Hilangnya Kesucian Alea

Hilangnya Kesucian Alea
Bertemu Antony


__ADS_3

Setelah berkeliling cukup lama Antony tidak menemukan putrinya. Rasa takut kehilangan menyelimuti hati, setiap sudut taman telah ia putari tapi dia belum bisa menemukannya.


"Miska......" Tetiak Antony.


Samar samar Alea mendengar suara suaminya, segera ia berlari mencari asal suara tersebut. Taman bermain di sana cukup luas di tambah pengunjung di akhir pekan sangat ramai. Banyak anak kecil bermain di sekitar sana.


"Mas Anton, itu suaranya tapi dia di mana" Alea berbalik ke belakang, menoleh kanan dan kiri. Taman di sana banyak di tanami tumbuhan yang rimbun serta tamanan hias lainnya, itu membuatnya kesulitan mencari putri dan suaminya. Di tambah lagi banyaknya pengunjung berlalu lalang juga banyaknya anak kecil berlarian.


"Coba aku telpon dulu..." Alea mengambil ponsel di dalam tas slempangnya.


"Kenapa pake mati segala sih" Kesal Alea saat melihat ponselnya sudah tidak menyala lagi.


Alea pun berlarian mencari sumber suara yang tadi sempat ia dengar "Miska....kamu di mana nak" Ia berteriak mencari sosok putrinya lagi.


Di saat ini Miska tengah makan es krim bersama Chiko di depan sebrang jalan taman. Mereka berteduh di sebuah mini market sambil makan es krim dan beberapa makanan ringan. Betapa bahagia Miska saat itu bisa makan apa pun yang ia mau tanpa di larang.


"Miska mau beli lagi?" Tawar Chiko.


Sambil makan camilan dia tersenyum ke arah Chiko "Nggak Om ganteng nanti Miska di marahin Bunda" Tutur Miska.


"Jangan takut nanti Om bilangin sama Bunda kamu. Masa makan jajan saja nggak boleh....ayo sayang di makan lagi es krimnya" Sambil meraih es krim di atas meja lalu menyuapi.


"Maem....enak kan sayang"

__ADS_1


Miska pun mengangguk. Tak berapa lama mereka selesai. Miska di gendong olehnya menyebrangi jalan.


"Ayah...." Dari kejauhan ada suara memanggil namanya, suara itu terdengar tidak asing, seketika itu Antony berbalik badan.


"Miska........" Damar berlari menuju arah Miska. Dia tengah di gandeng seorang laki laki.


Tubuh mungilnya di peluk erat oleh seorang laki laki yang di anggap ayahnya itu, dia tidak tau jika Antony hanyalah ayah angkatnya saja. Ayah biologisnya saat ini ada di dekatnya. "Syukurlah, nak. Kamu tidak apa apa kan?" Mengecek badan Misak dari depan ke belakang dari atas sampai ujung kaki.


"Miska baik baik saja, Yah. Tadi Miska hanya...." Belum sempat Miska berucap, Antony memeluknya lagi. Dekapan kedua tangan Antony sangat erat hingga membuat Miska kesulitan bergerak.


"Kenapa kamu membuat Ayah panik, nak. Tolong jangan lakukan ini lagi, atau Ayah bisa sesak nafas nanti."Ujarnya dengan masih memeluk Miska.


Chiko menatap laki laki itu dengan tajam, ternyata orang yang di panggil Ayah adalah Dokter Antony. Dia adalah Dokter yang menangani Alea kala di rumah sakit, tapi kenapa bisa dia di panggil ayah oleh Miska. Pikiran Chiko mulai meruncing, hatinya pun memanas. Kedua tangannya mengepal erat. Bagaimana bisa dia menikahi wanitanya, sedangkan Alea kabur dari rumah sakit setehari setelah bertemu Dokter Antony.


"Miska....." Dari belakang melintas Alea dengan cepat, membuat angin menerpa lehernya. Chiko melepas kembali amarahnya.


"Iya, Bunda. Miska janji nggak buat Ayah sama Bunda sedih lagih, Miska janji"


Mereka bertiga saling berpelukan, menyisakan luka mendalam dalam hati Chiko. Rasa cemburu terus mengusai diri, sampai ia berbalik badan dan mengeratkan kedua rahangnya. Merasa sudah tidak nyaman ia pun memilih bergegas pergi.


"Om ganteng mau kemana?" Tiba tiba saja Miska menghentikan langkahnya. Sebelum berbalik, Chiko berusaha menarik nafas dalam lalu memejamkan mata sejenak untuk mengontrol emosinya.


"Om...." Tangan kecil Miska meraih tangannya. Sekali lagi Chiko harus meluruhkan emosinya demi gadis kecil itu.

__ADS_1


"Hey kenapa sayang?" sambil tersenyum palsu Chiko meraih tubuh mungil Miska, membuatnya dalam gendongan Chiko.


Antony melihat keduanya dengan heran, pasalnya baru pertama kali ia melihat sosok laki laki yang menggendong putrinya tersebut. Tapi, kalau di lihat dari wajah keduanya sepertinya mereka sangat akrap, pandangan mereka juga terlihat mendalam.


"Dia saipa?" Tanya Antony pada sang istri.


Alea mendekap lengam suaminya "Miska bilang dia tetangga sebelah villa kita, mas." Jelasnya.


"Miska sini nak" Antony mengambil alih tubuh kecil Miska lalu menggendongnya.


"Lain kali kalau mau mengajak anak orang ijin dulu jangan main pergi saja. Kalau sampai anak saya kenapa kenapa apa kamu mau bertanggung jawab" Antony memarahi Chiko karena ia sangat ketakutan tadi.


Cih....sok sekali dia


Chiko masih berpura pura tersenyum "Maaf, tadi Miska minta es krim jadi saya langsung bawa dia. Saat kami mau minta ijin sama Bundanya, tapi sepertinya dia sedang telepon seseorang. Karena jaraknya tidak jauh saya mengajak Miska pergi beli dulu" Jelas Chiko membela diri.


"Setidaknya tunggu sampai istri saya selesai apa tidak bisa?" Antony semakin geram hingga nada tinggi ia lontarkan.


"Ayah kok marahin Om Ganteng, dia tidak salah tapi Miska yang maksa buat beli es krim. Lagian kata Ayah Miska boleh makan es krim hari ini" Miska membela Chiko di depan kedua orang tuanya. Seakan mereka mempunyai ikatan batin yang kuat.


"Miska diam kamu" Tanpa sengaja Alea membentak putri kecilnya.


"Kalian jahat...." Miska pun berontak dalam gendongan Antony sampai ia merosot lalu berlari sekuat yang ia bisa.

__ADS_1


"Miska...." Anyony hendak menghentikannya tapi Chiko menarik lengannya.


"Biar saya coba bujuk dia" Chiko pun mengejarnya.


__ADS_2