
Beberapa hari kemudian...
Tiba hari di mana Chiko kembali ke negara A. Meski ada sedikit perdebatqn antara Ayah angkat dan dirinya, beliau yidak ingin Chiko kembali ke negara A sebab, mereka tidak mau ada kejadian buruk menimpa diri Chiko. Pernah kehilangan sosok putra kandung membuat mereka semakin enggan melepas kepergian Chiko, di tambah Chiko akan berpindah pekerjaan di Negara A, tumpah darahnya sendiri. Namun, Chiko berjanji sampai kapan pun mereka akan tetap menjadi keluarganya. Keputusan Chiko memberatkan mereka berdua sampai sang Ibu angkat meminta beberapa persyaratan darinya. Pertama Chiko akan sesering mungkin mengunjungi mereka setidaknya sekali dalam tiga bulan, kedua mereka berhak mendatangi Chiko di negara A, ketiga meski sejatinya Chiko bukan putra kandung mereka tapi meteka ingin dia selalu menjadi putra mereka, ke empat Chiko harus menjadi pewaris tunggal keluarga Wibisana. Persyaratan itu lantas di setujui oleh Chiko.
"Saya pergi dulu...." Keduanya melepas kepergian Chiko di bandara. Lambaian tangan Chiko membuat sang ibu kembali menangi.
Dalam pelukan suaminya ia curahkan kesedihan itu "Biar pun dia bukan anak kandung kita tapi saya sangat menyayangi dia" Lirihnya dalam dekapan sang suami.
Sebenarnya berat juga melapasnya pergi, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak sebab iru yang di inginkannya.
"Dia itu Andrian anak kita, lebih baik kita pulang dulu. Biarkan dia memenangkan hati putri kecilnya lalu dia pasti kembali pada kita"
Setelah badan Chiko tak terlihat lagi mereka bergegas meninggalkan tempat. Sebelum itu nyonya Wibisana sempat beberapa kali menoleh ke belakang berharap Chiko kembali kepada mereka. Tapi, semua itu tidak terjadi sampai sang suami membawanya menuju mobil.
"Jangan menangis ...." Ucapnya sembari menyeka air mata sang istri.
Di sisi lain Chiko sangat behagia akhirnya dia akan kembali ke Negara A dengan waktu yang lama. Dia akan berjuang mendapatkan kembalu Anak dan wanita tercintanya itu.
"Saya akan mendapatkan kalian kembali" Ucapnya sambil melebarkan senyum.
__ADS_1
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan udara, sampailah dia di bandara Negara A.
Sebelumnya dia lebih dulu meminta Adam menuju bandara untuk menjemput kedatangannya. Setelah menunggu sejam lamanya tibalah Adam. Mereka berdua menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Tentu saja Chiko membelikan banyak mainan baju, dan aksesoris lainnya tidak lupa dia juga meminta Adam membeli apa saja untuk kedua ponakan cilik Chiko itu. Namun, Adam menolak bukan karena tidak suka modelnya hanya saja sudah banyak mainan yang Chiko belikan untuk kedua putranya.
"Pokoknya saya bilang beli ya beli" Ujarnya sambil memilih mainan di depan mata mereka.
"Eh, lihat itu bukannya Pak Adam?"Seorang wanita melihat keberadaan Adam di sana.
"Iya, itu pak Adam. Lalu siapa laki laki di sebelahnta itu? sepertinya pak Adam segan sekali padanya, masa iya pak Adam mau membawakan keranjang belanjaan berisikan barang barang Chiko.
"Kita samperin aja yuk" Mereka berdua mendekati keduanya dengan berpura pura memilih mainan di sana juga. Mereka berdua sebenarnya adalah salah satu pekerja di sebuah stasiun televisi.
"Nggak usah lah, anak anak mainannya udah banyak banget"
"Udah ambil saja, toh mainan itu bukan buat kamu tapi buat kedua ponakan saya. Itung itung belajar jadi ayah yang baik buat anak anak saya nantinya" Di tepuklah pundak Adam sembari melebarkan senyum.
Adam membalas senyum "Terima kasih untuk semuanya"
Ucapan Adam terdengar sampai ke telinga kedua wanita di sebelah mereka, tentu saja ini berita panas. Segera mereka menggeser langkah lalu mengeluarkan ponsel, mengambil potret keduanya.
__ADS_1
"Astaga, apakah laki laki itu...." Segera mereka menulis sesuatu di ponsel mereka lalu mengirimnya kepada editor stasiun televisi tempat mereka bekerja.
"Sepertinya sudah cukup" Melihat setumpuk mainan di keranjang membuatnya menyudahi perbelanjaannya hari ini.
Mereka berdua menuju kasir. Setelah selesai mereka keluar dari mall itu, betapa terkrjutnya meraka saat banyaknya media menghadap di depan pintu Mall.
"Apa apaan ini?" Ketus Chiko kala mereka menghadang jalan.
"Pak apakah benar anda itu Chiko Arya kusuma?"
Pertanyaan itu menbuat Chiko dan Adam bertukar pandang.
"Kalau benar kenapa wajah anda berbeda, pak?" Lagi lagi para media mendesak mereka berdua demi mengungkap keberadaan Chiko selama ini.
"Bukan, saya bukan orang yang kalian sebutkan. Saya adalah Andrian Wibisana" jelasnya sambil terus berjalan, di ikuti banyakkan wartawan.
"Tapi kami mendapatkan informasi dari seseorang bahwa....."
"Stop...." Teriak Chiko sambil mendorong salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Minggir kalian, jangan hadang jalan kami" Seru Adam sembari berjalan ke arah mobil.