I Love You Jessica

I Love You Jessica
Apa kau tidak ingin memelukku?


__ADS_3

Seorang laki-laki yang hampir putus asa itu menelusuri sungai tempat lokasi kejadian. Dia menjelajahi desa-desa dan rumah-rumah terdekat untuk mencari keberadaan istrinya. Satu teman yang setia mendampinginya. Bagas, mereka berdua berpencar dan bertemu di satu titik yang mereka sepakati.


Faris, sesekali mampir ke warung-warung sekedar singgah sambil mengeluarkan ponsel berwallpaper gambar istrinya. Mencari-cari jawaban, meskipun setiap orang yang dia tanyakan selalu menjawab dengan gelengan kepala. Faris belum menyerah.


Setelah beberapa jam berkeliling, dia menghentikan langkah kakinya disatu persinggahan seperti panggok. Mereka tinggalkan motor mereka ditempat yang tidak jauh dari situ.


Merasa lelah Faris duduk menepi saka dinding, menghembuskan dan menghirup udara segar. Memasok udara kedalam rongga paru-parunya. Tapi tatapan matanya nanar. Ia meratapi nasibnya yang malang. Ya, laki-laki berdada bidang itu kembali menjatuhkan air matanya. Faris juga pernah jatuh cinta. Tapi dia tidak pernah merasakan cinta yang sedalam ini. Bukan karena kecantikan Jessica, bukan karena tubuh moleknya, bukan karena kulit putih mulusnya, bukan karena uangnya, bukan karena apapun.


Jika kematian memang terjadi, kenapa pencari tidak bisa menemukan jasadnya. Jika dia masih hidup? Kemana dia berada? Kenapa masih menjadi misteri.


Setitik petunjuk hanya sungai itu, jurang itu. Menurut informasi, Jessica lari dengan tergesa. Jessica tidak membawa ponselnya atau membawa apapun, kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya. Tetapi, Faris terus menyimpan harapan. Jessica masih selamat, Jessica pasti akan menghubunginya. Dia adalah wanita satu-satunya yang hafal nomor teleponnya.


Ooh, jadi begini ya rasanya kehilangan istri? Faris baru tau. Ternyata lebih pedih dari siksaan apa saja. Kehilangan harta benda dan tidak punya apa-apa tidaklah menyedihkan, sama sekali tidak. Tapi kehilangan istri adalah guncangan yang hebat, yang membuat isi hatinya terasa kosong melompong.


Sudah dua hari ini, semua orang-orang William dikerahkan untuk mencari petunjuk keberadaannya. Tapi, percuma. Nihil. Orang-orang desa malah menggugunya, meremehkannya. Mereka bilang 'mana mungkin' ! Manusia yang jatuh dari atas sana tak mungkin selamat. Jatuh ke sungai besar itu, pasti sudah tenggelam atau terbawa arus. Dan bila raga itu jatuh ke dasar kedalam sungai, entah sudah menjadi apa. Ini sudah lebih dari seminggu.

__ADS_1


"Shalat ashar yuk Mas, kita berdoa dulu. Aku yakin perasaan kita akan lebih baik." Bagas menepuk punggungnya pelan, entah sedari kapan temannya sudah berada di dekatnya. Membuat Faris sedikit terlonjak, rupanya dia sedang melamun.


"Aku memanggilnya dari tadi," gumam Bagas.


"Terima kasih Bagas, kamu mengingatkanku. Ayo kita cari Masjid terdekat." Ucapnya lemah. Keduanya lalu bergegas mencari Masjid terdekat.


"Ini sudah malam Mas, bagaimana kalau kita cari besok lagi. Kasihan Khizam juga Mas, dia dibawa Caca ke Butik. Mas harus pikirkan anak Mas juga.  Mas masih punya Khizam, jangan sampai Mas sakit. Dia sangat membutuhkanmu." Faris mengangguki saran Bagas meskipun ia masih ingin mencari.


***


"Aaaa.. aaa….aaa.."


"Kau sangat tampan!" Pujinya.


"Tuan," panggil Faris.

__ADS_1


"Panggil aku seperti biasanya nak," jawab William melembut.


"Maaf Pi, saya titipkan Khizam kesini terlebih dahulu. Bik Wena yang akan--" Belum selesai berbicara, William memotong pembicaraannya. Karena William tahu arah pembicaraan Faris kemana.


"Aku yang akan mengurus cucuku nak. Biar dia tinggal disini, dia akan mendapatkan perhatian lebih dan fasilitas yang sangat memadai, untuk sementara waktu jika kamu bepergian."


"Ya, hari-hari selanjutnya saya akan pergi mencari istri saya."


"Carilah, kakiku tidak bisa lagi berdiri tegak untuk mencarinya. Bawa pergi juga orang-orang ku untuk membantumu." William masih berada di atas kursi roda. "Jangan khawatir, kau boleh ambil Khizam kapanpun. Aku takkan membatasinya, aku mengerti. Karena dia satu-satunya yang kamu miliki saat ini."


Faris tertegun, dia sempat terdiam beberapa saat ketika William mengucapkan kata-katanya barusan.


"Apa kau tidak ingin memelukku?" Sambung William, satu tangan kanannya direntangkan karena tangan kirinya sedan menggendong Khizam.


Faris tak bisa berucap, dia langsung mendekat dan memeluk laki-laki angkuh di depannya dengan rasa haru. Satu masalah sudah selesai, kebenaran sudah terkuak. Hati sudah damai. Hanya satu yang masih Allah sembunyikan, bidadarinya...

__ADS_1


__ADS_2