu. Perlahan Alea membuka pintu sambil mengintip adakah orang bayaran Chiko di luar.


"Sepertinya Aman" Alea pun kembali ke dalam kemudian mencabut selang infus di lengannya, tak lupa ia berganti pakaian sebelumnya.


"Kamu sudah siap?" Seseorang datang dengan penampilan aneh. Di malam hari seorang lelaki mamakai jaket kulit hitam, kaca mata hitam, dan topi warna hitam.


"Sudah" Alea meletakkan pinsel serta secarik kertas di bawahnya.


"Biaya rumah sakit sudah saya bayar. Tapi kamu harus pakai ini supaya tidak ada yang curiga. Takutnya di luar dia memata matai kamu" Melingkarkan selengdang di leher dengan menutup kepala Alea.


"Sudah kamu gandeng lengan saya biar nggak ada yang curiga." Segera mereka keluar dari rumah sakit tersebut.


Untungnya tidak ada seorang pun yang mencurigai mereka berdua. Akhirnya di lelaki membawa Alea pergi dari sana.


"Saya akan sembunyikan kamu di villa keluarga saya. Di sana kamu aman. Percaya sama saya" Sosok lelaki itu adalah Dokter Antony.


"Tapi...."


Antony menutup mulut Alea menggunakan jari telunjuk yang menempel di bibirnya "Sttt...kamu jangan banyak bicara. Yang terpenting sekarang kamu bisa keluar dulu dari cengkraman laki laki itu baru setelahnya kita cari jalan keluar yang lain"


Alea mengangguk. Ia sangat senang bisa lepas dari neraka jahaman itu.


Mobil melaju menuju sebuah tempat.


Setelah mendapatkan kebab yang Alea inginkan, Chiko segera muncur ke rumah sakit. Sesampainya di depan runah sakit, ia melihat sosok Adam tengah mondar mandir di sana.


"Ada apa, kenapa Adam teelihat panik" Segera Chiko melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil.


Melihat Chiko berjalan ke arahnya semakin membuat Adam panik.


"Ada apa? kenapa panik begitu" Tanya Chiko.


"Dia....dia,kabur"

__ADS_1


"Dia siapa?"


"Wanita itu..."


"Apa kamu bilang? dia kabur." Chiko berlari menuju kamar rawat Alea. Ketika pintu di buka sudah tidak ada lagi sosok wanitanya tersebut.


"Ssmua ini gara gara kamu (Mengacungkan jari tepat di wajah Adam) kemana saja kamu ini? saya tugaskan kamu untuk menjaga dia, kenapa dia sampai bisa kabur, ha?" Ucap Chiko dengan nada tinggi.


Adam menundukkan kepala "Maaf, pak. Tadi saya keluar sebentar untuk makan"


Chiko mendekatkan diri "Kenapa harus makan segala, tidak makan sekali saja tidak akan menbuat kamu mati, kan?" Emosinya kembali tersulut sampai ucapannya tidak bisa di kontrol kembali.


"Maaf, pak. Saya mengaku salah"


Chiko mengepakkan kedua tangan "Semua memang salah kamu...."


Buukkkk...


Satu pukulan keras mengenai wajah Adam.


"Pergi kamu sekarang juga cari di mana dia. Cepat...." Teriak Chiko.


"Baik, pak"


"Aaaaaaaa...." Di buanglah kebab di tangan kirinya sampai berserakan di lantai.


"Dasar tidak becus...." Sekarang giliran selimut di atas ranjang menjadi sasaran ketiganya. Chiko mengamuk setiap apa saja yang di lihatnya hancur berantakan. Suara dari semua benda di kamar itu membuat para medis mendatanginya.


"Tuan, tenang." Salah seorang mencoba membuat Chiko tenang. Tapi, dia malah menerima imbas dari amarah Chiko. Seorang perawat laki laki itu di pukul lalu di rodong keluar.


"Astaga dia itu sudah gila..." Laki laki itu berusaha bangkit sambil mengusap tepi bibirnya yang berdarah.


" Ada apa ini?" Semua orang berkerumun di depan ruangan tersebut menyaksikan kelakuan anarkis Chiko.


"Panggil keamaan"


"Kenapa kamu harus pergi...." Ketika Chiko hendak membanting gelas kaca di meja dekat ranjang, matanya tertujubpada ponsel dan secarik kertas. Ia melihat kertas tersebut yang ternyata berisikan cek senilai setengah miliyar dan surat kecil (Saya kembalikan uang kamu. Dan tolong jangan cari saya lagi. Selamat tinggal otak bambu)


Melihat semua itu Amarah Chiko semakin meluap. di lemparlah pinsel itu sampai hancur.


"Minggir kalian..." Teriak Chiko kala dirinya hendak keluar dari ruangan itu.


Banyaknya orang yang melihat kejadian itu tentu saja banyak dari mereka membuat opini di media sosial.


"Anda harus kami amankan" Ada beberapa anggota keamanan menangkap paksa Chiko kala di depan rumah sakit. Ia harus bertanggung jawab atas kerusakan yang di perbuat.

__ADS_1


"Lepas...." Dengan amarah membara tentu saja dengan mudah Chiko menghempaskan tubuh mereka ke tenah.


__ADS_2