I Love You Jessica

I Love You Jessica
Lahirnya Haikal khizam ubaidilah


__ADS_3

Kebahagiaan tidak selalu diukur dari materi. Pada kenyataannya, hidup sederhana malah lebih bahagia tanpa beban pikiran yang berat dan pusingnya membayar cicilan. Orang yang hidup lebih sederhana, akan lebih banyak punya waktu yang bersama dengan orang yang dicintai.


Rumus hidup berkah itu mudah. Bergayalah sesuai isi dompet kita, dan itu benar adanya. Pasangan Faris dan Jessica mendapatkan porsi yang sesuai dalam hidupnya. Inilah yang disebut hidup penuh berkah, Jessica baru tahu arti hidup yang sesungguhnya setelah menjalaninya hidupnya bersama Faris saat ini.


Dua bulan sudah mereka menjalani kehidupan ditempat yang baru ini, tak jarang Jessica harus memutar otaknya agar bisa berhemat demi keberlangsungan hidupnya kedepan.


Faris takjub kepada semua perubahan Jessica. Dia begitu menikmati perannya sebagai seorang istri. Siapa yang tidak kenal dengan masa lalu Jessica. Jika seseorang melihat dia yang sekarang, pasti akan menggeleng. Luar biasa keshalehannya. Dia sekarang adalah istri yang patuh, yang tutur katanya lemah lembut. Serta sangat menjaga ucapannya.


"Dorr!!"


Faris tersentak dan tersadar dari lamunan saat istrinya menggertak dirinya.


Jessica tertawa kecil, lalu berujar "kenapa sih Mas, ngeliatin aku sambil melamun?"


Faris lantas tersenyum, menggenggam tangan Jessica dan menciumnya sebagai perwujudan rasa syukurnya. "Mas bangga padamu, kamu istri yang shaleha. Terimakasih sayang, kamu tinggalkan orang tuamu demi aku. Kamu tinggalkan kekayaan yang kamu punya demi ikut dengan suamimu. Kamu begitu sabar menjalani hari-harimu yang baru, padahal hidup bersama Mas, mungkin hanya cukup untuk makan saja. Langkahmu diridhoi oleh Allah sayang, surga seorang wanita setelah menikah terletak pada suaminya."


"Memangnya aku senang hidup kayak gini, aku gak senang! Aku gak ikhlas dapat suami kayak kamu Mas," Elaknya, lalu dia membelakangi.


"Kamu kalau dilihat dari belakang cantik deh, kamu seksi." Begitulah Faris, dia hanya menyikapi semua dengan santai dan sabar. Faris tidak pernah marah.


"Isshh! Mesum!"


"Ayo sini balik badan, masa suamimu dipunggungi. Nggak baik memunggungi suami." Faris menjeda ucapannya, memegang pundak Jessica. "Mas ingin mengajakmu membeli persiapan baby born." Bisiknya ditelinga, kandungan Jessica sudah masuk bulan ke delapan. Mereka sudah menyicil keperluannya mulai dari sekarang.


Mendengar itu Jessica langsung tersenyum senang dan berbalik badan. "Bener?"


"Iya,"


"Oke kalau gitu Mas Faris tunggu disini, aku mau ganti baju." Ucap Jessica sambil beranjak berdiri.


"Pakai sepatu yang nyaman, nanti jalanmu gak susah. Jalan kita bakalan panjang."


"Iya Mas!"


Semua perempuan itu paling suka diajak belanja, batinnya.

__ADS_1


***


Sesampainya di Mall, wanita yang dulunya gila belanja itu kini harus menelan salivanya kasar. Kadang ada keinginan yang ingin dibelinya, tapi…


"Capek gak? Kalau capek kita istirahat, kita makan dulu." ujar Faris, ditangannya sedang mendorong troley belanja yang sudah hampir penuh.


"Tanggung Mas, dikit lagi."


Wanita itu beralih ke tempat kaos kaki bayi, memilih-milih modelnya disana. Bulan lalu saat di USG, dokter mengatakan anaknya laki-laki. Jadi Jessica menghindari warna-warna yang lebih soft perempuan. "Sepertinya, warna biru harus lebih banyak." Gumamnya.


"Alas sudah, baju panjang atau pendek udah, celana-celana udah, bedong juga udah semua. Sudah deh tinggal bayar Mas,"


"Bener?" tanya Faris meyakinkan.


"Iya bener…"


"Kamu duduk disini, biar Mas yang bayar."


Jessica kemudian duduk menunggu Faris menuju ke kasir. Setelah Faris membayar, mereka kemudian menuju ke foodcourt untuk memesan beberapa makanan berat.


"Nggak ada, kayaknya udah selesai."


"Nafas kamu semakin sesak saja," Faris melihat Jessica yang dari semenjak dia makan terlihat kurang nyaman.


"Iya namanya juga orang hamil kan begitu. Uuhhh…. Sakiit… sakiitt...perutku kok sakit.. uuh..."


Faris langsung beranjak dari kursi dan mendekati istrinya. "Kenapa sayang?"


"Sakit perutku, melilit rasanya."


"A-apa sudah waktunya?" Ucap Faris panik. "Kita kerumah sakit sekarang ya?"


Jessica mengangguk.


Faris memapah istrinya pelan-pelan menuju ke lobby. Di dalam lift, banyak orang yang merasa iba. Ada juga yang suka rela membawakan belanjaannya sampai mau menunggu Jessica saat Faris mengambil mobilnya di basement.

__ADS_1


Di dalam mobil Faris terus mengingatkan istrinya untuk terus beristighfar.


"Uuhhhh… " tangan Jessica mencengkram kuat pegangan pintu mobil saat kontraksi datang. Rasa sakit itu datangnya semakin sering. Wajahnya meringis kesakitan.


"Sebentar lagi ya Je, bentar lagi sampai. Terus beristighfar," Faris terus menoleh kesamping. "Ya Allah, darah, ada darah!!" Faris semakin panik saat melihat cairan bercampur darah yang membasahi bagian bawah gamis berwarna peach yang Jessica kenakan.


"Je, je !! Jangan pejamin mata kamu Je?!" Teriak Faris, "ini sudah mau sampai cuma seratus meter lagi kok Je…"


Mobil sudah sampai di depan IGD rumah sakit, seorang suster yang berjaga di sana langsung menangani Jessica. Membawanya dengan bed rumah sakit.


"Tolong istri saya sus," ucap Faris lemah. Dia terlalu bingung untuk melakukan apa.


"Baik bapak, tunggu disini sebentar. Nanti kalau sudah pembukaan sempurna saya panggil ya Pak."


"Baik sus…"


Ruangan kemudian tertutup. Faris segera ke mushola untuk melakukan shalat dzuhur dan berdoa memohon keselamatan baik istrinya maupun bayinya.


***


"Alhamdulillah…"


Beberapa jam kemudian Faris langsung bersujud setelah melihat bayi mungilnya yang berjenis kelamin laki-laki itu keluar dari tubuh istri tercintanya. Bayi itu dinamai Haikal khizam ubaidilah.


Bayi mungil tersebut kini berada di dekapan dirinya setelah di adzani olehnya. Ternyata wajahnya adalah miniatur dirinya, tapi bibirnya bibir Jessica. Faris terkekeh, pasti kalau besar nanti akan jadi cowok berbibir seksi, pikirnya.


"Kok ketawa-ketawa Mas Faris?"


"Bibirnya, bibir kamu banget. Coba deh lihat." Faris lalu mendekat menunjukkan kemiripan bibirnya. "Ayo, buka kancing bajumu. Mas bantu agar dia bisa secepatnya minum ASI."


Bayi itu langsung mencari-cari put*ng ibunya, suara-suara rengekan kecilnya membuat mereka merasa gemas, lalu mereka mengecup puncak kepala gundul itu berulang-ulang.


"Terimakasih atas perjuanganmu sayang, terimakasih karena sudah mau menjadi ibu untuk anak-anakku…" Faris lalu mengecup kening istrinya. Senyum merekah di bibir keduanya meskipun kebahagiaan sesungguhnya belum mereka dapatkan. Yaitu tentang William.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2