
Bebetapa hari kemudian ada perjalanan bisnis ke negara A. Chiko merasa bimbang jika harus kembali ke negara itu untuk waktu yang tidak di tentukan. Masa lalu yang telah lama di kubur rapat karus kembali dalam kehidupan Chiko. Perusahaan membutuhkan dirinya mewakili sebuah rapat besar di negara A, keberangkatan tinggal satu hari lagi tapi Chiko masih belum mengambil keputusan.
Tok tok...
Beberapa kali pintu di ketuk, tidak ada respin dari dalam membuat Vans masuk begitu saja karena Asisten Chiko bilang dia ada di dalam.
"Kamu yakin dia di dalam?" Tanya Vans pada sekertaris Chiko.
Anin (Asisten Chiko)merasa bingung karena memang atasnya masih di ruangan.
"Saya yakin beliau masih di ruangan. Pasalnya baru beberapa menit yang lalu saya mengantar file ke dalam" Dengan yakin Anin menjawab apa yang ia lihat.
Vans menatap pintu kayu di depannya "Masa dia nggak dengar" Kembali pintu di ketuk, tapi masih saja tidak ada reapon.
"Biar saya coba, Tuan" Pintu kembali di ketuk cukup keras "Sepertinya Beliau terlalu sibuk, jadi fokusnya tidak bisa di bagi. Saya yakin beliau masih di dalam. Dari pagi Beliau tidak leliar ruangan, Tuan. Atau beliau sedang istirahat" Ucap Anin mengira ira.
Nggak mungkin dia istirahat di jam seperti ini...
Atau jangan jangan, dia...
"Kamu kembali ke meja, biar saya cek di dalam" Tanpa tunggu lama Vans pun masuk. Ketika pintu di buka di lihatnya sosok Chiko berdiri tegak di sisi jendela, tengah memandang ke luar. Apa lagi yang mengganggu pikirannya kalau bukan tentang wanita itu. Sejak pertama kali Vans bertemu dengan teman kecilnya, tidak ada hari tanpa kesedihan. Hawa dingin menyelimuti wajahnya, dan hati yang beku karena kesakitan masa lalu.
" Ehem...." Vans berdehem tapi masih saja Chiko diam "Dasar batu..." Lirih Vans sambil menutup pintu ruangan kembali.
__ADS_1
"Siang, Tuan" Ucap Vans keras.
"Eh, iya..." Lamunan Chiko buyar dengan nada keras dari Vans. Tentu saja ia menoleh lalu melempar senyum karena dirinya baru saja di prank sahabatnya sendiri. Tidak hanya sahabat, Vans juga pemilik perusahaan itu.
"Hahaha....lagian ngapain sih Lu diem aja gue panggil dari tadi. Kaya batu tau nggak" Ejak Vans.
"Sorry deh, soalnya lagi banyak pikiran nih"
Vans menghampiri Chiko sambil memberi salam persahabatan. Kedua kepalan tangan keduanya saling menyatu.
"Masih bingung mau berangkat atau tidak?" Vans menyentuh pundak sahabatnya. Saat ini Chiko berdiri di depan jendela kantor,entah apa yang saat ini ia pikirkan "Andrian, Andrian, Masalah bisnis lo paling juara, tapi masalah kecil gini aja lo udah nyerah"
Tatapan mata Chiko seolah memperlihatkan tatapan ketidak sukaan. Vans pun memalingkan wajah " Tapi, ya terserah kamu aja deh, atau lebih baik ikuti kata hati saja, beres kan" Dengan santai Vans melipat kedua tangan sembari kembali melihat wajah Chiko ke. Di lihat dari tatapan matanya sudah jelas ada keraguan, tapi di balik diamnya terselip keinginan yang kuat. Selama mereka mendirikan perusahaan di Belana, tekat Chiko begitu kuat sampai ia rela mati matian demi berdirinya perusahaan impiannya itu. Baru kali ini Vans melihat ketidak berdayaan seorang Mr Park. Sosok pemimpin yang di takuti lawan main dalam dunia bisnis.
"Sepertinya saya tidak bisa melakukan perjalanan bisnis ini, ada beberapa hal yang harus di pertimbangkan"
Vans sudah menduga semua itu.
"Mau sampai kapan kamu menghindar dari masa lalu kamu itu? semakin kamu menghindarinya maka semakin dalam juga luka itu. Sudah empat tahun lamanya kamu menghilang, kini waktunya kamu kembali dengan wajah baru, identitas baru, dan kehidupan baru. Untuk apa kamu bersembunyi di balik kegelapan kalau kamu sendiri takut gelap." Vans berjalan menuju meja kerja Chiko, membuka laci di meja tersebut lalu mengeluarkan sebuah foto.
"Buktinya sebenci apa pun kamu dengan wanita ini tetap saja fotonya masih kamu simpan di sini, sama halnya dengan cintanya yang masih kamu jaga sampai saat ini. Nggak usah ngelak dari kenyatan lebih baik hadapi dari pada sembunyi. Buktikan kalau kamu adalah Andrian wibisana, bukan Chiko Arya Kusuma." Melibatkan keluarga untuk membuat Chiko kuat dalam menghadapi masa lalunya.
Tidak sepantasnya menghindai masa lalu, karena tidak akan pernah datang masa sekarang tanpa adanya masa lalu. Tidak akan terciptanya kamu sekarang tanpa lahirnya kamu dahulu.
__ADS_1
Chiko masih diam. Ia pun duduk si meja kerjanya sembari merebut foto Alea dari tangan Vans "Bukan saya sengaja menyimpannya tapi lupa untuk membuangnya" Di lemparlah foto itu sampai tenggelam di tempat sampah.
Vans tersenyum sembari menggeleng kepala "Meski kamu bakar sekali pun foto ini, saya jamin kamu nggak akan bisa membunuh dia dari hati kamu."
Kedua tangan Chiko mengepal.
"Jangan pernah ungkit masa lalu saya kalqu kamu tidak tau bagaimana sakitnya hati saya saat melihat dia bersama laki laki lain. Lebih baik kamu diam." Wajah garang Chiko mulai terlihat, seliruh wajah memerah dan mata melotot.
"Sabar dong Bro, jangan main ego mending kita bicara dengan logika. Lo nyebelin kalau udah nyangkut ego"Siapa tidak kesal melihat sabahatnya hilang akal setiap kali membicarakan tentang sosok Alea.
Chiko melampiaskan amarahnya pada diri sendiri, ia mengacak rambut saking kesalnya "Aaargh"
Vans menepuk pundak Chiko
"Sekarang terserah kamu mau pergi atau tidak, itu keputusan kamu "
Chiko diam seribu bahasa.
Vans kembali memungut foto Alea dari dalam tong sampah "Jangan kamu buang foto ini karena hanya ini yang kamu punya tentang dia" ketika badan nenunduk, Vans di hentikan oleh Chiko "Letakkan kembali foto itu..." Dengan Nada Tinggi.
Vans tersenyum puas, ia sengaja memancing amarah Chiko "Bukankah kamu sudah membencinya, lalu kenapa kamu marah? saya hanya menyentuh gambarnya bukan fisiknya"
Bukkkkkk...
__ADS_1
"Jangan asal bicara kamu" Benar saja Chiko tersulut emosi. "Saya akan buktikan jika saya bisa membencinya." Dengan amarah meluap luap, Chiko pergi meninggalkan Vans yang masih di dalam.