Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Percikan rasa


__ADS_3

"Harusnya kamu pakai baju ibu hamil, bukan baju seperti ini" Protes Antony saat melihap dres selutut yang di kenakan Alea. Kehamilan Alea memang baru memasuki tiga minggu, tapi Antony nampak cemas karena di usia awal kandungan masih terlalu rentan dan lemah.


Alea memutar diri, melihat dari depan cermin.


"Dari depan perut ku masih langsing dari belakang juga masih cantik kok" Jawabnya sambil tersenyum tips di cermin kamarnya, saat itu Antony berada di depan pintu kamar Alea sekedar ingin melihat apakah Alea sudah siap atau belum, dan ternyata Alea sibuk merias wajah cantiknya.


Antony masuk sambil menggeleng kepala "Cantik sih cantik, tapi kamu juga harus memperhatikan si kecil. Jangan sampai dia terluka sedikit pun" Ia duduk di tepi ranjang sambari melihat Alea yang masih belum siap dengan ruasan wajahnya.


Alea menoleh ke arah Antony "Mas ini bawel banget ya, seperti seoeang ayah yang takut calon bayine kenapa kenapa"


Wajah Antony seketika jadi serius "Mamang dia anak ku, kan? sudah cepat dandannya keburu siang" Antony beranjak keluar dari kamar Alea.


Alea masih terdiam seribu bahasa.


"Alea....ayo cepat" Teriak Antony lantang.


Segera Alea menggelengkan kepala sambil memajamkan mata beberapa kali "Iya, iya, sebentar" Jawab Alea sembari meraih tas slempang kemudian berlari kecil.


Antony sudah menunggunya di dalam mobil "Cepat sedikit satu jam lagi saya harus ke rumah sakit"

__ADS_1


Dengan tergesa gesa Alea masuk ke dalam mobil "Iya, sabar sedikit napa" Protesnya sembari merapihkan dres yang ia kenakan.


"Ya udah tunggu apa lagi, ayo jalan"


Antony memegang keningnya sendiri sambil menguspnya perlahan "Dasar bundamil..." Lirihnya


Alea mendemgar ucapan Antony hingga membuatnya mengerutkan kedu alis "Apa bundamil?"


"Ibu muda hamil..." Gengan gemas Antony mencubit dagu Alea "Pasang dulu sabuk pengamannya lalu kita berangkat"


Setelah itu mereka berangkat ke rumah Dokter kandungan. Alea melihat Antony memperhatikan jam dan kaki kanan mengetuk di tanah berkali kali memperlihatkan kecemasan.


"Kamu kenapa, mas?"


Alea menyentuh tangan Antony yang menopang di atas pahanya "Mas tenang saja, aku bisa sendiri kok. Mas mending berangkat ke rumah sakit saja, itu sudah kewajiban mas sebagai seorang Dokter.." Jelas Alea.


Antony merasa sangat tersanjung melihat seorang wanita pengertian seperti Alea, yang bisa memahami kondisinya sebagai seorang Dokter.


"Tapi saya nggak tega ninggalin kalian sendirian. Kalau begitu biar saya suruh Parjo buat nemenin kamu, ya?" Segera mengeluarkan ponsel lalu hendak menghubungi Parjo.

__ADS_1


"Nggak usah, mas. Nanti aku pulang naik taksi online saja" Ucapnya sambil meraih lengan Antony.


"Nggak bisa kamu harus di temani Parjo titik" Karena takut terjadi hal buruk Antony pun tidak menghiraukan penolakan Alea, ia pun segera meminta Parjo untuk menemani Alea.


"Kenapa malah duduk lagi? kan Parjo udah meluncur ke sini" Heran Alea kala Antony kembali duduk bersamanya. Saat ini pasien di klinik Dokter Kandungan tengah ramai, jadi mereka masih menunggu beberapa orang lagi.


"Nunggu Parjo dateng baru saya pergi"


Alea menggelengkan kepala, baginya Antony adalah sosok laki laki idaman yang mampu mencintai dan menjaga pasangannya. Namun, di antara mereka belum terikat hubungan apa pun.


"Mas, kamu tenang saja. Pokoknya kamu cepat pergi kalau tidak aku ngambek" berbalik badan sembari melipat kedua tangan, wajah manyun Alea membuat Antony tersenyum bahagia, seakan sedang membujuk istri yang tengah merajuk.


"Nak, kamu jangan seperti ibu ya sayang" Dari belakang Antony memeluk serta mengusap perut Alea.


Sontak Alea terkejut, kedua tangannya memegang tangan Antony "Mas, malu di lihat orang" Bisiknya sembari melihat sekeliling orang tengah melihat mereka berdua.


"Sweet, banget sih mbak, jadi pengen di manja gitu deh mas" Sahut seseorng yanh duduk di kursi tunggu bersama dengan suaminya.


"Kamu sih..." Ucap Alea kepada Antony.

__ADS_1


"Lha kok jadi saya yang salah..." Protes Antony. Belum sempat Alea berucap ponsel Antony berdering, ia pun segera menjauh dari Alea. Dari kajauhan terlihat Antony sedikit panik dan berkali kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Alea pun bergegas menghampiri Antony dengan menyentuh pundaknya lalu mengangguk. Kode itu di tangkap Antony "Baiklah, saya akan segera ke sana." Dengan masih bicara di telepon Antony mengusap kepala Alea kemudian menciumnya. Antony bersikap sebagai suami Alea meski itu hanya reflek saja tanpa di sengaja.


Ketika Antony sudah pergi, Alea masih mematung sambil menyentuh keningnya.


__ADS_2