
Penjelasan Chiko tidak berarti lagi bagi Alea. Sebagai seorang wanita simpanan dia tau jika posisinya serba salah. Akhirnya Alea meminta Chiko keluar dari ruangan. Dengan perasaan bersalah Chiko pun keluar. Ia berdiri di samping pintu kamar Alea. Badannya terbenuur di tembok sembari kelapa menggongak melihat langit langit. Entah apa yang saat ini ia rasakan.
"Arghhh..." Ia memukul dinding berulang kali sampai setiap orang yang berlalu lalang di sekitar menatap dirinya. Chiko tidak perduli lagi apa kata orang, saat ini dia telah di landa kebingungan.
Drttt...
Ponselnya bergetar, segera Chiko mengangkat telepon itu. Tidak lama kemudian Chiko meminta Adam untuk mencari seseorang untuk menjaga Alea di rumah sakit, sadar jika diri Alea terancam. Kikan bisa berbuat nekat kalau dirinya tersakiti, apa lagi pihak keluarganya pasti akan mencari celah untuk melukai diri Alea.
"Masalah apa lagi yang dia lakukan" Dengan wajah panik Chiko segera melajukan kendaraan menuju suatu tempat.
"Apa salah ku di lahirkan ke dunia? kenapa aku harus menjadi wanita simpanan. Kenapa harus aku yang jadi pihak ketiga, aku nggak mau jadi hama di dalam hubungan mereka" Alea berusaha melepas jarum infus di tangannya. Setelah jarum terlepas, ia menurunkah kedua kaki berusaha berdiri.
"Aaaw...." Terasa sakit dan perih di sela sela kedua paha. Gempuran sadis membuatnya sulit berjalan.
"Aku harus bisa melarikan diri darinya...." Mencoba berdiri kokoh terlebih dahulu kemudian berjalan perlahan. Meski terasa sakit tapi Alea tetap melangkah perlahan.
"Alea...." Seseorang tiba tiba masuk. Dia adalah Dokter Anrony. Saat ini dia tidak memakai seragam kerja lagi sebab jam kerjanya telah usai. Sebelum pulang dia ingin mengunjungi Alea sejenak.
"Kamu mau ngapain?" Dengan sigap Antony meraih lengan Alea lalu kembali membawanya ke tepi ranjang.
"Tidak, jangan hentikan aku. Aku nggak mau di sini lagi."Berusaha turun dari ranjang namun apa yang terjadi setelahnya, Alea terjatuh.
"Alea, jangan keras kepala" Ucap Antony seraya membantunya berdiri.
"Awww...." perutnya terasa kram dan ada rasa sakit luar biasa.
"Tenang Alea jangan panik, kamu baring dulu" Antony segera memeriksa Alea, karena rasa sakitnya membuat Alea menggelinjang kesakitan. Sesaat setelah Antony memberikan usapan halus di bagian perut rasa sakit pun berkurang.
"Jangan banyak gerak dulu, kamu itu harus banyak istirahat. Oh iya, di mana suami kamu?"
Alea membuang muka, ia sangat malu untuk mengakui lelaki itu sebagai seorang suami, karena mereka memang bukan suami istri.
Antony melihat ada hal yang di sembunyikan Alea darinya "Kenapa diam? apakah saya salah bicara?"
"Dia bukan suami ku"
Ucapan itu sontak membuat Antony terkejut "Bagaimana bisa seperti itu? bukankah dia bolang kalau kalian suami istri"
"Lebih tepatnya dia membeli ku dari Ayah. Aku di jual oleh Ayah ku sendiri demi uang, aku di jadikan simpanan olennya(Chiko). Setiap saat dia selalu menyiksa ku tanpa henti. Aku ingin mati saja. Untuk apa hidup jika dunia ku telah hancur" Air mata Alea mengalir begitu saja.
Antony meletakkan tangan di kepala Alea "Jangan pernah putus asa dengan kehidupan. Kalau kamu mau saya bisa bantu kamu melarikan diri darinya."
Alea menatap wajah Antony "Benarkah? kamu mau membantu ku kabur dari dia"
__ADS_1
Antony mengangguk.
"Tapi syaratnya kamu harus sehat dulu biar bisa berjalan tegak. Nggak mungkin dong kita kabut tapi kamunya belum bisa jalan, di kiranya saya nyulik kamu" Tersenyum sembari menyeka air mata di pipi Alea.
Sanhking senangnya Alea memeluk Antony "Terima kasih..."
Jantung Antony berdegub kencang, wajahnya memarah. Setelah sekian lama ia tidak merasakan sentuhan wanita. Bukan dia tidak laku tapi dia menutup diri setelah kepergian Andira.
Ya, dulu Antony mempunyai rasa untuknya. Tapi, cinta itu belum sempat di utaran.
"Ehem...." Terdengar seseorang berdehem.
Keduanya segera melihat sosok tersebut. Seorang lelaki berdiri di depan pintu.
Si lelaki tersebut melangkah mendekati Alea "Perkenalkan, saya Adam Wijaya. Asisten pribadi Tuan Chiko Hanggara. Beliau mengutus saya untuk menjaga Nona Alea." Jelas lelaki tersebut.
Awalnya Adam hanya mengutus anak buahnya untuk menjaga Alea, tapi setelah di pikir lebih panjang lagi, Adam tidak mau kecolongan jadi dia memutuskan untuk turun tangan.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Kamu cepat sembuh ya" Mengusap kepala Alea lalu beranjak pergi.
"Makasih, Dok" Lirih Alea sembari melempar senyum.
Adam memicingkan sebelah mata, ia merasa aneh dengan mereka. Mana ada hubungan pasien dan Dokter sampai sedekat itu.
*Apakah mereka saling kenal atau?
"Saya tidak perlu di jaga, saya bukan tahanan" Ucap Alea sembari menbuang muka. Ia kesal di perlakukan seperti seorang tahan.
Adam tau bagaimana berasaan wanuta ini. Tapi, apa boleh buat dia di gaji untuk patuh perintah sang atasan yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Maaf, saya hanya menjalankan perintah" Tuturnya sembari berdiri tegap di samping ranjang Alea.
"Terserah apa kata kamu. Tapi, saya terganggu dengan adanya kamu di sini."
"Baik. Kalau begitu saya jaga nona di luar" Adam berbalik badan hendak malangkah pergi.
"Katakan sama sia kalau saya tidak butuh perlindungan darinya. Tidak perlu sok jadi pahlawan jika dia pula yang menciptakan lawan"
Ucapan Alea ada benarnya. Adam tersenyum baru kali ini ada seorang wanita menolak mentah perhatian dari orang penting seperti Chiko. Dalam dunia bisnis siapa tidak mengenal Chiko Hanggara. Seorang yang sukses dan banyak memiliki saham di mana mana sampai ke manca negara.
"Maaf, saya hanya di perintahkan untuk menjaga. Kalau masalah yang lain ada baiknya nona sampaikan sendiri" Segera Adama keluar dari ruangan tersebut, berdiri si samping pintu sambil memegang ponsel.
"Tenang, nak. Jangan gegabah buang pisau itu" Semua orang panik kala Kikan mengancam akan bunuh diri dengan memutus urat nadi di tangannya.
__ADS_1
Ayah Chiko terus mencari cara supaya calon menantunya tidak berbuat nekat.
"Pokoknya aku mau cepat di nikahkan sama Chiko, kalau tidak aku bakal bunuh diri di tempat ini" Semakin di larang Kikan semakin mengancam, bahkan tangannya sudah tergores.
"Aaaaaa...." Mama Gita teriak kala melihat darah menetes ke lantai.
"Sayang, tolong nak jangan nekat. Kita bicara baik baik ya sayang" Mencoba mendekati Kikan.
"Stop. Jangan mendekat atau..." Sambil menekan pisan itu, otomatis Mama Gita mundur. Meski dia tidak suka dengan tingkah Kikan tapi saat ini sosok keluarga Kikan sangat penting dalam bisnis mereka di luar negri.
"Oke, oke. Kami akan menikahkan kamu secepat mungkin. Tapi, buang dulu pisaunya" Ucap Papa Hanggara selaku calon ayah mertuanya.
Kikan menatap kedua orang di depan matanya tersebut "Kalau kalian bohong lihat saja apa yang bisa saya lakukan sama keluarga kalian"
"Kikan, Cukup!" Datanglah Chiko dengan wajah antagonisnya.
"Kalau kamu mau mati nggak usah pake ngacem segala." Sigap berani Chiko merebut pisau itu lalu membuangnya.
"Kenapa? kamu mau aku mati supaya kamu bisa sama cewek murahan itu" Kikan meninggikan suara sampai Chiko mengepalkan kedua tangan.
Malihat reaksi sang putra, mama Gita lekas menghampirinya sembari menguspa pundak putranya tersebut.
"Sudahlah, kita bicarakan dengan baik baik"
Setelah mereka bicara di ruang keluarga akhirnya Kedua orang tua mereka memberi tau bahwa pernikahan mereka akan di percepat. Tentu saja Chiko menolak.
"Nggak bisa, ma. Nikah itu butuh persiapan nggak bisa seperti ini. Pokoknya saya belum siap" Chiko bangkit dari duduknya.
"Oke, kalau kamu nggak mau nikah sama aku. Kita lihat apa yang akan terjadi sama perusahaan kamu" Lagi lagi kikan mengancamnya.
"Nak, Kikan. Jangan begitu kita bicara dulu baik baik." Papa Hanggarameraih lengan sang calon menantu membawanya kembali duduk.
"Sayang, sabar dulu. Jangan marah seperti ini" Mama Gita juga menenangkan hati Kikan.
"Cukup. Mam. Saya itu bukan sebuah alat pencetak uang kenapa kalian terus mendorong saya untuk menikah dengan dia"
Papa Hanggara murka melihat kelakuan putranya. Ia pun bangkit lalu menampar Chiko...
Plak...
"Ikut, papa" Menyeretnya masuk ke dalam kamar kosong di sudut ruangan.
"Ma, pokoknya Aku mau nikah sam Chiko secepatnya. Titik" Manja Kikan di bahu sang calon ibu mertua.
__ADS_1
Sembil mengusap kepala Kikan "Kamu pasti segera menikah sama dia. Tapi jangan nekat kaya gini lagi ya"
Sebelumnya Kikan sudah menceritakan tentang wanita yang ada di rumah sakit itu. Tidak tinggal diam kedua orang tua Chiko mengirim orang untuk menyelidiku siapa wanita itu.