I Love You Jessica

I Love You Jessica
Kalau dia berjodoh denganmu, kamu mau?


__ADS_3

Sesampainya didepan kontrakan, Faris turun dari mobil disusul oleh Jessica. Ada Bagas yang sudah menunggunya didepan pintu dan sedang senyum-senyum sendiri melihat Faris diantar oleh wanita cantik dan tentunya sangat menggoda.


Sungguh demi apa? Bagas sebagai laki-laki normal tentu sangat tertarik dengan Jessica. Apa yang dilihatnya dianggap sedang mendapat rezeki nomplok. Kedatangan bidadari seksi dikontrakan. Paha berkulit putih mulus dan parfum yang sangat enak menyeruak masuk kedalam hidungnya. Otaknya langsung bergerak cepat membayangkan hal-hal yang sedikit ngeres. Saringan mana saringan?


"Aku ngga boleh masuk ya?" Tanya Jessica.


"Sebetulnya boleh, tapi ini sudah malem Jess, nanti--"


"Nanti jadi fitnah!" Potong Jessica segera, bola matanya memutar keatas. Hafal sekali dengan jawaban itu. Faris hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Makasih ya, sudah diantar sampai sini. Kamu berani kan pulang sendiri?" Tanya Faris dengan sopan.


"Aku ngga takut sama begal, aku malah lebih takut sama kamu." Jessica mengembalikan kata-kata Faris saat berada ditengah jalan tadi. Faris mati kutu dan kalah telak mendengar jawaban itu. Asem!


"Oh iya sampai lupa, kenalin ini adikku. Namanya Bagas." Tunjuk Faris pada Bagas yang sudah merasa jadi obat nyamuk sejak tadi. Segede itu dianggap tidak ada. Bagaspun sangat antusias mengulurkan tangannya.


"Bagas." Senyum Bagas merekah menjabat tangan wangi Jessica.


"Jessica."


"Ya sudah aku pulang dulu ya," Jessica berlalu dan masuk kedalam mobilnya dan keluar dari gang meninggalkan dua laki-laki yang sedang berargumen.


"Apa senyum-senyum?" Bagas sedang mencium bekas jabat tangan Jessica yang menurutnya meninggalkan aroma harum ditelapak tangannya.


"Masih terasa aromanya Mas, halus saat aku menjabat tangannya wangi, hmmm menenangkan. Ini adalah aroma terapy alami menenangkan jiwaaa yang dapat mengantarkan tidurku supaya merasa nyaman dan nyenyak."


Bagas merem-merem sendiri masih dengan mengendus tangannya, ngga tau Faris sudah meninggalkannya sendirian dipintu. Saat Bagas membuka mata, "loh mas! Asem! Aku dari tadi ternyata ngomong sendirian."


Dilihatnya Faris keluar dari dapur untuk mengambil nasi, sayur dan lauk. Tak lupa Faris menaruh sambal banyak-banyak dan lalap tentunya. Meletakkan piring dimeja, lalu melepas jaket dan mulai melahap makanan.


"Aku ngomong malah ditinggal sendirian." Faris tak menghiraukan ucapan Bagas, dia masih fokus makan dengan lahap karena perutnya benar-benar sudah keroncongan.


"Tadinya aku dah mau nyusul kesana Mas, tapi pas mesen ojek malah dicancel. Mungkin takut aku ini hantu kali ya. Pesen ojek malam-malam." Ucap Bagas mendudukkan badannya disofa depan Faris.


"Sudah nggak apa-apa Gas. Yang penting aku dah nyampe sini. Kamu sudah makan? Kok nasinya masih banyak."


"Udah Mas, memang hari ini aku masaknya lumayan banyak sih." Bagas mengubah duduknya dan senyum-senyum jail menatap Faris. Faris pun menatapnya balik, seolah-olah sedang bertanya 'ada apa?'


"Hehehe cewek tadi itu siapa Mas? Kok kayaknya udah akrab banget. Ingat dah punya Aisyah, eghh mending buat aku aja..." Ucap Bagas mesam-mesem menginginkan. Faris langsung menghentikan makannya.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa, hanya teman." Jawabnya santai. "Kalau memang dia mau denganmu ya tidak apa-apa Gas."


"Apa dia berdagang?" Tanya Bagas menyelidik.


"Aku ngga mengenalnya sampai sana. Mudah-mudahan sih engga."


"Oh berarti baru kenal yah."


"Udah beberapa kali pertemuan sih..."


"Tapi menurut dari pandangan mata laki-laki kaya Mas Faris, Jessica berdagang apa ngga?" Tanya Bagas lagi.


"Manusia susah ditebak, walaupun kadang mereka bilang tidak, tapi belum tentu seperti itu. Ya kalaupun begitu, bukan urusan kita juga sih."


"Iya Mas. Kalau seandainya Mas berjodoh dengannya bukan dengan Aisyah, Mas mau?"


"Apapun takdir yang Allah berikan pada kita, kita harus senantiasa menjalani dengan ikhlas. Mungkin kalau jodohku seperti itu ya memang sudah rezekinya. Harus ikhlas."


"Itu rezeki yang baik yah, hihihi.."


"Baik darimananya, kan menikah itu memikul tanggung jawab yang sangat berat. Kalau Jessica seperti itu artinya PR'ku semakin banyak."


Faris membayangkan jika istrinya seperti Jessica, minum minuman keras, merokok seenaknya sendiri, berpakaian minim dan yang pasti banyak dilihat dan dinikmati oleh banyak laki-laki buaya. Oh tidak-tidak, Faris langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalian mirip! Yang mirip-mirip itu biasanya berjodoh." Jawab Bagas sekenanya. Kalau Faris fikir-fikir mirip dari segi apa? Bertanya dalam hati.


"Teori darimana kalau mirip itu jodoh."


"Dari kata orang-orang yang ngga sengaja aku dengar."


"Gitu aja dipercaya. Ya sudah aku mau mandi dulu abis itu tidur Gas, jangan terlalu malam. Nanti susah bangun subuhnya."


"Iya siaap."


***


Satu hari kemudian, mobil Faris telah kembali dengan keadaan yang sudah sehat, alias diserfis full. Entah berapa semua biaya itu. Jessica bersikekeh untuk menolak biaya gantinya. Faris jadi semakin tidak enak pada gadis itu yang sudah sering memberinya bantuan.


Dan hari ini, Faris memutuskan untuk menyalakan aplikasi mulai menerima orderan. Satu hari tidak bekerja membuat badannya kaku. Bagas sudah berangkat limabelas menit yang lalu. Kini giliran dirinya yang sedang terburu-buru mencari jaket dikamarnya karena ponselnya sudah berbunyi tanda orderan masuk.

__ADS_1


Tok tok tok


Ahkkk... Tamu datang disaat yang tidak tepat. Dengan berat hati, Faris membuka pintu. Dan ternyata tamu itu adalah Aisyah yang sudah rapi dengan baju kerjanya. Mau minta diantar?


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam.."


"Mas, aku mau berangkat kerja." Benar dugaannya.


"Mas lagi buru-buru ada yang order. Aisyah berangkat sendiri saja, kita beda arah..." Tolak Faris dengan lembut. Ada sedikit kekecewaan dihati Aisyah yang membuat wajahnya mendadak lesu.


"Apa mas tidak bisa meng'cancelnya? Aku udah beberapa hari kerja, mas ngga pernah mau ngantar aku..."


Oh iya Tuhaan, saat sedang buru-buru seperti ini malah ada yang merajuk. Ini masih pagi, Faris merasa malas kalau harus berdebat dengannya.


"Tolong mengerti mas Aisyah..." Huuftt bingung menghadapi perempuan. Kan diantar sama Faris atau bukan sama saja. Yang penting nyampe kesana.


"Kapan Aisyah ngga mengerti sama mas? Haaah? Kenapa sih, malah mas semakin menjauh dari Aisyah... Apa mas sudah ngga cinta lagi dengan Aisyaah...??"


Karena Faris tak kunjung jalan, orderanpun dicancel dari pihak pemesan. Padahal, itu rezeki pertama Faris. Faris menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar meredam emosinya. Berupaya bersikap setenang mungkin.


"Iya sudah, ayo Mas antar."


Aisyah tampak sangat antusias senyum tercetak dibibirnya dan segera membuka pintu mobil.


Selama diperjalanan, Faris hanya fokus mengemudi. Tidak ada niatan untuk melirik Aisyah yang berada disampingnya sedang menggerutu kesal karena sejak tadi belum diajak berbicara. Iya, memang dia sifatnya kekanak-kanakan. Dulu pada saat baru mengenalnya belum seperti ini, tapi lama kelamaan malah mulai terlihat sifat aslinya.


"Mana tempatnya?" Tanya Faris datar.


"Jessica buotique." Ucap Aisyah, membuat Faris mengeryitkan dahi. Nggak salah lagi, butiknya Jessica, batin Faris. Faris langsung membelokkan mobilnya dan menelusup keparkiran.



"Mas langsung pergi?" Tanya Aisyah, mereka saling berpandangan dan Faris menganggukkan kepalanya.


"Boleh aku cium tangan?" Pinta Aisyah.


"Belum boleh Aisyah.." tolak Faris halus.

__ADS_1


Aisyah langsung murung dan segera membuka pintu lalu menutupnya keras-keras. Faris tidak terlalu memikirkan perubahan mendadak pada Aisyah. Baginya dia sudah terbiasa seperti itu, nanti juga pasti deketin dia lagi kalu butuh. Begitu pikirnya.


Hmm kenapa Aisyah malah bekerja disana? Secara pasti Faris dan Jessica akan saling bertemu karena sering mengantar Aisyah. Kenapa Tuhan malah semakin mendekatkan dirinya dengan Jessica. Faris bertanya-tanya sendiri didalam hati.


__ADS_2