
"Mas Faris."
Jessica masih kelu dengan panggilan barunya. Awalnya memang geli, tapi lama-lama malah terdengar lebih dekat dan mesra.
"Apa sayang!"
"Bantuin aku dong, minyaknya nakal nyiprat-nyiprat nih!" Jessica sedang belajar menggoreng ikan. Faris tertawa saat Jessica melempar ikannya ke wajan karena takut panas. Alhasil minyak terciprat mengotori dapur bersihnya.
"Bukan gitu caranya, nanti banyak belajar lagi sama Bik Wena ya..."
Jessica menarik nafasnya kecewa, "kayaknya aku nggak becus masak deh. Cuma goreng ikan aja aku nggak bisa." Jessica sudah hampir menangis pasrah.
Faris mendekati istrinya dan mengusap air mata yang baru saja luruh. "Jangan berkecil hati Je, Mas nggak akan menuntutmu lebih. Hari kita masih panjang, kamu baru belajar sekarang. Jangan khawatirkan apapun, apalagi sampai kamu menangis seperti ini. Jangan..."
Jessica mendongakkan wajahnya. "Huu... Aku.. Aku... Aku bisanya cuma bikin onar doang! Giliran cuma beginian aja nggak bisa. Padahal itu tugasnya perempuan."
"Sshh... Coba kita belajar lagi ya, kita masak sama-sama okay??"
Jessica melihat Faris memotong bawang dengan lihainya. Lihat Jessica baru motong aja langsung kena pisau. Benar-benar ngeselin kalau didapur itu banyak siksaannya. Malah bawangnya bikin perih mata lagi. Berbagai kendala dialaminya.
__ADS_1
Jessica iri sama Faris, dia benar-benar kalah sama laki-laki. Oke next Jessica akan belajar agar memasaknya lebih pintar daripada Faris, harus.
"Hmm... Capcaynya enak." Jessica mengecap-ngecap rasanya. Ternyata masak sendiri itu sesuai selera yah.
Banyak masakan yang di buatnya bersama dengan Faris. Dia nggak pernah keberatan kapan pun Jessica memerlukan bantuannya.
"Kita makan bareng yuk,"
"Mas ajak Bik Wena sama security sekalian kita makan sama-sama. Mereka harus mencicipi masakan pertamaku." Ujar Jessica semangat.
"Ya sudah, Mas panggilkan Bibik dulu biar semuanya masuk."
Beberapa menit kemudian mereka memenuhi ruang makan. Ini kali pertama mereka makan bersama seperti ini. Sudah berpuluh-puluh tahun Bik Wena baru duduk makan bersama majikannya. Siapa lagi kalau bukan Faris. Dia adalah pengaruh baik dari segala hal. Dimanapun dan kapanpun.
Jessica kadang merasa tidak pantas berdampingan dengan Faris jika mengingat siapa dirinya. Tersenyum tipis, mulai hari ini Jessica niatkan dalam hati, akan memutuskan untuk berhijab mantap. Jessica ingin setia mengabdi bersama Faris sampai akhir hayatnya tanpa keraguan. Faris terbaik yang pernah dia miliki. Papi William benar-benar tahu mana yang terbaik untuk anaknya.
***
"Ya Allah zaujati, kamu cantik... shalehaku.." Faris tersenyum haru, sudut matanya merembes air mata melihat istrinya yang anggun mengenakan hijab.
__ADS_1
"Benarkah ini istriku?" Faris masih belum percaya, "tolong cubit pipi Mas sayang... Apa Mas sedang bermimpi?"
"Cubit aja sendiri!" Jessica menjawil hidung Faris sampai memerah.
"Nakal ya, awas nanti bisa dihukum!"
"Biarin! Wlee..."
Jessica diantar ke toko oleh Faris. Semua karyawannya terkejut penuh kekaguman melihat penampilan baru majikannya. Caca nggak nyangka, majikan terpecicilannya memakai hijab. Tubuh mulus yang biasa terpampang dengan baju kurang bahan kini tertutup sempurna. Benar-benar takjub.
Allah Maha berkehendak sekeras apapun hati manusia...
"Ya Allah cantiknya Bu Jessica..." Puji Caca dan karyawan yang lain.
"Makasih, mulai hari ini aku akan pakai hijab terus! Doain aku semoga istiqomah ya..."
"Aamiin..." Jawab mereka bersamaan.
Alhamdulillah.
__ADS_1
....
Maaf baru bisa up segini aja, lain kali banyakin lagi. Mata sama pikiran udah nggak kuat melek. Apalagi kalau udah bau kasur begini ditambah hujan rintik-rintik. Ada suami juga, huuwwaaahh ya sudah! Sampai ketemu di up-up selanjutnya...