
Setelah melihat Badan Antony hilang dari pandangan, segera Chiko membuka amplop tadi lalu membcanya.
"Astaga...." Terlihat Chiko membungkam mulutnya sendiri.
Adam berpikir kalau Chiko kecewa, dia pun mengusap pundak lengan sahabatnya "Sabar ya, meski dia bukan anak biologis kamu, tapi kamu bisa menyayanginya seperti sedia kala"
Chiko lantas menggelinjang kegirangan "Bukan seperti itu, karena hasilnya adalah" Menunjukkan hasil tes DNA. Adam tercengang dengan apa yang ia lihat, benar saja Miska adalah anak kandung Chiko.
"Saya harus segera memberitahu Miska kalau saya adalah Ayah kandungnya, bukan si Dokter itu" Di saat Chiko hendak pergi, Adam menghentikannya dengan beberapa alasan. Adam ingin Chiko menyembunyikan semuanya karena dia takut jika nanti Alea tau bahwa Andrian Wibisana adalah Chiko Arya kusuma adalah orang yang sama hanya wajah mereka berbeda. Adam juga memberitahu dengan kemungkinan kemungkinan besar yang nanti akan membuatnya semakin jauh dari putri kandungnya. Sebisa mungkin Chiko harus menutupi identitasnya kalau tidak semua akan kembali seperti dulu lagi, di mana dia kehilangan cinta. Tidak hanya itu kemungkinan besar dia juga kehilangan Miska.
"Jadi menurut kamu saya harus diam saja melihat anak kandung saya menjerit kesakitan seperti itu?" Chiko mulai memperlihatkan sisi egoisme tanpa berpikir lebih panjang lagi.
__ADS_1
Adam menghembuskan nafas berat, sungguh susah mengatasi seorang Chiko.
"Makasud saya tidak seperti yang kamu pikirkan...." Adam membisikkan sebuah rencana.
Sepertinya Chiko mulai mrmahami rencana itu "Bagus juga ide kamu, lalu bagaimana cara saya melakukan itu"
"Kamu tenang saja, saya akan mencari jalan keluar yany aman. Kalau begitu saya pamit dulu ada meering satu jam lagi di kantor" Adam pun bengkit.
Chiko sangat berterima kasih atas bantuan Adam selama ini, tanpa dirinya semua tidak akan berjalan lancar "Makasih kamu selalu ada saat saya butuh kamu"
Chiko bangkit lalu menepuk pundak Adam "Saya sudah menganggap kamu seperti adik saya sendiri"
__ADS_1
Mereka saling berpelukan sebelum keduanya kembali terpisah.
Di dalam ruang rawat, Alea terus mengusap kepala Miska yang tengah tertidur. Air matanya tak kunjung reda, tatapannya mengisahkan luka mendalam. "Andai kamu tidak lahir dri rahim Bunda, pasti kehiupan kamu tidak menderita seperti ini, Nak.(Air matanya seketika tumpah ruah) Kalau Bunda bisa memutar waktu, satu yang Bunda ingin putar lagi yaitu kamu tidak pernah lahir dari rahim Bunda" Penyesalan Alea bukan karena tidak mau menerima anaknya slait sakitan, melainkan ingin anaknya tidak menderita seperti saat ini. Menurut pemikirannya kalau Miska lahir dari rahim orang lain, mungkin dia tidak akan menderita seperti saat ini.
Tanpa Alea sadari ada sosok Chiko di belakangnya, mendengar semua ucapan Alea. Hatinya ikut tersentuh, air matanya pun jatuh.
"Jangan pernah menyesali kelahiran seorang anak, karena bukan salah dia lahir dari siapa tapi Tuhan ingin melihat seberapa besar cinta seorang ibu kepada putrinya"
Seketika Alea menolek ke belakang melihat sosok laki laki tinggi besar menghampirinya, ia menguspa air mata yang jatuh di pipi. "Eh, Tuan Andrian. Sudah lama datang?" Alea bangkit.
Chiko mendekati ranjang Miska lalu menyentuh kening anak itu "Jangan pernah sesali kelahiran seorang anak, sebab dia akan merasa sakit kalau mendengarnya. Di tambah lagi tidak baik berkata seperti itu, anak adalah anugrah Tuhan. Jangan patah semangat, kita cari jalan terbaik untuk anak kita" Ucap Chiko sembari terus mengusap kepala Miska dan sesekali menciumnya.
__ADS_1
Alea terkesiap mendengar sebuah kalimat "Kita? anak kita? maksudnya bagaimana?"
Chiko memejamkan mata sadar bahwa dia kelepasan bicara.