I Love You Jessica

I Love You Jessica
Menyuruhnya menikah lagi


__ADS_3

William dan Faris tengah duduk ditaman belakang, mengamati pergerakan Khizam yang sedang main pasir. Anak itu tidak bisa diam barang sebentar. Semua mainan yang ada di depannya pasti di hambur.


"Persis seperti Jessica kecil, sama-sama seperti orang cacingan yang tidak mau diam." Ucap William sambil tertawa, membuat Faris menoleh.


"Benarkah Pi?"


"Iya, dia akan diam kalau sudah terjatuh dan menangis." William tersenyum membayangkan putri kecilnya yang dulu tumbuh ceria di keluarga yang lengkap. 


"Apa kamu tidak ingin mencari pengganti ibu untuk Khizam?" Ucapan William lantas membuat Faris memfokuskan pendengarannya. Gak salah kan?


William memang orang yang selalu to the point tanpa basa-basi.


"Dia sangat membutuhkan sosok ibu Faris, kamu tidak boleh memikirkan merasa tidak enak kepadaku, pikirkan masa depan anakmu. Kamu juga laki-laki yang masih muda, aku tahu kamu butuh wanita untuk melepaskan hasrat." William sangat mengerti keadaan itu. "Tapi aku tidak memaksamu, hanya memberikan saran."


Apa-apaan ini? Seorang mertua malah menyuruhnya menikah lagi.


Faris terkekeh, keinginan menikah lagi memang masih ada. Tapi tidak segampang itu menghapuskan rasa cintanya pada wanita yang sudah melahirkan anaknya. "Akan aku pikirkan Pi, doakan yang terbaik. Mudah-mudahan Faris bisa menemukan istri yang baik untuk Khizam."


"Juga untukmu."


Faris menggeleng. "Sepertinya kalau untuk saya sendiri, butuh waktu lebih lama lagi."


"Kamu bisa menyiksanya kalau begitu."


"Itu yang sebenarnya aku khawatirkan Pi, tapi Faris tetap tidak boleh memikirkan diri sendiri. Faris akan pertimbangkan lagi, Faris akan tetap memikirkan Khizam."


***

__ADS_1


"Bik Wena akan pulang?"


"Iya Den, Bibi sudah setua ini. Bibi sudah harus pensiun, ingin menikmati hari tua di kampung bersama cucu-cucu di rumah…"


Selama ini memang Bik Wena yang merawat Khizam. Hanya beliau yang Faris percaya, berarti kali ini dia harus mengurus keseluruhannya sendiri. Sebelum ada orang yang bekerja lagi dirumah ini.


"Baiklah Bik, saya tidak akan menahannya. Terima kasih sudah membantu saya dalam menjaga anak saya. Tapi, apa bibi punya saudara yang bisa bekerja disini?"


"Walah den, keluarga mah banyak. Tapi kalau cari yang mau kerja gak ada, sudah telpon ke kampung kemarin."


"Oh iya sudah nanti saya cari sendiri saja di yayasan. Bibik mau pulang kampung kapan?"


"Rencananya besok."


"Tuan William sudah tau?"


Faris tersenyum, sindiran halus itu namanya. "Iya syukurlah."


"Ayah…" panggil Khizam kemudian anak itu mendekat dan merentangkan tangannya.


"Ada apa nak?"


Bibi lalu pamit ke belakang.


"Katana teman hijam, hijam ga punya bunda?" Rengek anak itu, dia anak yang pintar yang bisa menangkap dan terus mengingat ejekan teman-temannya.


Sudah berulang kali Khizam menanyakan hal itu, tapi tetap saja Faris selalu bingung menjawabnya. "Punya, tapi bunda sudah berada di surga. Bilang saja sama mereka, bunda sudah bahagia disana."

__ADS_1


"Hijam mau ikut aja ayah, hijam mau sama bundaaaa huaaaaa hwaaa! Hijam mau sama bunda," Khizam menangis, rupanya dia iri melihat teman-temannya yang selalu dimanja oleh ibundanya di depan matanya.


"Ssshhh… makanya anak ayah harus sholeh biar Khijam ketemu sama bunda ya,"


Khizam terdiam. "Kalau sholeh bisa ketemu bunda?"


"Iya dong sayang, Khizam harus jadi anak sholeh biar bunda senang lihat Khizam."


"Memangnya bunda bisa lihat hijam?"


"Bisa, tapi Khizam tidak melihat."


"Kapan kita bisa lihatnyaa? Kok bundanya ga muncul-muncul,"


Faris tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya lebih jauh, dia coba mengalihkan pembicaraan. "Kita main diatas yuk, kita main apa ya yang seru?"


Anak itu lalu mengalihkan fokus, kemudian tampak memikirkan sesuatu. "Ayah, hijam mau gambar kaya kakak rumi ajarin di kompek."


"Oh ya, gambar apa?"


"Bikin gunung sama sawah.."


"Oh pemandangan..."


"Iya Yah..."


Keduanya masuk ke kamar dan membuka lembar kertas kosong. Memulai menggambar pemandangan. Pemandangan yang indah mulai dari sekarang. Ya, Faris memikirkan hidupnya kedepan. Dia akan mulai membuka hati.

__ADS_1


__ADS_2